Kesiapan Petani menghadapi revolusi 4.0

Gulat Manurung : Jangan merusak semangat Masyarakat untuk membangun perekonomian

Gulat Manurung : Jangan merusak semangat Masyarakat untuk membangun perekonomian

MEDAN, RANAHRIAU.COM- Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung  memberikan paparan tentang kesiapan petani menghadapi revolusi 4.0 di Santika Dyandra Hotel Medan, Selasa (08/10/2019).

Perkembangan zaman dari era konvesional ke era digital berkontribusi untuk kemajuan petani. Khususnya para petani sawit disejumlah daerah di Indonesia. Namun yang menjadi penghalang adalah ketersediaan jaringan untuk memaksimalkan teknologi. 

Hal itu dipaparkan oleh Ketua Umum, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Medali Emas Manurung dalam salah satu sesi di Indonesia Internasional Palm Oil Conference 2019 yang diselenggarakan di Santika Dyandra.

Gulat menuturkan bahwa saat ini petani sawit merupakan petani yang berkembang sesuai dengan zaman. Petani sudah memanfaatkan sejumlah kecanggihan tekonologi untuk mengembangkan pertaniannya. Baik dari segi pengelolaan lahan maupun pengembangan pasar. 

“Jadi tidak ada yang perlu diragukan untuk petani dalam menghadapi revolusi 4.0. Justru yang menjadi kendala saat ini adalah ketersediaan jaringan internet dalam penerapan sejumlah palikasi yang berkaitan dengan petani sawit,” jelasnya. 

Gulat menuturkan bahwa petani saat ini adalah petani milenial dan bukan peningalan kolonial. Karean petani sawit saat ini sudah merupakan petani generasi ketiga yang melakukan pengelolaan lahan dengan kemajuan ilmu dan teknologi. 

“Setiap generasi memiliki sistemnya, contohnya dulu petani menjual sawit dengan harga yang ditetapkan pengumpul. Sekarang sawit dijual dengan menyesuaikan harga secara online. Selain itu informasi untuk perekembangan dan pengelolaan lahan juga sudah diakses dengan digital. Jadi petani sudah lebih baik,” jelasnya. 

Yang harus diperhatikan saat ini menurut Gulat adalah regulasi yang kerab merugikan petani. Contohnya aturan penjualan sawit. Termasuk penolakan pembelian sawit hasil panen dari lahan yang disebut kawasan hutan. 

Hal itu menurut Gulat sangat tidak tepat, karena petani sawit adalah petani yang mengelola lahan dengan baik untuk kemajuan perekonomian bangsa. Bukan perampok yang menggerogoti aset bangsa. Bahkan petani adalah pahlawan yang membantu pertumbuhan ekonomi bangsa lewat hasil kerjanya. 

“Mereka tidak memanen sawitnya dengan begitu saja. Mereka menanam, merawat dan memanen. Kemudian menjual. Jadi yang harus diperhatikan adalah hal – hal semacam itu. Jangan dirusak semangat masyarakat untuk membangun perekonomian,” jelasnya. 

Disisi lain, kontribusi petani sawit terhadap pendapatan negara itu cukup besar. Karena saat ini hasil produksi sawit Indonesia mengalami peningkatan yang baik. Termasuk dalam dunia ekspor, karena minyak kelapa sawit Indonesia secara keseluruhan termasuk CPO dan produk turunannya mencapai 34,71 juta ton.

Angka itu naik dari capaian tahun sebelumnya yang hanya berkisar 32,18 juta ton. Peningkatan ekspor tadi kata Gulat menjadi bukti kalau pasar Internasional semakin berterima dengan CPO Indonesia.

Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa komoditi minyak sawit lebih unggul. Namun masih sering dianiaya dengan berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada petani sawit.

Editor : Hafiz
Komentar Via Facebook :