Psikologi Kesombongan

Sebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan

Sebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan

RANAHRIAU.COM- Telah nampak al fasad (kerusakan) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Rum: 41). Kebakaran lahan dan hutan yang untuk kesekian kalinya terjadi lagi di provinsi Riau. Kejadian ini sudah menjadi agenda tahunan bagi masyarakat baik sebagai individu atau kelompok (korporasi) untuk membakar lahan.

Kebakaran yang menimbulkan dampak hilangnya sumber daya tanah, air, udara, punahnya fauna liar, dan kerusakan ekosistem,  menimbulkan asap dan penyakit sepertinya tidak menjadi persoalan bagi mereka yang membakar. Dampak tersebut dianggap angin lalu dan dengan pongahnya mereka menjawab, “inikan lahan saya, inikan tanah saya, kalaupun dibakar entar juga habis asapnya”. Perilaku ini merupakan bentuk kesombongan manusia, kenapa sombong?, karena bumi ini tidak ada satupun manusia yang punya, bumi ini diperuntukkan untuk manusia untuk dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, bumi ini bagi manusia hanya hak pakai bukan hak milik. Kalau itu hak pakai, berarti harus ada tanggung jawab untuk tidak merusaknya. Kalau manusia sudah merasa bumi ini hak milik, maka timbullah perilaku sombong. 

Peringatan Allah
Banyak sudah peringatan Allah tentang perilaku sombong ini. Sebagai manusia yang normal, pasti mengetahui dirinya bahwa perilakunya dikategorikan sombong dan berdampak buruk pada dirinyan dan orang lain. Diantaran peringatan Allah tentang sombong adalah, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18). “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23). 

Dalam hadist, Rasulullah juga memperingatkan, “Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853). Bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, dari nabi SAW, beliau bersabda :‘Tidak akan masuk surga orang yang dihatinya terdapat kesombongan meskipunhanya seberat dzarrah atom".Seseorang berkata : "Ada orang yang ingin pakaiannya bagus dan sandalnya bagus Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu dzat yang maha indah, dan ia menyukai keindahan. Sedangkan takabbur ialah menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain”.

Al - Imam Adzahabi rahimahullah  berkata, esombongan yang paling buruk adalah, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta ia yang tenang. dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. 

Orang yang membakar lahan merasa ilmunya tentang tanah, tenang bagaimana menggarap lahan dirasa sudah tinggi dan mumpuni, namun kenyataannya dia masih butuh pertolongan Allah untuk menurunkan hujan supaya tanahnya subur, dia masih butuh Allah untuk membantu menyuburkan tanamam dan banyak lagi ketidaktahuan dan ketidakmampuan manusia sebagai bentuk bahwa ilmunyan hanya terbatas.

Sombong = Perilaku Iblis dan Kepribadian Narcistik
Kesombongan itu bermuara dari keinginan untuk mendapatkan kepuasan diri dan cenderung untuk memperlihatkan kepada orang lain yang disombongkan. Sombong berperilaku dengan cara yang bangga dan superior, menunjukkan kebanggaan terlalu banyak dalam diri sendiri dan pertimbangan terlalu sedikit bagi orang lain.

Orang yang membakar lahan dan hutan dikategorikan pertama sombong karena harta Hal ini dialami oleh orang kaya yang sombong dengan kekayaannya, seperti pemilik lahan yang sombong yang sombong dengan tananhnya, atau seseorang sombong atas pakaian, kendaraan, dan binatang peliharaannya. Orang seperti ini akan menyombongkan diri di hadapan orang yang dianggap miskin baginya. 

Kedua, sifat sombong karena kekuatan Hal ini meliputi kekuatan, kedigdayaan, dan kesombongan terhadap orang-orang lemah. Kadang- kadang menunjukkan kesombongannya kepada orang yang lemah atau yang dianggapnya tidak dapat berbuat seperti apa yang ia lakukannya. Dari kedua kategori diatas maka orang yang sombong memiliki kepribadian narcistik yang terkadung dalam tipe kerpibadian independent pasif.

Individu dengan independent pasif menunjukkan kepercayaan terhadap diri sendiri yang tinggi. Berusaha untuk mengejar kesenangan dan menghindari kesakitan dengan mengarahkan pada diri sendiri. Memiliki  self-image sebagai individu superior, dan mengarahkan reward dan kepuasan sangat tinggi terhadap diri sendiri. Individu narciistik ini lebih banyak melambungkan perasaan diri berharga. 

Namun,rasa  percaya diri dan superioritasnya dibangun di dalam suatu premis yang keliru. Artinya tidak didukung oleh kenyataan. Inndividu dengan kepribadian narciistik ini memiliki pengalaman belajar sebelumnya yang menilai dirinya secara berlebihan.
Selanjutnya pandangan psikologi Islam menyebutkan bahwa orang sombong adalah sifat iblis, dengan ciri-ciri. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah. (Q.S. Al-A’raf : 12). Terlihat jelas, dari ayat diatas, Iblis tidak mau bersujud kepada manusia karena dia merasa lebih baik dari manusia. Api dan tanah hanyalah perumpamaan, intinya, Iblis merasa lebih baik daripada manusia. Anggapan ini menandakan iblis itu bodoh, dan mengikuti iblis berarti Orang sombong itu bodoh. Iblis menganggap ia terbuat dari api lebih api lebih hebat. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata), “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan dibumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan-Mu?.” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (30). Dan Ia mengajarkan Nabi Adam, akan segala nama benda dan gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman, “Terangkanlah kepada-Ku nama benda ini semuanya jika kamu golongan yang benar.” Malaikat itu menjawab, “Maha suci Engkau (Ya Allah) ! Kami tidak mempunyai pengetahuan selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau jualah yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.” (32). 

Allah SWT berfirman, “Wahai Adam! Terangkanlah nama benda ini semua kepada mereka.” Maka setelah Nabi Adam menerangkan nama benda itu kepada mereka, Allah SWT berfirman, “Bukankah Aku katakan kepada kamu, bahawasanya Aku mengetahui segala rahsia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?.” Iblis yang menganggap dia lebih karena terbuat dari api ternyata tidak mengetahui apa-apa.

Orang sombong tak mau mengakui kelebihan orang lain (orang sombong sulit meminta maaf, dan terlalu sulit untuk menyesal). Allah berfirman dalam surat al A’raf ayat 11 – 18, artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina". iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh. "iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya". 

Iblis sudah tidak mau mengakui kelebihan Adam dan tidak tahu apa-apa dan melawan, minta keistimewaan pula pada Allah, yaitu minta beri tangguh waktu sampai waktu mereka dibangkitkan dan minta izin untuk menggoda manusia. Iblis muncul sifat sombongnya karena Allah ingin menciptakan makhluk lain yang dianggap lemah atau di bawah derajatnya. Sifat sombong dapat dikatakan perangai di dalam jiwa yang menunjukkan kepuasan, kesenangan dan kecenderungan kepada tingkatan (martabat) di atas orang lain. Jadi, selain menyangkut orang pertama, (yang menyombongkan diri), sifat ini juga melibatkan orang kedua (yang disombongi). 

 Disinilah letaknya sifat sombong, dimana sombong bisa ada didalamnya sifat ujub (membanggakan diri). Iblis sangat bangga dengan dirinya dan orang makhluk lain harus tahu dan menghargai itu. Namun, hakikat sombong itu baru terwujud bila seseorang mendapat tiga keyakinan di dalam dirinya. diantaranya Ia melihat dirinya memiliki martabat. Ia melihat pada diri orang lain juga memiliki martabat, dan bila ia menganggap martabatnya lebih tinggi dari pada orang lain. 

Kesombongan dalam diri manusia memang sulit untuk dihilangkan, hanya kesadaran diri dan kedekatan diri kepada Allah yang dapat meminimalisir bahkan menghilangkannya. 

Kesadaran lingkungan secara mendasar merupakan suatu ciri dan perbedaan antara manusia dengan makhluk hidup lainya. Oleh karena itu manusialah yang sangat dominan dalam mengatasi rnasalah-masalah lingkungan, dan hal ini tergantung pada kesadaran manusia dalam memahami lingkungannya. Jauhnya kesadaran diri dan kedekatan diri kepada Allah karena kebanyakan manusia yang hidup di zaman sekarang, hanya menjadikan perkara-perkara lahir yang kasat mata sebagai barometer dalam menilai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar. Melupakan kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata ini adalah kerusakan yang paling besar dan fatal akibatnya, bahkan kerusakan inilah yang menjadi sebab terjadinya kerusakan-kerusakan lahir. Ini merupakan efek dari dominasi hawa nafsu dan cinta dunia dalam diri. Manusia tidak tergerak untuk memahami hakekat semua kejadian tersebut, karena tidak memiliki keyakinan yang kokoh terhadap perkara-perkara gaib (yang tidak nampak) dan melupakan kehidupan abadi di akhirat nanti.


Penulis : Dr. Harmaini., S.Psi., M.SI
Dosen Fakultas Psikologi UIN SUSKA Riau, Pemerhati Masalah Sosial


 

Editor : Hafiz
Komentar Via Facebook :