Hakikat Spiritual Kurban, Memanusiakan manusia

Hakikat Spiritual Kurban, Memanusiakan manusia

RANAHRIAU.COM- Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia, seri pertama dari tetraloginya, menulis: “Cerita, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya.” Di sini, kehidupan adalah hal penting untuk diceritakan dan dimaknai, sehingga dari situ timbul keinsyafan untuk menghormati, menghargai dan memuliakan kehidupan dengan berusaha kuat untuk “melawan” kematian atau hal-hal yang menjurus pada kematian. Berapa pun harganya, kehidupan akan terus coba dipertahankan. Barangkali tampak ceroboh dan bodoh orang yang mencita-citakan kematian ketika ia diberi kesempatan untuk hidup dan mampu memperjuangkan kehidupan itu.

Kurban, di satu sisi punya nilai ibadah ritual, karena merupakan bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan yang menyuruh berkurban, di sisi lain punya nilai sosial yakni menghargai, menghormati dan memuliakan kehidupan. Dari sembelihan hewan kurban, sebagiannya dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Hal ini selain semakin dapat mempererat hubungan sosial, juga mendorong dan mengukuhkan sikap welas asih dan kepedulian terhadap sesama dan tidak mengabaikan atau membiarkan orang lain menderita dan sengsara.

Lebih luas lagi, tidak mengabaikan orang-orang yang lemah dan tak mampu secara ekonomi, tidak menzalimi dan berbuat jahat terhadap orang-orang kecil dan warga jelata, tidak membiarkan mereka tetap hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan serta penderitaan sementara kita mampu membantu, melepaskan mereka bergelut dengan kehidupan mereka yang sulit sendiri-sendiri, terjun dalam arus persaingan ekonomi yang tidak memberi ruang pada mereka untuk ikut sedikit menikmati atau ikut berpartisipasi karena tidak diberi kesempatan untuk itu, tidak membiarkan mereka tetap di bawah dan tertindas, menjadi objek penderita, sementara pada saat yang sama orang-orang yang mapan secara ekonomi hidup nyaman, glamour, dan menghambur-hamburkan harta.

Nilai inilah yang bisa kita baca dari dua kisah penting tentang kurban, di mana kehidupan manusia diselamatkan dan dimuliakan diganti dengan menyembelih hewan kurban untuk diberikan kepada orang-orang yang tak mampu itu tadi.Pertama, kisah kurban Nabi Ibrahim yang akan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Kisah ini secara lengkap dapat dilihat di Al-Quran surah Ash-Shaffat dari ayat 102–107. Kedua, kisah kurban Abdul Muthalib yang akan menyembelih putranya, Abdullah, yang kelak menjadi ayah dari Nabi Muhammad.

Abdul Muthalib dikisahkan pernah bernazar bahwa jika anak-anak laki-lakinya sudah berjumlah sepuluh orang, salah seorang di antara mereka akan dijadikan kurban. Setelah istri Abdul Muthalib melahirkan lagi anak laki-laki, genaplah anak laki-lakinya menjadi sepuluh orang. Anak laki-laki yang kesepuluh itu tidaklah diberi nama dengan nama-nama yang biasa, tapi diberi nama dengan nama yang arti dan maksudnya berlainan sekali, yaitu dengan nama “Abdullah”, yang artinya “hamba Allah”.

Setelah Abdullah berumur beberapa tahun, Abdul Muthalib belum juga menyempurnakan nazarnya. Pada suatu hari, dia mendapat ilham, yang menyuruhnya supaya menyempurnakan nazarnya. Oleh sebab itu, ia pun bertekad bulat untuk menjadikan salah seorang di antara anak laki-lakinya sebagai kurban dengan cara disembelih. Sebelum pengurbanan itu dilaksanakan, dia lebih dulu mengumpulkan semua putranya dan mengadakan undian. Pada saat itu undian jatuh pada Abdullah, padahal Abdullah adalah anak yang paling muda, yang paling bagus wajahnya dan paling disayangi dan dicintainya.

Berita tentang Abdul Muthalib yang hendak mengurbankan anaknya yang paling muda dalam sekejap tersiar di seluruh penjuru Mekah. Maka datanglah seorang alim penjaga Ka’bah menemui Abdul Mutthalib, untuk mencegah apa yang akan dilakukan Abdul Muthalib. Orang alim itu memperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan tersebut. Jika hal itu sampai dilaksanakan, sudah tentu kelak akan dicontoh oleh orang banyak, karena Abdul Muthalib adalah seorang wali negeri pada masa itu dan dia mempunyai pengaruh yang sangat besar di kota Mekah. Oleh sebab itu, apa yang akan dilakukannya tentu akan jadi panutan bagi warga lainnya. Orang alim ini mengusulkan agar nazar tersebut diganti saja dengan menyembelih seratus ekor unta.

Karena nasihat orang alim penjaga Ka’bah itu, akhirnya Abdul Muthalib tak jadi mengurbankan Abdullah dan menebusnya dengan seratus ekor unta yang disembelih di depan Ka’bah. Dengan demikian, selamatlah Abdullah, tidak jadi disembelih. Karena peristiwa di masa lalu itu, pada waktu Nabi telah menjadi utusan Allah, beliau pernah mengatakan, “Aku adalah anak laki-laki dari dua orang yang disembelih.” Maksudnya, beliau adalah keturunan dari Ismail, yang juga akan disembelih tetapi kemudian diganti Allah dengan kambing kibas; dan anak Abdullah, yang juga akan disembelih namun kemudian diganti dengan seratus ekor unta.

Demikianlah, kurban hakikatnya memuliakan manusia dengan menghindarkannya dari kematian dan menggantinya dengan sesuatu yang menghidupkan manusia. Pesannya jelas, manusia tidak boleh dikurbankan dalam bentuk apa pun, baik itu secara ekonomi, sosial, politik maupun yang lainnya. Manusia tidak boleh dibunuh atau disakiti, tetapi harus diselamatkan dan dimuliakan. Manusia harus diselamatkan dari kesulitan, kemiskinan, penderitaan, penindasan, eksploitasi dan seterusnya. Itulah bentuk pemuliaan manusia, penghargaan terhadap hidup manusia sebagai makhluk Tuhan lewat ritual kurban ini.

Penulis : Abdul Hafidz AR, Alumni Hubungan Internasional Universitas Riau, wartawan RanahRiau.com, Anggota Pemuda Muhammadiyah Riau, Penggiat literasi FTBM, Berdomisili di Pekanbaru

kritik dan saran dapat ditujukan ke email : putramelayu.enterprise@gmail.com, WA : 085263905088

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :