Idul Fitri 1440 H dalam Semangat Transformasi

Idul Fitri 1440 H dalam Semangat Transformasi

RanahRiau.com- Diawali kegembiraan, diakhiri dengan kegembiraan pula. Demikianlah bulan Ramadhan. Kegembiraan di awal Ramadhan terlihat misalnya dengan antusiasme masyarakat menghadiri shalat tarawih. Masjid-masjid pun menjadi penuh sesak, bahkan hingga membludak ke luar masjid, sampai menggelar tikar di halaman masjid. Kegembiraan di akhir Ramadhan juga terlihat dengan begitu sukacitanya masyarakat menggemakan takbir di mana-mana, dari maghrib hingga subuh, semalam suntuk.

Ramadhan secara bahasa artinya panas membakar. Ia membakar dosa-dosa dan kesalahan orang-orang yang berpuasa hingga menjadi fitrah, yakni bersih dan suci. Ada dua bentuk dosa. Pertama, dosa terhadap Allah. Kedua, dosa terhadap sesama. Dosa terhadap Allah terhapus dengan taubat. Di bulan Ramadhan ini, Allah ‘mengobral’ ampunan-Nya kepada orang-orang yang berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Rasulullah mengatakan, “Siapa yang berpuasa (shama) Ramadhan dengan penuh keimananan dan pengharapan (pahala dan karunia Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim). Dalam redaksi lain, “Siapa yang melakukan ibadah malam (qama) Ramadhan dengan penuh keimananan dan pengharapan (pahala dan karunia Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim).

Sementara dosa-dosa terhadap manusia ditebus dengan permintaan maaf terhadap orang yang bersangkutan dan berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di waktu-waktu berikutnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah mengatakan, “Apabila bulan Ramadhan telah tiba, dibukalah pintu-pintu rahmat.” (HR Ahmad). Rahmat adalah kasih sayang. Ramadhan dengan demikian mendorong manusia untuk mengasihi dan menyayangi sesama. Dan, di antara bentuk kasih sayang itu adalah meminta maaf terhadap orang lain yang telah ia perlakukan buruk dan janji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Sehingga, manusia menjalani Ramadhan tanpa beban kesalahan terhadap orang lain, dan dapat beribadah dengan tenang.

Ketika dua dosa ini sudah bersih, manusia pun menjadi fitri secara lahir dan batin, formal maupun informal. Akan tetapi, manusia tetaplah tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan, karena manusia kadang lalai atau lupa diri sehingga bergerak ke arah hal-hal negatif. Hari demi hari yang diisi dengan puasa di siang hari dan ibadah di malam hari akan selalu mengingatkan manusia tentang dirinya yang tengah menjalani puasa, yang tidak boleh melakukan hal-hal buruk baik terhadap dirinya maupun orang lain. Sebuah hadis menyebutkan bahwa apabila ada orang yang mengajak untuk berbuat buruk, dia harus menolaknya dan mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa. Artinya, orang itu ingat bahwa dirinya tengah berpuasa. Puasa membentengi dirinya, mengekang keinginan nafsunya, dan mendorongnya untuk lebih mengarahkan pada perbuatan-perbuatan positif.

Gema takbir di tanggal 1 Syawal menandai berakhirnya bulan Ramadhan, sekaligus mengawali hari yang masyarakat sebut dengan lebaran. Bahasa agama menyebutnya hari Idul Fitri. Hari yang menyiratkan kegembiraan, tapi sekaligus kesedihan. Gembira karena hari itu manusia-manusia yang selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di siang hari dan ibadah di malam hari mendapatkan sematan tanda khusus bernama ‘fitri’ dari Allah, tapi sekaligus menyiratkan kesedihan karena telah berpisah dengan Ramadhan. Bagaimana tidak, Rasulullah pernah mengatakan, “Andaikata orang tahu apa yang ada di dalam bulan Ramadhan, pasti mereka ingin agar satu tahun menjadi Ramadhan semua.” (HR Bukhari Muslim)

Ramadhan hanya sekali, karena itu kedatangannya disambut kegembiraan dan kepergiannya pun diiringi kegembiraan. Manusia memang pantas bergembira menghadapi lebaran. Tetapi, kegembiraan di sini hendaknya dimaknai tidak dalam pengertian formalitas, yakni sebatas lahiriyah dengan misalnya memakai hal-hal bendawi yang baru, seperti pakaian baru. Lebih daripada itu, bahkan ini yang lebih penting, baru dalam pengertian batiniah, yakni baru dalam pemikiran, sikap, tindakan, dan seterusnya. Sesuatu yang baru tidak mesti meninggalkan yang lama. Baru berarti tetap mempertahankan yang baik di masa lalu, dan terus berkreasi menciptakan kebaikan-kebaikan baru atau pemikiran-pemikiran baru yang bermanfaat bagi orang lain.

Maka, lebaran sesungguhnya adalah spirit transformasi yang mendorong masyarakat muslim untuk berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan ini bukanlah hal mustahil, karena selama bulan Ramadhan masyarakat muslim telah digembleng dengan berbagai latihan lahiriyah dan batiniyah yang menjadi modal untuk suatu perubahan yang progresif. Selama Ramadhan, mereka dididik untuk menahan lapar dan haus, menahan keinginan-keinginan buruk, membentengi diri dari bisikan-bisikan setan, meningkatkan intensitas pendekatan diri kepada Allah, meningkatkan kesalehan sosial dan kepedulian terhadap sesama, saling membantu, saling menghormati dan menghargai, meningkatkan jiwa kebersamaan, dan seterusnya.

Perubahan yang sebetulnya tidak hanya terasa dan terjadi di internal masyarakat muslim, tapi juga eksternal, di luar mereka. Dengan demikian, misi Islam sebagai rahmatan lil alamin yang terartikulasikan oleh masyarakat muslim dalam perilaku, sikap, pemikiran, dan tindakan, menjadi benar-benar terwujud. Dalam konteks yang lebih luas, hal itu akan semakin meneguhkan masyarakat muslim sebagai agen perubahan dan menjadi bagian dari perubahan yang terjadi. Di Indonesia, masyarakat muslim adalah mayoritas. Maka, secara tidak langsung maju dan mundurnya Indonesia, atau baik dan buruknya Indonesia, selalu dikaitkan dengan peranan masyarakat muslim. Momentum lebaran menjadi ajang pembuktian peranan masyarakat muslim yang telah melewati Ramadhan dan menjadi fitri, serta transformasi untuk bangsa dan negara.



Penulis :  Abdul Hafidz AR, S.IP, Alumni Hubungan Internasional Universitas Riau, Pengamat Sosial dan Budaya, Redaktur Pelaksana di RanahRiau.com, Wartawan di Majalah Property & Bisnis, Anggota Komunitas GM Five, Sahabat Ombudsman Riau, Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Riau, dan Anggota Pemuda Muhammadiyah Riau. untuk info pertanyaan dan kritikan bisa dialamatkan ke WA: 085263905088


Editor : Hafiz
Komentar Via Facebook :