Masih Masalah Korupsi

Masih Masalah Korupsi

RanahRiau.com- Untuk kesekian kalinya kita mendapatkan kabar tentang indikasi terjadinya korupsi oleh para pelaksana negara kita ini, entah berita apa lagi yang akan kita dapatkan setelah politisi ketua PPP dan anggota DPR muda yang terduga jual beli jabatan di KEMENAG baru-baru ini. PPP dan KEMENAG adalah dua lembaga Agama yang banyak di isi oleh orang yang beragama Islam yang seharusnya bersih dan lurus. Tidak tahu lagi berita tentang siapa lagi yang korupsi yang akan didengar masyarakat Indonesia.
 
Mungkin berita bahwa masyarakat Indonesia tidak ada lagi yang tidak melakukan tindakan korupsi. Mulai dari suami yang mengkorupsi jatah istrinya, mungkin istri yang sudah mengkorupsi uang pemberian suaminya, anak yang mengkorupsi uang belanjanya.  RT dan Lurah yang sudah mengkorupsi jatah warganya. Camat, Walikota, Bupati dan Gubernur serta seluruh perangkatnya yang sudah mengkorupsi dana-dana dan kongkalingkong dengan oknum-oknum ASN dan Swasta dalam berbagai bentuk perilaku curang dan penipuan. Di pusat pemerintahan Jakarta, tentu tingkat perilaku korupsi dan kecurangan lainnya tidak kalah hebatnya, baik yang dilakukan oleh legislatif, yudikatif, eksekutif dan seluruh penyelenggara negara lainnya. Dipihak lain, swasta seperti perusahaan atau LSM ke pemerintah juga tidak luput dari perilaku korupsi, untuk meluluskan permintaan seperti proyek dan pelaksanaan program yang diajukan tidak akan lepas dari perilaku korupsi, kecurangan, kongkalingkong atau perbuatan yang nyata-nyata secara akal sehat sebenarnya pelaku mengakui bahwa apa yang dilakukanya adalah tidak baik. Akibat dari itu semua tentu negara ini akan bergerak dengan cara “ngesot” sedangkan negara lain bergerak dengan cara berlari. Akhir dari semua itu negara kita akan selalu tertinggal dari negara lain.

Bentuk Penyelenggaraan Negara

 
Almarhum Baharudin Lopa mantan Jaksa Agung pernah mengatakan bahwa “kalau ingin menyapu maka pakailah sapu yang bersih”. Seorang penulis asal Prancis seperti yang pernah disampaikan Karni Ilyas dalam acara Jakarta Lawyer Center pernah menulis “kalau ingin menyingkirkan monster, maka kita bukan bagian dari monster itu”.  Pendapat dua tokoh tersebut perlu untuk kita aktualisasikan dalam pemberantasan korupsi. Kalau menyapu  rumah dengan yang banyak debu dan sampah menggunakan sapu yang kotor, tentu rumah tidak akan pernah bersih. Kalau si pemberantas korupsi itu adalah juga koruptor (monster) tentulah koruptor (monster) itu tidak akan pernah serius memberantas korupsi. Dalam penyelenggaraan negara selama para penyelenggara tersebut mulai dari tingkat bawah sampai atas adalah sebuah sapu yang kotor atau seorang monster maka selama itu pula para penyelenggaran negara ini akan melakukan tindakan korupsi.
 
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menentukan siapa yang monster siapa yang tidak monster?, untuk zaman sekarang rasanya sulit. Tapi ada satu hal yang perlu disadari bahwa orang yang jauh dari tindakan curang atau melanggar hukum, yaitu apabila ada seseorang meminta jabatan, minta proyek dan permintaan yang arahnya adalah untuk memperkaya diri dan dapat meningkatkan status sosialnya di masyarakat, maka orang tersebut patut dicurigai akan melakukan tindakan curang termasuk korupsi. Kenapa patut dicurigai? karena asumsinya hubungan antara dua orang tersebut dalam sebuah interaksi sosial mirip dengan transaksi ekonomi. Orang-orang dalam interaksi tersebut akan terlibat dalam perilaku untuk memperoleh ganjaran atau menghindari hukuman. Sikap ini dilandasi oleh prinsip transaksi ekonomis dimana orang menyediakan barang atau jasa dan sebagai imbalannya adalah memperoleh barang atau jasa yang diinginkan. Kemudian apabila makin tinggi ganjaran (reward berupa kebendaan seperti uang dan jabatan) yang diperoleh atau yang akan diperoleh makin besar kemungkinan sesuatu tingkah laku akan diulang. Maka tidak heran di dunia yang materialisme, ukuran suatu transaksi adalah uang atau kebendaaan (seperti mobil, rumah atau tanah dsb). Ini akan selalu terjadi karena paham yang dianut adalah materialisme dan bentuk interaksinya yang dibangun adalah transaksi ekonomi.

Karakteristik Koruptor

 
Karakteristik yang dimaksud disini adalah gambaran orang yang mau dan merasa tidak bersalah telah melakukan korupsi. Sekurang-kurangnya ada 3 gangguan yang dimiliki yaitu kerapuhan ego, mengalami neuroisis, lemahnya keyakinan pada Allah SWT (agama).

Korupsi dan perilaku curang yang sejenis, seperti suap dan gratifikasi adalah kecurangan dan pencurian, karena mengambil sesuatu dengan cara yang salah serta mengambil yang bukan menjadi haknya. Dan anehnya orang yang korupsi tersebut bangga memilikinya. Kebanggan yang dimaksud dapat terwujud secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung seperti orang tidak malu-malu menceritakan bagaimana caranya mengatur jabatan dan memanipulasi angka, mengatur berbagai proyek-proyek serta mengatur berbagai kepentingan lain. Dan kalau disorot oleh berbagai media (misal : tv) ada perbedaan perilaku para tersangka antara orang  tertangkap karena berjudi, membunuh, atau psk orang ini selalu menutupi wajahnya dengan koran atau kain, lain halnya dengan para tersangka korupsi, para tersangka korupsi dengan tenangnya berjalan dan dengan santainya berhadapan dengan orang-orang tanpa menutupi wajahnya. Secara tidak langsung dapat kita lihat, pelaku korupsi tidak malu-malu membuat rumah mewah, mobil mewah yang terparkir digarasi dan dijaga sekuriti. Hal inilah yang disebut terjadinya kerapuhan ego, karena tingkah laku para koruptor tersebut impulsif dan primitif atau perilaku yang dilakukan secara sadar yang jelas-jelas perilaku tersebut melanggar norma, etika, hukum, sistim dan lain sebagainya yang telah disepakati secara bersama-sama dan sudah tidak realitis apakah perbuatan itu baik dilakukan atau tidak.
 
Orang yang melakukan korupsi adalah tipe orang yang tidak berhasil menemukan makna hidup. Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup biasanya akan menimbulkan semacam frustrasi dan kondisi kevakuman eksistensi diri. Penghayatan hidup yang tak bermakna karena kurang berfungsinya insting atau naluri serta memudarnya nilai-nilai tradisi pada orang-orang modern. Dan hal ini akan terus menyuburkan penghayatan ini. Insting sebenarnya menunjukkan kepada manusia tentang apa yang harus dilakukan, sedangkan tradisi (termasuk agama) menunjukkan apa yang sepantasnya dilakukan. Maka manusia modern seringkali seakan-akan tidak mengetahui lagi apa yang benar-benar inginkan. Apabila penghayatan hidup tak bermakna yaitu dengan melakukan korupsi yang jelas-jelas melanggar nilai-nilai tradisi terus berlanjut, maka akan menjelma menjadi sejenis gangguan neurosis yaitu noogenic neurosis yaitu gangguan pada hilangnya makna hidup pada seseorang berupa kondisi hidup yang terus merasa kekurangan (merasa tidak cukup), kurangnya gairah untuk hidup yang bermakna dan tidak bisa mencapai aktualisasi diri, karena tidak bisa melakukan pemenuhan makna hidup yang sesuai dengan nilai-nilai tradisi, nilai agama..
 
Karakteristik terakhir orang yang suka dan mau melakukabn korupsi adalah rendahnya keyakinan dan ketergantungan pada Allah. Ketergantungan pada Allah SWT yang selalu diatas segalanya akan membawa manusia pada bentuk ketidakpuasan dalam dirinya kalau dalam setiap harinya tidak melakukan yang bernilai keshalehan dan ada bentuk penyesalan kalau melakukan kesalahan dan kebodohan serta selalu berusaha memperbaiki diri untuk tidak mengulangi kesalahan dan kebodohan yang sama (sepertin korupsi dan yang sejenis). Serta ada bentuk usaha yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki nilai ibadah yang tidak dicampur adukkan dengan antara yang haq dengan yang bathil. Imam Ahmad menukil, bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada ulama ini: Sungguh aku melaksanakan shalat lalu aku menangis (tersedu-sedu) sampai-sampai hampir (bisa) tumbuh sayuran karena (derasnya) air mataku. Maka ulama inipun berkata kepadanya: “Sungguh jika kamu tertawa tapi kamu mengakui dosa-dosamu lebih baik dari pada kamu menangis tapi kamu menyebut-nyebut (membanggakan) amalmu, karena sesungguhnya shalat orang yang menyebut-nyebut (membanggakan amalnya) tidak akan naik ke atas (tidak diterima/diridhai Allah Ta’ala).
 
Inilah makna ucapan yang dinukil oleh Imam Ibnul yang berkata: “Sungguh ada seorang hamba yang melakukan perbuatan dosa (tapi) karena dosa itu dia masuk Surga, dan ada seorang hamba (lain) yang melakukan kebaikan (tapi) karena kebaikan itu dia masuk Neraka”. Orang-orang bertanya (dengan keheranan): Bagaimana (itu bisa terjadi)?. Ulama tersebut berkata: “Hamba yang berbuat dosa, lalu (setelah itu) dosa tersebut selalu ada di hadapan kedua matanya karena dia takut (dan) khawatir (dirinya akan binasa), (maka dia selalu) menangis, menyesali (perbuatan dosa itu), merasa malu kepada Allah, menundukkan kepala di hadapan-Nya, dan merasa hatinya remuk di hadapan-Nya. Maka dosa (yang diperbuatnya) itu lebih bermanfaat bagi hamba ini dari pada banyak amal ketaatan, karena dampak yang muncul setelah itu berupa hal-hal (sikap takut dan merendahkan diri/ penghambaan diri yang sempurna) yang dengan itulah seorang hamba (meraih) kebahagiaan dan keberuntungan (di dunia dan akhirat). Sehingga dosa yang dilakukannya (justru) menjadi sebab dia masuk Surga. Dosa dari perilaku korupsi membuat dirinya tidak senang dan merasa cemas, inilah yang dimaksud dalam pembahasan ini. Namun apabila senang dan bangga kemudian tidak ada rasa bersalah, maka inilah yang dimaksud bahwa keyakinan pada Allah sudah dikalahkan dengan keyakinan akan enaknya harta pangkat dan jabatan dan tipe orang yang rapuh egonya dan mengalami neorosis.
 
Tidak salah Indonesia negara kita cintai ini sulit untuk keluar dari ketertinggalan, karena yang mengurus negara ini memilki kerapuhan ego, gangguan neurosis dan keyakinan pada Allah yang rendah, yang dapat dikategorikan memiliki gangguan kejiwaan. Orang yang memiliki gangguan kejiwaan tidak memperdulikan apakah perbuatannya akan merugikan atau tidak. Penyelenggara negara, tokoh masyarakat, tokoh politik, dan tokoh agama mulai dari tingkat paling rendah sampai tingkat paling tinggi seharusnya dan wajib  menjadi suri tauladan yang baik, bekerja untuk kepentingan dan membela rakyat jangan malah merugikan negara, melanggar aturan dan perilaku curang lainnya.

Wallahua’lam bishawab

Penulis : Dr. Harmaini, S.Psi., M.Si, Dosen Fakultas Psikologi UIN SUSKA Riau, Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan
 

Editor : Hafiz
Komentar Via Facebook :