Paripurna DPRD Riau
Pidato Sambutan Gubernur Riau, Syamsuar Optimis Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Pekanbaru, RanahRiau.com- Untuk
kali pertama setelah dilantik, Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar
menyampaikan pidato didepan rapat paripurna DPRD Riau, Senin 11/03/19).
Dalam sambutannya, Gubri masa bhakti 2019 - 2024 ini, mengatakan akan
tetap melanjutkan dan meningkatkan program pembangunan pro masyarakat
yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Mengawali sambutannya, Gubri menyampaikan terima kasih kepada seluruh
masyarakat Riau yang memberikan kepercayaan kepada mereka berdua
(Syamsuar - Edy Natar Nasution, red) untuk mengemban amanah meneruskan
estapet kepemimpinan di negeri Melayu.
"Tentunya tidak mudah bagi kami karena besarnya harapan masyarakat yang
dititipkan kepada kami semasa kampanye untuk menyelesaikan permasalahan
sosial ekonomi masyarakat. Namun kami percaya permasalahan ini bisa
kita selesaikan dengan dukungan dan kerjasama dari seluruh masyarakat
Riau", ucapnya.
Syamsuar mengatakan, kepemimpinan 2019 - 2024 ini merupakan periode
keempat atau periode terakhir dari pelaksanaan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Riau. Oleh karena itu, untuk
keberlangsungan dan keberlanjutan pembangunan di Provinsi Riau,
pihaknya akan tetap melanjutkan dan meningkatkan program pembangunan
pro masyarakat yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Beberapa permasalahan pembangunan Provinsi Riau yang dihadapi saat ini
ucap Gubri, diantaranya kesenjangan kualitas Sumber Daya Manusia antar
Kabupaten/Kota, rendahnya IPM, angka harapan hidup, rata-rata lama
sekolah dan pengeluaran perkapita.
Permasalahan lainnya ucap Gubri, rendahnya kualitas infrastruktur dasar
bagi masyarakat. Ia mencontohkan, pada tahun 2017, panjang jalan
provinsi 2.799 Km dengan kondisi rusak sedang sampai rusak berat
mencapai 55,18%.
Hal ini sambung Gubri, belum sesuai dengan parameter kinerja Standar
Pelayanan Minimum (SPM) untuk indeks aksesibiltas provinsi Riau. Oleh
karena itu perlu penambahan panjang jalan dalam mendukung program
prioritas dan pengembangan potensi wilayah.
Masalah lain kata Gubri, adalah terbatasnya akses air bersih, belum
terkelolanya limbah dengan baik, elektrifikasi. Ia mengatakan, dari
1.859 desa/kelurahan di Provinsi Riau, masih ada 74 desa yang belum
teraliri listrik. Selain itu Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH)
Provinsi Riau, terendah di Pulau Sumatera dan masuk dalam kategori
sangat kurang.
Selain itu degradasi dan deforestrasi hutan dan lahan gambut cukup
tinggi, termasuk perubahan tata guna, fungsi hutan dan lahan gambut
serta okupasi kawasan konservasi. Dimana lokasinya berada dalam empat
(4) daerah aliran sungai (DAS) utama yaitu DAS Siak, Rokan, Indragiri
dan Kampar. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab rendahnya status
mutu air.
Persoalan lain yang dihadapi Riau saat adalah abrasi terutama di Pulau
Bengkalis, Pulau Rangsang dan Pulau Rupat dan permasalahan tapal batas
antar Kabupaten/Kota yang masih belum terselesaikan.
Di bidang ekonomi sebut Gubri, Provinsi Riau periode 2011-2017
mengalami penurunan. Tahun 2011 sebesar 5,57% turun menjadi 2,71% pada
tahun 2017. Dari tahun 2012 ke tahun 2017 terjadi pergeseran ekonomi
dari pertambangan dan penggalian ke sektor industri pengolahan.
Pergeseran ini disebabkan oleh penurunan harga komoditas migas,
sehingga minat investasi pada sektor migas mengalami penurunan.
"Nilai PDRB harga konstan provinsi Riau menempati nomor 6 secara
nasional. Namun tingkat pertumbuhannya berada pada posisi terbawah,
yaitu nomor 33 dari 34 provinsi di Indonesia. Oleh karena itu hal ini
akan menjadi perhatian serius bagi kami dalam peningkatan ekonomi
Riau", ujarnya.
Gubri juga mengatakan, tingkat kemiskinan Provinsi Riau masih di atas
5% yaitu 7,41% atau 514.620 jiwa. Persentase miskin tinggi terdapat
pada sub sektor perkebunan. Adapun kabupaten/kota yang berada diatas
tingkat kemiskinan yakni, Kabupaten Kepulauan Meranti (28,99%), Rokan
Hulu (10,91%), Pelalawan (10,25%), Kuantan Singingi (9,97%), Kampar
(8,02%) dan Kabupaten Rokan Hilir (7,88%).
Di bidang pangan kata Gubri, juga belum optimal. Hal ini terlihat dari
produksi beras tahun 2013-2017 menurun sebesar 3,65% per tahun. Di
sisi lain, kebutuhan konsumsi beras dari tahun 2013 - 2017 tumbuh
1,38%/tahun. Tahun 2017 produksi beras Riau hanya 33% dari kebutuhan.
Konsumsi beras Riau dan rasio ini memiliki penurunan sebesar 5,74% per
tahun.
Masalah lain yakni, pengelolaan potensi budaya Melayu dan Pariwisata,
belum optimalnya manajemen pelayanan ASN dan pembinaan ASN.
Didepan Ketua, Wakil Ketua, Anggota DPRD serta hadirin, Gubri
mengungkapkan permasalahan yang telah dirumuskan dan janji politik saat
kampanye lalu, maka Visi Gubenur dan Wakil Gubenur Riau tahun
2019-2024, “Terwujudnya Riau yang Berdaya Saing, Sejahtera, Bermartabat
dan Unggul di Indonesia (RIAU BERSATU)”.
Ia mengatakan, ukuran keberhasilan pencapaian visi tersebut terpotret
dari daya saing, pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, SDM, tingkat
kesejahteraan, berintegritas dan berprestasi di bidang keagamaan.
Sementara arah kebijakan antara lain, peningkatan kualitas SDM melalui Perda Wajib Belajar 12 tahun, pelayanan kesehatan, UMKM.
kapasitas kelembagaan dan masyarakat desa dan peningkatan Infrastruktur.
Sedangkan arah kebijakan yakni, meningkatkan konservasi SDA dan
keanekaragaman hayati dalam upaya memulihkan kawasan yang sudah dalam
kondisi kritis.
Di akhir sambutannya Gubri mengatakan, untuk mewujudkan ini semua,
dibutuhkan kerja keras (ikhtiar) yang diiringi dengan Do’a dan optimisme
yang tinggi, serta dukungan pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Riau.
Sementara itu rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Riau Septina
Primawati itu antara lain, Danrem 031 WB, Kapolda Riau, Kajati Riau,
mantan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau, Bupati/Walikota se Provinsi
Riau, para Rektor PT, tokoh masyarakat dan ratusan undangan lainnya.


Komentar Via Facebook :