Bendungan Petapahan Jebol.. Berikut Penjelasan Kabid SDA PUPR Kuansing

Bendungan Petapahan Jebol.. Berikut Penjelasan Kabid SDA PUPR Kuansing

TELUK KUANTAN, RANAHRIAU.COM- Bendungan petapahan, Kecamatan Gunung Toar dalam istilah PU itu namanya Bendungan petapahan Toar. Luas wilayah tampung yang dilayani adalah seluas 144 hektare. Bendungan ini melingkupi 2 desa, yaitu desa Petapan dan desa Toar.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kuansing Pebri Mahmud,ST M.Eng kepada ranahriau.com Selasa, (05/03/2019) menerangkan, Irigasi ini terkoneksi dengan daerah irigasi gunung dengan luas bakunya yaitu 81 hektare yang berada di desa toar.

Pada tanggal 27 Februari yang lalu, terjadi curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi sehingga menyebabkan banjir bandang dan juga menyebabkan terjadinya abrasi tebing sungai yang berada di sayap kiri bendungan petapahan. Kenapa ini terjadi, nah inilah yang perlu menjadi catatan.

Selama ini desa Petapahan kan juga sering terjadi banjir, bahkan desa Petapahan sudah menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras. jadi, Banjir yang terjadi pada tanggal 27 Februari itu, diperparah dengan rusaknya Bendungan karena jebolnya tebing yang berada di sayap kiri Bendungan tersebut.

Kemudian, Kenapa ini terjadi, yang pertama Bendungan petapahan ini dibangun sejak tahun 1978. dengan kapasitas dengan spillway dengan banjir rancangan tertentu. Kapasitas spillway bendungan yang mampu melewatkan ketinggian banjir yang direncanakan, artinya penyebab terjadinya jebol tebing pada sayap kiri Bendungan kemarin itu, karena banjir yang terjadi sudah melampaui banjir rancangan pada tahun 1978 tersebut.

kemudian Kenapa terjadi banjir melebihi kapasitas daya tampung spillway atau daya tampung bangunan pelimpahan itu ? Pebri menjelaskan, karena kerusakan Catchment area (daerah tangkapan air), Oleh perbuatan dengan sengaja merusak Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hulu.

Diterangkan Pebri, Sungai petapan itu panjangnya adalah 15 KM. mulai dari hulu sungai, di daerah Hutan Larangan, desa Jake itu muaranya.

Kami telah melakukan survey penyebab terjadinya Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tersebut, dan melakukan pemetaan pada bulan Juni 2018 yang lalu. ternyata ada dua aktivitas perusakan alam di sana, yang Pertama adalah karena Alih fungsi lahan. Karena wilayah ini  dari tahun 1978 ini merupakan hutan perawan. Kemudian pada hari ini kita menyaksikan hutan itu tidak ada lagi dan alih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Itu yang pertama ujar pebri

Kemudian yang kedua yaitu pengrusakan yang dilakukan karena illegal mining, Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Setelah kami survei dan bahkan telah dilakukan foto udara, yang rusak akibat illegal meaning di bantaran sungai tersebut seluas 200 hektare lebih dan berada di tiga titik lokasi yang pertama di daerah hulu, di tengah hampir 200 hektar, bahkan di genangan Bendungan sendiri dilakukan Penambangan Emas Tanpa Izin. "Jadi ini suatu hal yang sangat fatal, padahal aturannya untuk galian C ilegal mining memang tidak dibenarkan itu dilakukan 500 meter di Hulu Bendungan, dan 500 meter di hilir Bendungan itulah aturannya,"ucapnya

"Sebenarnya ada peraturan pemerintah tentang sungai, yang mengatur tentang tata guna lahan. Khusus untuk sungai Batang Kuantan aturannya 100 m kiri kanan sempadan sungai harus jalur hijau atau di grimbel. untuk konserpasi ukuran sungai petapan tersebut yaitu 50 meter kiri-kanan sungai harus di hijaukan, karena memang daya tangkapan airnya seperti itu.

Nah, sekarang apa yang terjadi di sungai petapahan, jangankan 50 meter kiri kanan sungai, badan Sungai pun habis dilakukan kegiatan penambangan. akibatnya apa, yang pertama Sedimentasi tinggi karena abrasi, dan erosi. Sebab banyaknya sedimen yang hanyut, sehingga seluruh genangan bendungan itu tertutup oleh Sedimen. Sementara luas Bendungan yang tertutup oleh Sedimen tersebut adalah 15 hektare. akhirnya apa, Bendungan tidak lagi mampu menampung genangan air bendungan sehingga langsung melimpas, akhirnya sedimen yang terangkut itu masuk ke saluran irigasi.

Menurut Pebri, Solusinya harus dilakukan pemulihan kembali Daerah Aliran Sungai (DAS) petapahan. Karena yang perlu kita selamatkan adalah warga terdampak.

Menurut Pebri, Banjir petapan ini akan terus melakukan pengulangan ketika intensitas hujan dan curah hujan yang tinggi. Harusnya pemerintah memprogramkan penduduk atau warga yang terdampak ini direlokasi atau dipindahkan dari sana, Kalau tidak kita pasti akan menghabiskan energi kita untuk menanggulangi. karena ini sudah menjadi langganan banjir,mungkin itu salah satu solusinya.

Pembangunan rumah untuk daerah rawan bencana itu adalah program dari pemerintah pusat, Seperti OPD yang terkait dengan ini mungkin bisa menelusuri solusinya seperti apa.

Solusi yang paling murah itu memindahkan penduduk, tinggalkan lokasi yang terdampak banjir itu Karena aturan 50 meter kiri kanan sungai tidak boleh dibangun.

"Tapi, ya itulah kita di daerah ini belum mengacu kepada izin pembangunan,"terang Pebri

Kemudian yang kedua untuk fungsionalnya irigasi petapan ini kita perlu mengambil tindakan Segera, Karena ini akan berakibat kepada kegagalan musim tanam. jadi kita akan mencoba memperbaiki kerusakan Bendungan ini pada Anggaran belanja tak terduga, karena ini memang ada dipersiapkan oleh pemerintah untuk menangani hal-hal yang seperti ini. karena banjir rancangan 1978 dan karena Banjir hari ini sudah melebihi kapasitas bendungan atau banjir rancangan yang dibangun pada tahun 1978 silam, maka kita akan menambah luas. kalau rancangan banjir pada tahun 1978 berkisar 60, sekarang kita jadikan 90. Kita akan melakukan Pengembangan fisik dengan menambah luas. Luas yang lama 18 meter, kita akan menambah 18 meter lagi spillway nya. jadi ketika banjir datang, Bendungan mampu menampung sehingga banjir itu tidak melompat atau tidak melampaui Bendungan tersebut.

Kemudian solusi yang ketiga adalah solusi jangka panjang. kita ingin Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Petapahan ini berfungsi seperti semula. pemulihan tersebut pertama yang harus kita lakukan adalah membebaskan selebar 50 meter kiri kanan Sungai, Kita lakukan penghijauan kembali, Minimal dari bendungan itu ke atas. kalau kita lakukan hari ini kita baru bisa menikmati sungai petapan itu kembali jernih seperti semula selama 30 tahun yang akan datang.

Kita lakukan normalisasi, badan Sungai kita bentuk lagi jadi kita butuh waktu 30 tahun untuk melakukan pemulihan, dan itu pun jika kita lakukan hari ini sehingga bisa normal. kalau tidak kita lakukan upaya pemulihan itu, kalau alat secara alami saya tidak bisa memperkirakan Kapan sungai ini bisa normal kembali.

"Kita harus membebaskan Kiri Kanan Sungai dari bangunan. mau ndak masyarakat," ujarnya

Adapun Tindakan pemulihan sungai petapahan ini kata Pebri, Ada dua kegiatan yang harus dilakukan. Yang pertama normalisasi badan sungainya, setelah normalisasi dilakukan diiringi ada yang namanya naturalisasi sungai. kalau hanya normalisasi Sungai yang kita lakukan tanpa naturalisasi, maka yang di normalisasi sungai itu akan habis, itu sama saja kita membuang Anggaran.

Sebaiknya saran saya, karena membutuhkan anggaran yang besar untuk memulihkan ini, maka cobalah join dengan perusahaan yang ada di Hulu Sungai tersebut. jadi program yang kita lakukan adalah penghijauan, karena Kita butuh waktu selama 30 tahun.

Jadi sangat kita sesalkan pada oknum-oknum yang sudah merusak Daerah Aliran Sungai (DAS) tersebut. disebut siapapun mereka.

Awalnya pada tahun 2008 atau 2009 itu pernah terjadi konflik horizontal, di sini masyarakat konflik dengan penambang Emas yang masih bisa kita lacak jejak digitalnya. Hampir berdarah-darah waktu itu,  akhirnya masyarakat juga gagal untuk menghentikan penambangan. "Jadi, selagi banjir bandang ini terjadi, mereka mereka yang melakukan penambangan yang merusak alam, sering saya katakan ini adalah dosa Jariyah yang mereka lakukan, siapapun mereka,"ujarnya

"Ini Dosa Jariyah yang mereka buat selagi masyarakat menanggung akibat dari tindakan perusakan sungai dari hulu itu, ini akan tetap mengalir sebagai dosa Jariyah, siapapun mereka, Harusnya penambang-penambang ilegal tersebut Peduli, Karena memang mereka yang merusak.

Jadi intinya kita lihat konstruksi bendungan yang dibuat 41 tahun silam itu masih berdiri kokoh, yang terjadi abrasi itu adalah tebingnya, jadi sewaktu-waktu ketika intensitas hujan tinggi curah hujan tinggi banjir bisa terjadi lagi. makanya untuk perbaikan bendungan petapahan yang jebol itu ditujukan kepada Bupati dengan konstruksi permanen, karena kalau ini dengan kontruksi darurat kita khawatir nanti tidak bisa menampung intensitas Sungai," Pungkasnya

Reporter : Eki Maidedi

 

 

 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :