Kerusakan Gambut Tak Teratasi, DR Elviriadi: ada sejarah Melayu yang luput dan dilupakan

Kerusakan Gambut Tak Teratasi, DR Elviriadi: ada sejarah Melayu yang luput dan dilupakan

Pekanbaru, RanahRiau.com- Badan Meteorologi dan Geofisika Mencatat terdapat puluhan hot spot yang memicu kebakaran hutan dan lahan sampai penghujung Januari 2019.  Menanggapi gejala alam itu, Pakar Lingkungan DR.Elviriadi mengatakan, kualitas lahan gambur di Riau semakin merosot, hal tersebut disampaikan saat wawancara dengan wartawan Ranahriau.com, Senin (21/01/2019).

"Walaupun fluktuasi cuaca yang diikuti hujan sore hingga malam hari, peran orohidrologis gambut sudah irreversible. Artinya, hujan lebatpun, air tak dapat disimpan, dan segera mengering lagi disiang hari", ujarnya.
 
"Ya, bagi saya kebakaran hutan dan lahan atau kerusakan ekologis di Riau ini sukar dihindari lagi, apalagi ada sejarah tanah Melayu ini yang seperti luput atau sengaja dilupakan orang", ungkapnya kepada wartawan.
 
Pria gempal  yang dikenal vokal yang juga menjadi salah seorang tenaga pengajar di UIN SUSKA itu membeberkan, indonesia dan propinsi Riau ini sudah salah arah dalam mengelola sumberdaya alamnya. "Tak ada pembatasan eksploitasi alam berdasarkan topografi, lanskap, budaya, dan kriteria kriteria lingkungan hidup sejak era Orde Baru.
 
"Nah, sejumlah kesalahan fatal dimasa lalu itu baru dirasakan efeknya sekarang. Bencana dan anomali cuaca. Anehnya,  kita abai terhadap upaya membangun kesadaran kritis terhadap sejarah  yang keliru itu", pungkasnya.

Kepala Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI ini juga  menjelaskan ada 4 aspek yang luput sehingga kerusakan lingkungan akan berlarut, Pertama, publik dan pengambil kebijakan abai mengevaluasi  kebijakan masa lalu yang  keliru itu. "Seolah hendak dilupakan, kami orang Melayu ini hilang tempat berpijak akibat hutan tanah binasa. Orang Sakai Menari diatas luka dengan selang minyak raksasa yang mengoyak sumber pangan dari hutan, Saya kira pemerintah harus evaluasi secara fundamental ketimpangan sosiologis itu.
 
Kedua, akibat tak ada gerakan kesadaran sejarah itu,  cara cara yang sekarang dalam memadamkan api atau memulihkan gambut, pada hemat saya, terkesan "lepay" (loyo) dan kering gagasan. "Kemana sich para cendikiawan cendikiawan besar, kok hanya kejar kejaran bawa air. Sedangkan dana sudah habis milyaran", kritik aktifis 98 itu.


Ketiga, membangun sejarah ekologis masa depan indonesia dan Riau itu perlu gagasan dan keberanian dan konvensi sosial. "Buatkan musyawarah besar bersama rakyat, masyarakat pribumi yang dah fully experience ini, kita rundingkan titik temu pandangan kosmologis kita. Negara itu berasal dari rakyat. Rakyat lebih dahulu mengenal hutan daripada NKRI ini", tukasnya berfilosofi.


Keempat, sekarang ini ada kegelapan sejarah Melayu yang juga hendak diluputkan. Dijauhkan dari perhatian publik. "Kalau dulu ada musibah lahan terbakar, masyarakat dan jiran tetangga turut sedih dan berkuah keringat membantu memadamkan api. Tapi sampai 2019, sedikit lahan kami terbakar, anak kemanakan kami langsung terancam diperiksa. Ini harus diperhatikan LAM Riau dan para tokoh Melayu. Kalau tidak, negeri ini ibarat jatuh tertimpa tangga pula," pungkas anak jati Selatpanjamg yang suka gunduli kepala demi nasib hutan Riau ini.


Reporter : Hafiz

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :