Berbagai Gangguan Kesehatan Akibat Santap Makanan Cepat Saji

Berbagai Gangguan Kesehatan Akibat Santap Makanan Cepat Saji

Jakarta, RanahRiau.com- Gerai makanan cepat saji kian menjamur terutama di perkotaan. Menu-menu seperti hamburger dan kentang goreng umumnya dipromosikan dengan foto yang menerbitkan air liur. Alhasil kini semakin banyak masyarakat yang gemar mengonsumsi makanan siap saji.

Padahal, menurut praktisi kesehatan, mengonsumsi makanan siap saji secara rutin atau dalam jumlah banyak tak baik bagi kesehatan. Efeknya mulai dari penurunan kemampuan kognitif sampai kanker. Dikutip dari Tonic Vice, berikut berbagai gangguan kesehatan yang akan dialami jika kita terlalu banyak makan fast food.

Penurunan kemampuan kognitif


Ahli nutrisi asal Atlanta, Marisa Moore, mengingatkan terlalu sering mengonsumsi makana cepat saji dapat menurunkan kemampuan kognitif. "Sudah lama diketahui minyak jenuh bisa berdampak buruk pada hati. Namun ada penelitian yang menyebut minyak jenuh juga memengaruhi fungsi otak dan memori," kata Moore.

Dalam jumlah sedikit minyak jenuh tidal bersifat jahat. Akan tetapi dalam jumlah banyak minyak jenuh dapat membahayakan kesehatan. Apalagi jika kita juga banyak mengonsumsi lemak, gula, dan protein. Studi dari Oregon State University pada 2015 mendemonstrasikan terlalu banyak asupan lemak dan gula menyebabkan perubahan bakteri di usus. Bakteri usus akan kehilangan 'fleksibilitas kognitif' atau kemampuan untuk beradaptasi.

Meningkatkan risiko depresi


Ada menu cepat saji populer yang dinamai Happy Meal. Namun, penamaan itu justru berkebalikan dari efek yang bisa ditimbulkan. Orang yang secara rutin mengonsumsi makanan cepat saji, 51 persen cenderung lebih mudah mengalami depresi.

Mereka juga cenderung menjadi seorang jomlo, punya waktu kerja lebih lama, lebih sedikit makan buah dan sayur, dan merokok. Kesimpulan tersebut diperoleh dari studi di Spanyol oleh Centre for Health Sciences, Department of Clinical Sciences, University of Las Palmas de Gran Canaria.

Menurut Amy Saphiro, seorang nutrisionis di New York, depresi dapat dikurangi dengan asupan vitamin B dan Omega 3. Kedua nutrisi itu tentunya tidak dapat ditemukan pada makanan cepat saji.

Lebih mudah alami obesitas

"Makanan cepat saji tinggi kalori mengandung banyak karbohidrat dan gula, namun minim serat," kata ahli diet Jim White. White menjelaskan terlalu sering melahap fast food bisa memicu resistansi insulin yang berkontribusi pada terjadinya kenaikan berat badan.

Tetap kelaparan

Ahli nutrisi asal New York Amy Shapiro mengatakan makanan cepat saji kaya kalori tapi miskin nutrisi yang diperlukan tubuh. Terlalu banyak makan hamburger dan kentang goreng mengakibatkan tubuh kurang nutrisi sehingga metabolisme tidak bisa bekerja dengan baik. "Saat banyak makan fast food tubuhmu penuh dengan makanan tidak bergizi. Jadi walaupun kamu makan banyak kalori, kamu tidak akan merasa kenyang," ujar Shapiro.

Tingkatkan risiko kanker

Studi The National Toxicology Program oleh US Department of Health and Human Services mengungkap kandungan 2-methylimidazole menyebabkan kanker pada tikus di laboratorium. Ini adalah kabar buruk karena 2-methylimidazole adalah bahan yang digunakan sebagai pewarna karamel pada saus dan soda.

Selain itu, pewarna karamel juga mengandung 4-methylimidazole. Penelitian pada tikus membuktikan 4-methylimidazole adalah bahan yang bersifat karsinogenik. Shapiro mengatakan jika makan fast food tak diimbangi makan sayuran dan buah maka tubuh tak mampu melawan efek karsinogen. "Kemungkinan besar dalam bahan pembuat fast food juga mengandung pestisida, antibiotik, dan hormon pada daging berkualitas rendah. Itu semua berkontribusi meningkatkan risiko kanker," kata Shapiro.

Tingkatkan risiko penyakit jantung

Kandungan lemak pada makanan siap saji umumnya terbentuk dari asam lemak jenuh. Itu adalah lemak yang berbentuk padat di suhu ruangan dan merupakan produk turunan dari hewan atau minyak nabati. Contoh makanan yang kaya akan lemak tersebut adalah burger keju. Ahli diet Jim White menerangkan jenis lemak itu dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Akibatnya orang akan mengalami penyakit kardiovaskular.

Pendapat itu didukung oleh studi yang dipublikasikan The European Journal of Preventive Cardiology. Hasil studi menyimpulkan orang yang tinggal dalam jarak setengah mil atau dekat dengan gerai fast food cenderung lebih mudah mengalami penyakit jantung daripada orang yang tinggal lebih jauh. Ini karena orang yang tinggal dekat gerai fast food lebih sering tergoda mengonsumsi makanan tersebut.



Sumber : Republika.co.id

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :