Pemilih Pemula Yang Rasional Saat Tahun Politik
RanahRiau.com - Menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Anggota Legislatif, baik dari pusat sampai ke daerah sudah terasa sejak adanya Pilkada serentak yang lalu. Suasana semakin terasa saat KPU secara resmi membuka kampanye Pileg dan Pilpres pada tanggal 23 September 2018.
Semua lapisan masyarakat dari mulai masyarakat elit sampai masyarakat desa sudah bicara tentang politik, bahkan di kedai-kedai kopipun mulai ramai membahas tentang politik. Kalangan lain yang juga ikut berdiskusi yaitu pemilih pemula menunjukkan gelagat dalam dunia politik.
Pemilih pemula merupakan pemilih yang baru memasuki usia 17 tahun untuk pertama kali terdaftar sebagai pemilih tahun 2019 nanti, yang rata-rata saat ini sedang menempuh pelajaran di Sekolah Menengah Atas atau sederajat.
Pemilih pemula angka cukup banyak dalam Daftar Pemilih Tetap, kemungkinan akan bertambah saat adanya Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan. Bagaimanakah sikap dan karakteristik pemilih pemula tersebut pada tahun politik ini?
Karakteristik Pemilih Pemula
Secara umum ialah pemilih pemula yang belum mempunyai pengetahuan dan pandangan dalam dunia politik mengenai pilihan dalam Pilpres dan Pileg nanti. Pandangan mereka masih dipengaruhi oleh pandangan orang tua mereka masing-masing, tidak jarang mereka juga berdiskusi dengan teman-temannya tentang dunia politik berdasarkan pengaruh dalam keluarga mereka. Pada dasarnya mereka sudah mulai mencari informasi, mendengarkan dan memaknai secara sendiri tentang dunia politik yang mengalir seperti air tanpa banyak berpikir tentang dampak pilihannya. Mengacu kepada perkembangan Psikologi remaja pemilih pemula bisa di arah kepada pemilih rasional.
Dalam perkembangan Psikologi remaja, terutama perkembangan kognitif atau kemampuan berpikir logis pemilih pemula ini mempunyai gambaran sebagai berikut:
Mulai berpikir logis mengenai suatu gagasan
Visi dan Misi yang disampaikan oleh calon baik saat kampanye maupun melalui media sosial dan media lainnya tampak hanya gambaran saja dan nyata, hal tersebut akan berpengaruh pada pandangan politik yang tidak memberikan dampak apa-apa dalam kelangsungan hidupnya.
Anggapan demikian harus dihilangkan pada pemilih pemula. Untuk menghindari ini terjadi hal dilakukan adalah memberikan pendidikan politik dan pengetahuan tentang politik agar kemampuan logis pemilih pemula bisa terasa dan terpola dengan baik sehingga jadilah pemilih yang rasional untuk keberlangsungan demokrasi di negara kita. Berpikir logis seorang pemilih pemula merupakan modal awal dalam membuat keputusan pilihannya.
Pemilih rasional merupakan pemilih yang tidak sembarangan dalam menentukan pilihannya, semuanya didasarkan pada objektif dan pertimbangan yang matang. Kembangkan wawasan berpikir, agama dan jati diri. Pemilih pemula sudah mulai membuka wawasan tentang berbagai hal, termasuk dalam mengikuti pemilu pertama kalinya. Dengan membuka diri tentu akan informasi pengetahun tentang politik melalui buku, media elektronik, media cetak media sosial dan sumber lainnya yang dapat dipercaya maka diharapkan dapat menjadi pemilih rasional. Dengan cara demikian diharapkan dapat menambah pemilih rasional memilih tidak asal-asalan dan terhindar pilihan transaksional. Semakin banyak pemilih yang rasional, maka diharapkan akan tercipta demokrasi yang sehat.
Wawan Ardi, S.Psi Penulis merupakan Peminat Masalah politik


Komentar Via Facebook :