Sudut Pandang Fenomena LGBT dan Cara Penanganannya
RanahRiau.com - Istilah LGBT (lesbian,gay, biseksual, transgender/transeksual) mungkin tidak asing lagi terdengar bagi kita. Apalagi LGBT sedang 'tren' di zaman milenial para kaum anak muda. Pro-kontra kehadiran LGBT di tanah air terus hangat diperbincangkan. Karena sensitivitas LGBT yang sangat tinggi bila dibahas oleh perorangan maupun kelompok di Indonesia, mengingat kita adalah negara yang mayoritas Muslim dan sangat mengharamkan hubungan sesama jenis.
Sejatinya LGBT merupakan hak asasi sebagai manusia, bukan berarti kita bisa menyudutkan bahkan melakukan tindakan persekusi bagi mereka.
Namun manakala LGBT disahkan atau tidak oleh Pemerintah, bagi saya ini merupakan 'penyakit' yang bisa menular. Tentu saja, bagi kita terkhusus orang tua sangat khawatir bila anak, saudara dan keluarga masuk dalam kategori LGBT.
Ada beberapa cara mencegah LGBT yang mungkin dapat kita lakukan. Saya memaparkan dalam beberapa poin menurut pandangan secara umum.
1. Menjaga Pergaulan
Dimana seorang wanita tidak baik membiasakannya diri berteman dengan kaum laki-laki, karena dampaknya akan mempengaruhi psikologisnya yang nantinya berkarakter dan berpenampilan seperti laki-laki. Sehingga kondisinya, ketika dalam sebuah keluarga ada banyak anak laki-laki, akan tetapi hanya ada satu anak perempuan.
Maka sang ibu harus mengambil peran yang lebih besar, untuk memasukan karakter seorang wanita padanya, sehingga hal ini membuat anak perempuan agar tidak kehilangan jati dirinya. Ini hanya salah satu contoh cara menaggulangi agar tidak terjatuh ke dalam prilaku LGBT. Intinya, baik laki-laki maupun perempuan hendaknya melakukan pergaulan yang sesuai dengan kodrat atau fitrahnya masing-masing.
2. Tutup Segala Celah Pornografi
Sudah banyak diketahui bahwasanya penyebaran LGBT ini identik dengan sesuatu yang bersifat pornografi. Seseorang umumnya bisa “terjangkit” Pornografi karena penyalahgunaan teknologi seperti gadget dan lainnya. Penting untuk setiap pihak, baik itu orang tua maupun pihak terkait lainnya mencounter dan menangkal dari dampak buruk penyalahgunaan teknologi ini.
3. Adakan Kajian atau Seminar Tentang Bahaya LGBT
Anak-anak yang sudah masuk masa SMP dan SMA telah dapat diberikan edukasi dari kegiatan-kegiatan formal seperti seminar dan semacamnya. Penting untuk segala pihak yang berkepentingan agar mengadakan dan mendorong anak-anak muda untuk mengikuti seminar tentang bahaya LGBT, sehingga mereka bisa lebih mawas diri dari resiko terkena prilaku LGBT.
Sangat diharapkan agar Perguruan Tinggi bisa secara resmi untuk mendirikan pusat kajian dan penanggulangan dari propaganda LGBT yang saat ini masih terus disebarkan dengan gencar. Aktivitasnya juga termasuk memberikan konsultasi psikologi dan pengobatan untuk mereka yang terkena prilaku LGBT.
4. Peran Media Massa
Sangat diharapkan agar media massa menampilkan sesering mungkin untuk menyebutkan kisah-kisah mereka yang awalnya terkena prilaku LGBT, kemudian bisa menjadi seorang yang normal kembali. Media Massa hendaknya membangkitkan rasa optimisme pada orang-orang, bahwa mereka yang menjadi korban LGBT, ternyata bisa disembuhkan.
5. Peran Pemerintah
Pemerintah diharapkan melakukan peninjauan peraturan perundang-undangan untuk mencegah terjadinya hubungan seksual yang sejenis, dan mencegah penyebaran pornografi secara umum. Pemerintah dan DPR perlu untuk segera membuat peraturan untuk mencegah dan menutup celah daru usaha kelompok tertentu yang ingin melegalisasi LGBT, seperti yang terjadi itu dari Amerika dan negara-negara lainnya.
Dapat juga masyarakat Indonesia yang memiliki kemampuan, agar peduli pada pemasalahan ini dengan mengajukan gugatan judicial review terhadap pasal-pasal KUHP yang masih lemah dalam pencegahan kejahatan seksual.Pemerintah bersama masyarakat harus bergerak cepat untuk pencegahan LGBT, serta juga memberikan penyuluhan tentang LGBT.
6. Peran Para Tokoh, Ulama dan Ahli Pendidikan
Masjid-masjid besar diharapkan untuk membuka klinik LGBT, untuk memberikan penyuluhan keagamaan kepada penderita LGBT. Peran para ulama, da’i dan ahli pendidikan sangat penting agar memberikan pendidikan dan nesehat yang ampuh agar para penderita LGBT bisa kembali normal.
Para tokoh yang memiliki pengaruh besar di masyarakat, dapat melakukan pendekatan kepada para pemimpin media massa yang terutama televisi, untuk mendorong agar media massa ikut berperan memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar terhindar dari LGBT.
7. Peran Masyarakat
Masyarakat hendaknya melakukan pendekatan yang baik dan tidak memandang miring para pelaku LGBT, karena bagaimanapun pelaku LGBT merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak sebagai manusia. Yang perlu dilakukan adalah menyadarkan para pelaku LGBT dari kekeliruannya.
Dari semua poin tersebut, saya menambahkan peran bagi orang-orang yang memiliki rezeki lebih bisa memberikan beasiswa secara khusus kepada calon-calon doktor yang menulis disertasi dan bersungguh-sungguh dalam penanggulangan LGBT.
Hal ini nantinya akan sangat membantu masyarakat, agar bisa dengan baik dan benar untuk berhadapan dengan pelaku LGBT, dan menyadarkannya agar kembali menjadi manusia yang normal.
Semoga penjelasan saya diatas bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita terhadap LGBT dan penanganannya.
Penulis : Kharisman Risanda (Tokoh Muda Riau Pesisir)
(Nof)


Komentar Via Facebook :