Firdaus dan Amalan Puasa
Opini: Randy Syahrizal
“Samurai yang dalam duel pedang tidak menunjukkan ambisi menang, dan menunjukkan sikap tenang serta pasrah akan nasib buruk/kekalahan, justru akan membuat lawannya bertekuk lutut.” kesimpulan yang saya ambil dari Film Epik Jepang berjudul “After Rain.”
Ada yang menarik hati saya untuk mencari tahu persoalan puasa dan hubungannya dalam membentuk kepribadian. Meski hal ini sudah lama saya yakini namun baru beberapa bulan belakangan ini saja saya benar-benar melihat langsung manfaatnya. Sayangnya, manfaat tersebut bukan manfaat yang harusnya saya nikmati. Justru saya melihatnya dari seseorang yang saat ini sedang saya kagumi. Dia adalah Firdaus, Walikota Pekanbaru (non aktif) yang saat ini mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Riau bersama Rusli Effendi, seorang politisi PPP, mubaligh dan sekretaris Mesjid Istiqlal. Firdaus merupakan satu dari dua orang tokoh yang saya tahu mengamalkan Puasa Senin-Kamis, yang satunya lagi ada BJ Habibie, Presiden RI ketiga.
Sebelum mengetahui kebiasaannya (puasa senin kamis), Rinaldi Sutan Sati (kawan saya semasa kuliah di USU) bercerita bahwa sosok Firdaus merupakan pribadi rendah hati yang menarik untuk dipelajari. Saya tentu tak langsung percaya sebelum membuktikannya. Apalagi saya termasuk orang yang skeptis terhadap politisi dan pejabat negara di Indonesia. Tepatnya Juli 2017 yang lalu, saya mencoba sendiri pengalaman itu, berkunjung kerumah kediaman Walikota seorang diri dan masuk kerumah tersebut (meski tak terlalu jauh masuk kedalam rumahnya) dan duduk di teras halaman rumahnya yang dipenuhi oleh orang-orang yang saya tidak tahu apa kepentingannya. Tentu saja yang menarik bagi saya adalah kemudahan masuk kerumah dinas orang nomor satu di Pekanbaru. Nyaris tidak ada pengawalan ketat dan pemeriksaan berbelit-belit seperti di kota asal saya. Ternyata orang-orang yang datang kerumah kediaman tersebut mewakili kepentingannya masing-masing, ada yang untuk keperluan dinas, hingga rakyat biasa yang meminta pertolongan. Sampai disini saya hampir yakin keterangan dari seorang teman tersebut, dan ya, saya tertarik mempelajarinya.
Waktu itu kalau tidak salah saya mengikuti agenda Firdaus dalam memantau perkembangan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan Kampung Dalam, Pekanbaru. Saat itu dia sedang berpuasa, dan dia berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit dibawah terik matahari yang menyengat, dan selalu menjelaskan manfaat IPAL dan menjaga kebersihan lingkungan kepada warga sekitar. Saya sendiri berusia jauh lebih muda dibandingkan Firdaus, namun saya kelelahan dan menggerutu dalam hati oleh karena teriknya matahari Pekanbaru. Dan karena itu pula saya makin tertarik mempelajari sosok yang tidak saya kenal sebelumnya.
Saya beruntung pada suatu malam diajak oleh Rinaldi berkunjung kembali ke rumah dinas kediaman. Karena menunggu giliran tamu yang ingin menyampaikan aspirasi kepada Firdaus, kami kebagian waktu kurang lebih pukul 11 malam. Itu kali pertama saya bisa terlibat ngobrol dengan beliau. Percakapan kami bertigapun mengalir begitu saja, hampir tanpa jarak dan batasan, bahkan kami sering lupa bahwa kami sedang berdialog dengan pejabat negara, kepala daerah pula. Dari sekedar perkenalan biasa, hingga pembicaraan mengarah pada apa yang dia maksud dengan Pekanbaru madani.
Saya ingat persis Firdaus bercerita tentang Tenayan Raya, sebuah daerah yang masih asing ditelinga saya waktu itu. Intinya dia menjelaskan bahwa Tenayan Raya dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang kini ia sulap menjadi area perkantoran pemerintahan yang rencananya akan beroperasi dipertengahan 2018. Dia juga banyak bercerita tentang konsepsi Trisakti Soekarno yang ia ambil saripatinya menjadi etos kerja yang bernama trilogi, sebuah etos kerja yang mengawinkan kedisiplinan, profesionalisme dengan akhlak atau kepribadian yang baik. Sampai sejauh ini saya baru mengerti, pilihan membangun kawasan pinggiran mungkin saja untuk menghindari praktek penggusuran, disamping tentu saja untuk mengembangkan perekonomian kerakyatan warga sekitar Tenayan Raya. Diskusi itu berakhir sekitar pukul 03.00 pagi, entah sudah berapa topik.
Satu hal yang pasti, dibalik kecerdasannya, Firdaus memang orang yang sangat lemah lembut. Saya bahkan harus teramat fokus mendengarkannya bicara dikarenakan halusnya cara bicaranya. Barangkali saya terlalu berlebihan, maklum saja, di kota asal saya yakni Medan, para pejabat kebanyakan berbicara keras, bahkan tak sedikit yang arogan, dan yang paling asik pun masih mengisyaratkan senioritas, sangat jauh berbeda dengan Firdaus. Saya pikir orang Pekanbaru, terlebih yang pernah berdialog dengannya akan setuju dengan pendapat saya ini.
Kembali pada soal puasa yang diamalkan oleh Firdaus. Sejak dahulu (saya menduga sebelum masehi), puasa dipercaya oleh manusia sebagai metode mengendalikan diri serta sarana mendekatkan diri kepada sang pencipta. Banyak kepercayaan (baik samawi dan non Samawi) menyerukan puasa kepada para pengikutnya. Hal ini dapat dilacak dari kitab-kitab suci maupun kebiasaan-kebiasaan yang masih dilakukan hingga sekarang. Puasa menurut para ahli (utamanya kedokteran) sangat bermanfaat, tidak hanya untuk kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental. Allan Cott, M.D. dalam bukunya Why Fast, membeberkan berbagai manfaat puasa, antara lain: menjadikan fisik dan mental lebih baik, awet muda, membersihkan badan, menurunkan tekanan darah dan kadar lemak, mengendorkan ketegangan jiwa, menajamkan fungsi indrawi, memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri, dan yang terpenting menambah kecerdasan.
Dalam perenungan pribadi, saya menganalogikan tubuh kita ibarat mesin yang bekerja. Salah satu perawatan mesin yang paling mudah adalah dengan mengistirahatkannya selama beberapa waktu (tergantung jenis mesinnya). Begitupun tubuh, 365 hari ia dipakai beraktifitas, dan Islam mewajibkan pengistirahatan tubuh (mesin) selama sebulan penuh, yakni dibulan Ramadhan. Adapun puasa sunnah (bernilai ibadah) yang umumnya diamalkan adalah puasa dalam 2 hari seminggu, yakni Senin dan Kamis. Tubuh yang beraktifitas seminggu lamanya diistirahatkan selama 2 hari yang berjarak. Kenapa saya sebut istirahat? bukankah tidur merupakan istirahat? Ada bedanya. Dalam puasa, karena makanan dan minuman tidak masuk, maka tubuh menjadi lemah, dan organ tubuh juga tidak banyak bekerja. Inilah istirahat dalam analogi tubuh dan mesin.


Komentar Via Facebook :