Tidak Mengeluh dan Punya Prinsip, keluarga Ini Lebih Baik Mulung Dari Pada Ngemis

Tidak Mengeluh dan Punya Prinsip, keluarga Ini Lebih Baik Mulung Dari Pada Ngemis

Tembilahan, RanahRiau.com- Keluarga memperhatinkan kini ditemui disalah satu Jalan Tanjung Harapan Parit 13, Kelurahan Pekan Arba, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Dari pantauan awak media, Rajali (59 Tahun) selaku kepala keluarga, yang mempunyai Istri bernama Nurhayati (38 Tahun) dan anak perempuan Mardiana (11 Tahun) itu nenempati rumah gubuk yang tidak layak huni.

Sebab, Rumah yang berada sekitar 25 Meter dari jalan besar Tanjung Harapan, dengan ruas Rumah lebar 3 Meter, sedangkan panjang 2 meter dengan kondisi rumah yang sudah mau ambruk dan tanah milik masyarakat, dengan pekerjaan memulung barang-barang tak terpakai tapi bisa dijual.

"Lebih baik kami memulung dari pada kami mengemis meminta-minta," ucap Nurhayati, minggu (11/02/2018).

Dalam hal ini, Nurhayati menceritakan sudah 6 tahun keluarganya tinggal di gubuk itu, sampai saat ini tidak ada uluran tangan dari Pemerintah untuk membantu keluarga tersebut.

Di tambah lagi umur yang sudah tua, beban dalam mendidik anak nya yang saat ini masih berstatus pelajar, kelas 4 SD.

"Cita-cita anak saya menjadi seorang dokter, tapi dengan faktor biaya yang tidak memungkinkan, mungkin tidak sanggup kami membiayai kemauannya, sedangkan makan hari kehari saja kami memulung dan kemungkinan anak kami sampai lulus SD ini saja sekolah, smoga saja apa yang di cita-citakannya bisa tercapai" harapnya.

Selain rumah yang mau ambruk, alas untuk tidur saja beralaskan kardus dengan papan melapak ketanah langsung, dan pendapatan perhari memulung paling besar 50.000.00 (Lima Puluh Ribu Rupiah) terkadang 10.000.00, (Sepuluh Ribu Rupiah) bisa juga tidak ada dapat sama sekali.

Tambahnya, Nurhayati menceritakan anaknya kemaren dilahirkan bukan di rumah, atau rumah sakit. Melainkan dilahirkan di becak tempat membuat barang hasil mulung, serta besarnya juga di becak sampai masuk SD.

Bahkan karna sering di bawa larut malam untuk bekerja memulung, mardiana hampir kena kekerasas asusila oleh para pereman. Beruntung saja kami mengetahui hal tersebut.

"Jika kami tidak mengetahui mungkin anak kami hancur masa depannya," sedihnya.

Nurhayati berharap agar banyak yang mengulurkan tangan kepadanya, setidaknya menjenguk keadaan keluarga tersebut.



Reporter    : Yanda


 

 

 

 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :