Amerika Yakinkan Negaranya bisa sepakati Iklim Paris dengan Kondisi Tertentu
Washington, RanahRiau.com- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson pada Ahad
(17/9) mengatakan AS dapat tetap berada dalam kesepakatan iklim Paris di
bawah kondisi tertentu. Pernyataan Tillerson ini menandakan pergeseran
sikap dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
Sebelumnya AS telah membuat sekutu-sekutunya marah
karena memutuskan untuk membatalkan kesepakatan tersebut. Menurut
Tillerson, Presiden Trump bersedia bekerja sama dengan mitranya dalam
kesepakatan Paris jika AS dapat membangun situasi yang adil dan seimbang
untuk warga Amerika.
"Presiden mengatakan, dia terbuka untuk situasi yang
memaksa kita untuk terlibat dengan orang lain mengenai isu yang kita
semua sepakati masih merupakan isu yang menantang," kata Tillerson,
dalam acara Face Nation di CBS.
Penasihat Keamanan Nasional Trump, H.R. McMaster, memiliki pendapat serupa. Dalam acara This Week di ABC pada Ahad (17/9), dia mengatakan Trump selalu bersedia mempertimbangkan perubahan terkait kesepakatan iklim.
"Dia membiarkan pintu terbuka untuk masuk kembali di
lain waktu jika ada kesepakatan yang lebih baik untuk Amerika Serikat.
Jika ada kesepakatan yang menguntungkan rakyat Amerika, tentu saja,"
kata McMaster.
Kesepakatan iklim Paris, yang dicapai oleh hampir 200
negara pada 2015, dimaksudkan untuk membatasi pemanasan global hingga 2
derajat atau kurang pada 2100. Pengurangan ini dilakukan melalui janji
untuk mengurangi karbon dioksida dan emisi lainnya dari pembakaran bahan
bakar fosil.
Trump telah memenuhi janji kampanyenya untuk mundur dari
kesepakatan iklim ini pada Juni lalu. Dia mengumumkannya dengan
singkat, "Kami akan keluar."
Trump mengatakan, kesepakatan tersebut akan melemahkan
ekonomi AS dan kedaulatan nasional. Keputusannya menimbulkan kemarahan
dan kecaman dari para pemimpin dunia.
Dibutuhkan empat tahun bagi sebuah negara untuk menarik
diri dari kesepakatan Paris. AS akan tetap berada dalam kesepakatan
tersebut sampai dua hari setelah masa jabatan pertama Trump berakhir.
Sebelumnya, pada Sabtu (16/9), The Wall Street Journal
melaporkan pejabat pemerintahan Trump mengatakan AS tidak akan menarik
diri dari kesepakatan tersebut. AS bahkan telah menawarkan diri untuk
terlibat kembali dalam kesepakatan tersebut.
Namun McMaster menolak laporan tersebut dan menyebutnya
tidak akurat. "AS keluar dari kesepakatan iklim Paris," katanya dalam
program Fox News Sunday.
Tillerson mengatakan Gary Cohn, penasihat ekonomi utama
Trump, sedang mengawasi masalah ini. "Jadi menurut saya, rencana
direktur Cohn adalah untuk mempertimbangkan cara lain untuk bekerjasama
dengan mitra di Paris Climate Accord. Kami ingin produktif, kami ingin
membantu," ujar Tillerson.
Trump mengatakan kesepakatan Paris sangat memudahkan
negara-negara pencemar utama seperti Cina dan India, yang menempatkan
industri AS pada risiko besar. Namun presiden dari Partai Republik itu
telah menunjukkan fleksibilitasnya dan beberapa sekutu AS telah bersikap
vokal mengenai pentingnya kesepakatan iklim.
Pada sebuah konferensi pers pada Juli lalu bersama
Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris, Trump membuka pintu
pembalikan keputusannya. "Sesuatu bisa terjadi sehubungan dengan
kesepakatan Paris. Mari kita lihat apa yang terjadi," kata Trump.
(Republika.co.id)


Komentar Via Facebook :