Feature
Membangun Baladhika Karya, Soliditas Tonggak Awal Tujuan Hendryk L Karosekali
Hendryk L Karosekali
Sejarah Singkat
Dinamika organisasi dimanapun memang terus mengalami pasang surut, baik kemajuan, kesolidan termasuk kemunduran. Meskipun demikian, eksistensi organisasi harus tetap terus di kawal dan dijaga sebagai bagian integral untuk menjaga amanat bangsa khususnya amanat para pendiri organisasi.
Bagi Baladhika Karya, tanggal 24 Oktober 1963 adalah sebuah hari yang keramat. karena di hari itu sebuah Pyshical Battle Unit di bentuk oleh Mayor Suhardiman yang kala itu adalah ajudan Menhankam Pangab Letjen A. Yani dan Adolf Rahman ( dari sipil ). Untuk berada di garis depan dalam menhadapi Pemuda Rakyat (organisasi kepemudaan yang berhaluan Komunis) yang merupakan underbow PKI ( Partai Komunis Indonesia ).
Seperti di ketahui pada 20 Juli 1960, mayor Suhardiman juga di mandatkan oleh Letjen A Yani dan dengan sepersetujuan Bung Karno ( Presiden pertama ) untuk membuat sebuah gerakan untuk menahan laju ideologi PKI yang akan mengambil alih kekuasaan dan mengganti dasar negara serta ideologi bangsa yaitu Pancasila dengan ideologi Komunis, maka di bentuklah SOKSI ( Sentral Organisasi karyawan Sosialis Indonesia ) dengan semangat nasionalisme dan dengan strategi merah di lawan merah…..karena identik komunis adalah warna merah, dan oleh karena itu SOKSI juga mengambil warna merah sebagai warna perjuangan dan keberanian dalam menghadapi musuh bangsa.
Dalam perjalanan SOKSI, Mayor Suhardiman membentuk lagi lembaga-lembaga konsentrasi yang juga di peruntukkan agar menandingi pergerakan organisasi underbow PKI dengan contoh sbb :
SOBSI ( PKI ) VS SOKSI ( nasionalis )
Gerwani ( PKI ) VS Gerwasi ( Gerakan Wanita Sosialis Indonesia )
Pemuda Rakyat ( PKI ) VS Satuan Serba guna ( SS adalah cikal bakal Baladhika Karya )
Melalui organisasi-organisasi tersebut, pergerakan melawan laju pesatnya rayuan PKI terhadap rakyat sangat mujarab, karena strategi ini terbukti efektif karena rakyat banyak yang salah dalam pengetahuan tentang SOBSI tidak sama dengan SOKS dan cenderung malahan sebagai musuh, dan banyak dari rakyat yang mau masuk ke SOBSI keliru masuk SOKSI, dan ini menguntungkan karena SOKSI dapat menyelamatkan banyak generasi dan masyarakat dari kekeliruan memilih untuk tidak mengikuti ideology komunis yang di gembar gemborkan oleh PKI dengan bahasa bahwa merekalah adalah “dewa” penolong dan penyelamat rakyat dari kemiskinan, keterbelakangan dan keterpurukan.
Pergerakan melawan Komunis di berbagai daerah sangat sengit, terutama di Sumatera Utara, yang di kenal dengan peristiwa tanjung morawa atau bandar Betsi dengan gugurnya Peltu Sudjono yang menjaga areal kebun sawit PTPN yang di serbu oleh Pemuda Rakyat, kemudian di Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta, dengan melihat kurangnya koordinasi dalam pergerakan dari pusat sampai ke daerah maka mayor Suhardiman membuat strategi militer dan di bentuklah “ Brigade Satuan Serbaguna ” agar pergerakan perlawanan dapat terkoordinasi dengan baik dan terukur. Inilah latar belakang kelahiran dari Brigade SS yang merupakan cikal bakal Baladhika Karya.
Dalam perjalanannya SOKSI membutuhkan pasukan penggebrak yang berani, loyal dan mempunyai semangat nasionalisme untuk membela dan menyelamatkan bangsa dan negaranya dari cengkeraman paham komunis, dengan ini lahirlah Brigade “Satuan Serbaguna” ( SS ) dengan seragam berwarna biru tua kehitaman yang kala itu di ambil lebih banyak dari angkatan bersenjata dan kepolisisan yang di berikan seragam ormas, sehingga dalam pergerakannya lebih leluasa dalam melakukan penyusupan, penggalangan dan penindakan ataupun operasi di lapangan. Dan dalam perjalannya SS mengalami beberapa kali pergantian atau penyempurnaan nama, menjadi Pemuda Pelopor Progresif ( P3I ), Baladhika Wirapati dan akhirnya menjadi “
Baladhika Karya “. Dimana sejarah mencatat bahwa para pendiri Baladhika Karya, yakni ;
Kamaludin Djamin
Yaseanowas
Harlem Simandjuntak
Suhardiman
Adolf Rachman
Meraka adalah pahlawan-pahlawan yang merintis pergerakan melawan komunis di daerah masing-masing, demi mempertahankan Kedaulatan bangsanya.
Pada sisi lain, dinamika perkembangan baik yang terjadi pada lingkungan strategis global, regional dan nasional telah mendorong perubahan yang signifikan terkait dengan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Secara perlahan namun pasti, gelombang liberalisasi memasuki ruang batin dan lahir kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Jika era tahun 1960-an Baladhika Karya harus berhadapan dengan musuh nyata yakni SOBSI dan Pemuda Rakyat yang berhaluan PKI, maka saat ini Baladhika Karya harus berhadapan dengan musuh laten yakni liberalisasi, yang telah nyata-nyata mereduksi sendiri-sendi mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Dampak lebih jaunya adalah Pancasila dan UUD 1945 seolah menjadi “tumpul” dan tidak bisa di Implementasikan. Padahal seudah jelas teruji dan terbukti bahwa Pancasila dan UUD 1945 telah mampu menjadi ideology negara yang mampu membendung persebaran Ideologi komunis selama beberapa decade terakhir.
Dengan mengambil spirit perjuangan para pendiri Baladhika Karya dan elan perjuangan Baladhika Karya dalam menghadapi SOBSI dan Pemuda Rakyat dimana Baladhika Karya mendasarkan elan perjuangannya pada Pancasila dan UUD 1945, maka melalui forum Rapimnas II Baladhika Karya pada tanggal 26-28 Februari 2016 di Wisma Wiladatika Cibubur yang kemudian dengan keinginan 2/3 Dewan Pimpinan Daerah selaku pemilik suara yang sah, Rapimnas II di tingkatkan menjadi Musyawarah Besar Luarbiasa ( Mubeslub ). Dan dengan terselengaranya acara mubeslub terpilihlah dari hasil voting sbb :
Bakal calon adalah :
Ferry Juan
Hendryk L Karosekali
Sdr Ferry Juan sebagai Ketua Umum Baladhika Karya adalah penyelenggara Rapimnas II tahun 2016. Berdasarkan pada pandangan umum Depidar-Depidar dalam forum Rapimnas II, Depidar-Depidar mengamanatkan diselenggarakannya Mubeslub Baladhika Karya guna melakukan regenerasi, revitalisasi, reorganisasi dan rekaderisasi dalam tubuh Baladhika Karya secara komperhensif dan simultan.
Karena menurut pandangan dari para Depidar selaku pemilik suara yang sah, perjalanan Depipus Baladhika Karya kurang optimal dalam rangka menjalankan hal-hal tersebut di atas. Berangkat dari desakan diadakannya Mubeslub tersebut, terpilihlah Sdr. Hendryk L Karosekali sebagai Ketua Umum Baladhika Karya melalui melalui mekanisme voting yang berlangsung secara demokratis, semangat kebersamaan, dan konstitusional, dengan perolehan suara; Ferry Juan : 4 suara, Hendryk L Karosekali : 11 suara dan 2 suara abstain.
Dan dalam sejarah perjalanan Baladhika Karya baru kali ini pemilihan Ketua Umum terpilih di pilih melalui mekanisme pemilihan, karena sebagaimana di ketahui sejak pertama dan samapai periode kepemimpinan Sdr. Ferry Juan Ketua Umum Baladhika selalu di tunjuk oleh Pendiri Utama Baladhika Karya yaitu ; Mayjen (Purn ) TNI Suhardiman, dan setelah beliau tiada maka mekanisme organisasi di kembalikan pada mekanisme Demokrasi sebagai semangat kebersamaan Persaudaraan Baladhika Karya.
Semangat para pendiri dan elan perjuangan Baladhika Karya pada era tahun 1960-an, juga mengilhami peserta Mubeslub untuk mengembalikan kembali Baladhika Karya pada khithoh perjuangannya. Dimana secara sosiologi dan historis, kelahiran Baladhika Karya pada 24 Oktober 1963 tidak terlepas dari permasalahan bangsa yang membuat pertaruhan jati diri bangsa yang terancam akan luluh lantak dalam rangka perang ideologi dengan mulai mengakarnya ideologi komunis yang mulai masuk dalam pori-pori kehidupan masyarakat, terutama kaum buruh dan petani. Kenyataan ini yang menimbulkan motivasi serta aspirasi kelahiran Baladhika Karya yang bernama pertama kali adalah Satuan Serbaguna ( SS ) sekaligus dituangkan dalam rumusan tujuan berdirinya, yaitu :
Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjaga dan mengangkat derajat bangsa dan rakyat Indonesia.
Menjaga dan mengimplementasikan nilai -nilai keluhuran pancasila. Ini menunjukkan bahwa Baladhika Karya bertanggung jawab terhadap permasalahan bangsa dan negara Indonesia serta bertekad mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan manusia Indonesia secara utuh.
Makna rumusan tujuan itu akhirnya membentuk wawasan dan langkah perjuangan Baladhika Karya kedepan yang terintegrasi dalam dua aspek persatuan dan aspek ke-sebangsaan. Aspek persatuan tercermin melalui komitmen Baladhika Karya untuk selalu mewujudkan nilai-nilai Pancasila secara utuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pertanggungjawaban fungsi insan Pancasila, sedangkan aspek kesebangsaan adalah komitmen Baladhika Karya untuk senantiasa bersama-sama seluruh rakyat Indonesia merealisasikan cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia demi terwujudnya cita-cita masyarakat yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkeadaban.
Dalam sejarah perjalanan Baladhika Karya pelaksanaan komitmen persatuan dan kesebangsaan merupakan garis perjuangan dan misi Baladhika Karya yang pada akhirnya akan membentuk kepribadian Baladhika Karya sebagai Masyarakat Karya dalam totalitas perjuangan bangsa Indonesia kedepan.
Khitoh Baladhika Karya sebagaimana rumusan tujuan dan maknanya tersebutlah yang mengilhami para peserta Mubeslub untuk mengembalikan lambang Baladhika Karya sebagaimana lambang pertama Baladhika Karya pada saat didirikan. Hal ini dianggap sebagai salah satu representasi kembalinya Baladhika Karya kepada khitoh perjuangannya.
Dan pada rapat Pleno ke 7 di ajang Mubeslub tersebut di sepakati untuk Baladhika Karya kembali ke khitah tentang penggunaan Lambang yang di kembalikan ke awal terbentuknya tanpa meninggalkan semboyan “ Jaya Pasopati Pratiwi “
Sementara untuk seragam loreng merah, hijau dan hitam bertuliskan baladhika karya, yang pada awalnya alur loreng mengalir ke bawah dan pada tahun 80’an juga di rubah mengarah ke samping, maka di kembalikan lagi ke awal perjuangan menjadi mengalir ke bawah kembali.
Kondisi dan situasi bangsa ini sekiranya menuntut perjuangan dan pengorbanan yang tulus ikhlas dari anak-anak bangsanya untuk tetap dengan semangat persaudaraan bersama-sama mempertahankan dan bahu-membahu membangun bangsa dan negaranya dari rongrongan pihak luar dan maupun pengkhianatan dari dalam. Pengalaman masa lalu yang membuat bangsa Indonesia harus mejadikan sebuah pembelajaran bagaimana menjadi bangsa yang Berdaulat secara Politik,
Berdikari secara Ekonomi, Berkepribadian secara Sosial Budaya. Sehingga derajat dan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar bukan hanya slogan, bagaimana kejayaan Sumpah Palapa dapat menjadi sejarah yang dapat terulang dan Indonesia bisa menjadi Mercusuar Dunia dan menjadi negara yang di perhitungkan dalam percaturan dunia.
Profil Ketua Umum Baladhika Karya Hendryk L Karosekali
Adalah Hendrik L Karosekali yang Lahir di Jakarta dengan Pendidikan S2 Marketing ini mengawali karirnya menjadi seorang Salesman, hingga menjadi bankir disalah satu perusahaan di Indonesia.
tidak puas sampai disitu, Hendrik L Karosekali yang juga mendapat predikat A dari lemhanas RI PPRA 48 tahun 2012 inipun membuka Usaha Sendiri. sebab dengan usaha sendiri akan membantu banyak orang dalam meningkatkan kesejahteraan.
Atas dasar itulah, Hendryk L Karosekali peraih The best leader sales Team Amex 2001 ini berkeinginan pemuda di Indonesia bisa mandiri dan berkarya untuk menghadapi pola dunia secara Global, sesuai dengan tujuan selalu mewujudkan nilai-nilai Pancasila secara utuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pertanggungjawaban fungsi insan Pancasila
Semenjak dirinya menjadi Ketua Umum Baladhika Karya, langkah yang pertama dilakukan adalah melakukan konsolidasi keanggotaan di seluruh Indonesia, hal ini penting bagi dia untuk memperkuat soliditas organisasi dalam menjalankan program program Baladhika Karya.
Hendryk L Karosekali yakin, dengan Baladhika Karya kembali ke khittah dan meluruskan cita cita pendiri mampu membawa Organisasi ini menjadi lebih baik lagi.
Hal Itu dirasakan oleh anggota Baladhika Karya, semenjak kepemimpinan Hendryk L Karosekali menjadi lebih solid dan ada progres positif bagi keberlangsungan organisasi.(Fes).


Komentar Via Facebook :