Gelar Workshop Konsep Pembangunan Jalan Ramah Lingkungan, ini Harapan WWF

Gelar Workshop Konsep Pembangunan Jalan Ramah Lingkungan, ini Harapan WWF

Pekanbaru, RanahRiau.com- WWF menggelar pelatihan tentang konsep pembangunan infrastruktur jalan yang ramah lingkungan. Ini dinilai sesuai dengan kondisi alam Riau, Bertempat di salah satu hotel berbintang di Pekanbaru, Kamis (4/5/17), organisasi global konservasi lingkungan, World Wide Fund for Nature (WWF) menggelar workshop tentang konsep pembangunan infrastruktur jalan yang ramah lingkungan atau Eco-Road Construction.

Dari pihak WWF Indonesia hadir pembicara yakni Oki Hadian (Conservation Science Unit ), Thomas Barano (Manager CSU) dan M Yudi Agusrin Syahri (Manager Cluster 1 WWF MCAI Rimba). Sementara itu dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat (PUPera) diwakili Hadi Sucahyono, Kepala Kawasan Strategis, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW).

 Tim WWF Indonesia menekankan perlunya konektivitas landscape di wilayah koridor Riau, Jambi dan Sumatera Barat (Rimba). Konektivitas ini diharapkan dapat didukung upaya pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan. Hal ini sesuai dengan amanat Perpres No 13 Tahun 2012 tentang Tata Ruang Pulau Sumatera.

Namun, hasil kajian WWF Indonesia melalui pendekatan InVest (Integrated Valuation for Ecosystem Services and Tradeoffs) menyatakan adanya kondisi kritis akibat pembangunan jalan raya yang melintasi kawasan hutan lindung dan konservasi di kawasan ekosistem Koridor Rimba.

Misalnya, jalan yang menembus kawasan konservasi di Koridor RIMBA adalah di kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh. Ada jalan sepanjang sekitar 9,3 kilometer (KM) yang membelah kawasan koridor Rimba. Jalan tersebut memotong jalur satwa dari Taluk Kuantan - Kiliranjao. Koridor Rimba merupakan salah satu kawasan yang masih memiliki potensi keanekaragaman hayatinya.

Dari hasil InVest WWF Indonesia mencatatkan manusia adalah kelompok paling banyak memasuki kawasan koridor. Untuk itu, WWF Indonesia mendorong konsep Eco-Road, sebuah konsep pembangunan jalan raya yang ramah lingkungan. Di mana, berbagai kepentingan pembangunan sosial dan ekologi tetap bisa terjaga dengan baik.

"Konsep pembangunan infrastruktur jalan yang ramah lingkungan ini tentunya menjadi penting dipertimbangkan karena setiap pembanguna infrastruktur maka selalu berdampak terhadap keberlangsungan lingkungan hidup,” kata Thomas Barano, Manager CSU WWF Indonesia.

Pihak Direktorat Bina Marga Kemen-PUPera sangat mengapresiasi workshop WWF itu. Apalagi apa yang dibahas dalam diskusi itu sudah sejalan dengan perencanaan nasional. Dalam perencaan nasional misalnya, jalan nasional terdiri tol dan non tol totalnya 10 persen di jalan raya yang ada di Indonesia. Sepuluh persen lagi merupakan jalan propinsi. Sedangkan sisanya merupakan tanggung jawab dari pemerintah daerah.

Secara nasional pembangunan jalan secara nasional memiliki target hingga 2019 sepanjang 47.017 km dan jalan tol sepanjang 989 km.

Sementara itu, Anshori Djamsal, dosen dari Universitas Lampung mengatakan kalau banyak infrastruktur yang dibangun pemerintah yang belum mempertimbangkan kepentingan lingkungan yang berkelanjutan. Dari mulai pembangunan jalan tol, kereta api dan jalan raya lainnya, sering kali tidak mempertimbangkan kepentingan mahluk hidup secara luas.

Harus diakui, jalan adalah salah satu infrastruktur yang paling merusak jalur habitat. Misalnya, jalan tol sumatera pasti akan mempengaruhi habitat.

“Jangankan gajah, bahkan kodok juga terganggu. Jadi pembangunan jalan raya, jalan tol dan kereta api, telah mengganggu kualitas habitat. Sekarang ini, pemerintah kita tidak bisa sembarangan membangun jalan. Karena konsep Eco-Road, maka pembangunan jalan harus menyeimbangkan kepentingan mahluk hidup. Baik flora maupun satwanya,” pungkas Anshori.


(RiauTerkini.com)

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :