Catatan Hari Santri 2026

Santri, Rakyat, dan Jalan Pembebasan: Jangan Biarkan Agama Berjarak dari Penderitaan Rakyat

Santri, Rakyat, dan Jalan Pembebasan: Jangan Biarkan Agama Berjarak dari Penderitaan Rakyat

Foto: Ist, Sumber : Net

RANAHRIAU.COM- Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan tahunan yang dipenuhi upacara, sarung, peci, dan lantunan selawat. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali sejarah panjang kaum santri dalam perjuangan bangsa, sekaligus menguji sejauh mana nilai-nilai keislaman benar-benar hadir di tengah penderitaan rakyat.

Santri bukan hanya mereka yang duduk bersila di hadapan kitab kuning. Santri adalah bagian dari sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, ketidakadilan, dan segala bentuk penindasan yang merampas martabat manusia. Dari pesantren, kita belajar bahwa ilmu bukan sekadar jalan menuju kehormatan pribadi, melainkan tanggung jawab moral untuk membela kehidupan.

Namun, di tengah gegap gempita peringatan Hari Santri 2026, ada pertanyaan yang layak kita ajukan: Sudahkah semangat perjuangan santri benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, atau justru berhenti sebagai seremoni yang kehilangan daya kritisnya?

Agama Harus Berdiri di Sisi Mereka yang Tertindas

Islam tidak lahir untuk menjadi perhiasan kekuasaan. Ia membawa pesan pembebasan, menentang ketidakadilan, dan mengingatkan manusia agar tidak membangun kemakmuran di atas penderitaan sesamanya.

Al-Qur'an, dalam Surah An-Nisa ayat 75, mempertanyakan mengapa manusia tidak berjuang membela laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tertindas. Ayat ini bukan sekadar seruan spiritual yang berhenti di bibir. Ia adalah panggilan moral untuk berpihak kepada mereka yang suaranya dibungkam oleh kekuasaan dan keadaan.

Dari perspektif sosialis progresif, pesan tersebut mengandung tuntutan yang nyata: kemiskinan tidak boleh dianggap semata-mata sebagai kegagalan individu, sementara ketimpangan struktural dibiarkan tumbuh tanpa kritik.

Ketika buruh bekerja keras tetapi upahnya tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup, ketika petani menghasilkan pangan tetapi kesulitan mendapatkan harga jual yang layak, ketika nelayan mempertaruhkan nyawa di laut tetapi tetap hidup dalam ketidakpastian, dan ketika anak-anak dari keluarga miskin kesulitan memperoleh pendidikan bermutu, persoalannya bukan sekadar kurangnya kesabaran.

Ada struktur ekonomi, kebijakan publik, dan distribusi sumber daya yang harus diperiksa.

Di sinilah santri perlu mengambil peran. Bukan untuk menjadikan agama sebagai alat pertentangan tanpa arah, melainkan untuk menghadirkan keberanian moral dalam mengoreksi ketidakadilan.

Sebab, kesalehan yang hanya sibuk mengurus hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi abai terhadap penderitaan manusia lainnya, patut terus-menerus kita renungkan.

Pesantren dan Pendidikan yang Membebaskan

Pesantren memiliki posisi penting dalam sejarah pendidikan rakyat Indonesia. Di berbagai tempat, pesantren tumbuh menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat yang tidak selalu memiliki akses terhadap lembaga pendidikan formal.

Di sana, ilmu agama diwariskan, karakter dibentuk, solidaritas dirawat, dan kehidupan bersama dipelajari.

Namun, tantangan zaman menuntut pesantren untuk terus memperluas cakrawala pendidikan. Santri perlu menguasai ilmu keislaman sekaligus memahami persoalan sosial, ekonomi, politik, lingkungan, teknologi, dan kebudayaan.

Santri perlu membaca kitab kuning, tetapi juga harus mampu membaca kenyataan.

Mereka harus memahami fikih, tetapi juga peka terhadap ketidakadilan dalam kehidupan sosial. Mereka perlu menguasai ilmu tafsir, sekaligus memiliki keberanian menafsirkan persoalan kemiskinan, ketimpangan, korupsi, dan kerusakan lingkungan dengan kejernihan akal serta keteguhan moral.

Pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal dan mengulang pengetahuan. Pendidikan harus membantu manusia memahami mengapa ketidakadilan terjadi, siapa yang menanggung akibatnya, dan bagaimana keadaan tersebut dapat diubah secara bertanggung jawab.

Dalam pemikiran pendidikan kritis, Paulo Freire menyebut pentingnya kesadaran kritis agar manusia tidak sekadar menerima kenyataan sebagai sesuatu yang tidak mungkin diubah.

Semangat itu relevan bagi dunia pesantren. Santri tidak cukup dipersiapkan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk menilai keadaan dan memperbaikinya.

Tentu saja, pembaruan tersebut tidak berarti meninggalkan tradisi pesantren. Justru tradisi keilmuan, kedalaman spiritual, kesederhanaan, dan kedekatan pesantren dengan masyarakat dapat menjadi fondasi untuk melahirkan generasi yang berpengetahuan sekaligus berkeadilan.

Melawan Kemiskinan, Bukan Menyalahkan Orang Miskin

Salah satu persoalan besar dalam kehidupan sosial kita adalah kecenderungan memandang kemiskinan hanya sebagai urusan pribadi.

Orang miskin sering diminta bersabar. Buruh diminta bersyukur. Petani diminta bertahan. Nelayan diminta menerima keadaan. Sementara itu, ketimpangan kepemilikan sumber daya, akses pendidikan, kesempatan ekonomi, dan kualitas pelayanan publik tidak selalu mendapatkan perhatian yang sebanding.

Kesabaran memang penting. Syukur juga merupakan nilai luhur dalam Islam. Namun, keduanya tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik terhadap ketidakadilan.

Sabar bukan berarti membiarkan penindasan berlangsung. Syukur bukan berarti menutup mata terhadap ketimpangan. Tawakal bukan berarti menyerahkan seluruh persoalan kepada takdir tanpa melakukan ikhtiar untuk mengubah keadaan.

Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan bahwa membela rakyat miskin bukan pekerjaan sampingan dalam kehidupan beragama. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.

Karena itu, santri perlu hadir dalam gerakan pemberdayaan masyarakat, pendidikan rakyat, advokasi buruh, penguatan ekonomi petani, perlindungan nelayan, gerakan literasi, serta perjuangan menjaga lingkungan hidup.

Santri juga perlu berani mengkritik kebijakan yang merugikan masyarakat, termasuk ketika kebijakan tersebut lahir dari orang-orang yang mengaku religius.

Ukuran keberpihakan tidak terletak pada seberapa sering seseorang mengucapkan simbol-simbol agama, melainkan pada bagaimana ia memperlakukan sesama manusia dan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.

Jangan Biarkan Santri Menjadi Ornamen Kekuasaan

Ada bahaya yang perlu diwaspadai dalam kehidupan politik: ketika simbol agama digunakan untuk memperoleh legitimasi, sementara persoalan mendasar masyarakat tidak sungguh-sungguh diselesaikan.

Santri diundang ke panggung, tetapi suaranya tidak selalu didengar dalam pengambilan keputusan. Pesantren dipuji dalam pidato, tetapi kebutuhan pendidikan, kesejahteraan guru, fasilitas belajar, dan keberlanjutan lembaganya belum tentu memperoleh dukungan yang memadai.

Tentu, hubungan pesantren dengan negara dan dunia politik tidak harus dipertentangkan. Negara memiliki kewajiban mendukung pendidikan pesantren, sedangkan santri berhak terlibat dalam kehidupan politik sebagai warga negara.

Yang perlu dijaga adalah kemandirian moral dan intelektual.

Santri tidak boleh kehilangan daya kritis hanya karena kedekatan dengan kekuasaan. Pesantren tidak boleh menjadi sekadar panggung pencitraan. Agama tidak boleh dipersempit menjadi alat untuk membenarkan kebijakan yang seharusnya diuji secara terbuka.

Dalam demokrasi, kritik bukan tanda permusuhan. Kritik merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara untuk memastikan kekuasaan bekerja demi kepentingan umum.

Santri yang kritis bukan santri yang kehilangan adab. Sebaliknya, kritik yang berlandaskan ilmu, kejujuran, dan kepedulian terhadap rakyat merupakan bentuk tanggung jawab moral.

Kita membutuhkan santri yang berani mengingatkan penguasa ketika kebijakan menyimpang, membela masyarakat ketika hak-haknya dirampas, dan berdiri bersama kelompok rentan ketika mereka menghadapi ketidakadilan.

Bukan santri yang selalu berseberangan dengan negara, melainkan santri yang tidak kehilangan keberanian untuk membedakan kepentingan rakyat dari kepentingan segelintir elite.

Santri dan Masa Depan Solidaritas Rakyat

Di tengah perubahan zaman, tantangan santri semakin kompleks. Kemajuan teknologi membuka kesempatan baru, tetapi juga melahirkan kesenjangan akses pengetahuan. Pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan kemakmuran, tetapi belum tentu menjamin distribusi kesejahteraan yang adil.

Karena itu, santri harus mengambil bagian dalam membangun masyarakat yang lebih setara.

Gerakan literasi, misalnya, dapat menjadi jalan untuk memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat kecil. Melalui taman bacaan, diskusi publik, kelas menulis, dan ruang belajar bersama, pengetahuan tidak hanya berputar di lingkungan elite pendidikan, tetapi menjangkau kampung-kampung, permukiman buruh, komunitas nelayan, dan kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

Di sinilah pentingnya membangun ruang-ruang dialektika, tempat masyarakat tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga subjek yang mampu berbicara, bertanya, berdebat, dan merumuskan jalan keluar atas persoalannya sendiri.

Santri dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut. Mereka bisa menghubungkan nilai-nilai agama dengan ilmu pengetahuan, tradisi dengan perubahan, dan spiritualitas dengan perjuangan sosial.

Perubahan tidak selalu dimulai dari gedung-gedung besar atau pidato para pejabat. Ia bisa tumbuh dari ruang belajar sederhana, dari buku yang dibaca bersama, dari keberanian menyampaikan kebenaran, dan dari solidaritas orang-orang yang memilih untuk tidak membiarkan sesamanya berjuang sendirian.

Sebab, masyarakat yang tercerahkan tidak mudah ditundukkan oleh kebodohan, manipulasi, dan ketakutan.

Hari Santri Adalah Panggilan untuk Berpihak

Hari Santri Nasional 2026 semestinya tidak berhenti sebagai perayaan identitas. Ia harus menjadi panggilan untuk memperkuat keberpihakan kepada rakyat, memperluas akses pendidikan, memperjuangkan keadilan sosial, dan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

Kita membutuhkan santri yang saleh sekaligus kritis, berilmu sekaligus membumi, santun dalam sikap sekaligus teguh menghadapi ketidakadilan.

Kita membutuhkan pesantren yang tidak hanya melahirkan individu-individu berprestasi, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian terhadap nasib masyarakat.

Dan kita membutuhkan kehidupan beragama yang tidak berhenti pada kesalehan personal, melainkan tumbuh menjadi kekuatan etis untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting dalam Hari Santri bukanlah seberapa meriah perayaannya, melainkan seberapa jauh semangat perjuangan itu hadir dalam kehidupan rakyat.

Apakah buruh semakin memperoleh keadilan? Apakah petani dan nelayan semakin sejahtera? Apakah anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak? Apakah masyarakat kecil memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan menentukan masa depannya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya mengiringi peringatan Hari Santri.

Sebab, santri bukan sekadar pewaris tradisi. Santri adalah bagian dari masa depan bangsa. Dan masa depan bangsa tidak akan benar-benar merdeka selama sebagian rakyatnya masih terbelenggu kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbatasan kesempatan.

Selamat Hari Santri Nasional 2026.

Jadilah santri yang tidak hanya tekun membaca kitab, tetapi juga berani membaca zaman. Jangan hanya fasih berbicara tentang keadilan, tetapi hadir ketika keadilan dirampas. Sebab, ilmu menemukan kemuliaannya ketika diabdikan untuk kemanusiaan, dan agama menemukan daya pembebasannya ketika berdiri bersama mereka yang tertindas.

 

Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP,  Penggagas Rumah Dialektika

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :