4 Km Jalan Lintas Bono Bakal Diaspal, Ruas Simpang Bunut-Teluk Meranti Segera Tuntas
Foto: Ist, Sumber : Net
PELALAWAN, RANAHRIAU.COM- Harapan masyarakat pengguna Jalan Lintas Bono (Jalinbon) Kabupaten Pelalawan untuk menikmati akses jalan yang lebih layak mulai menemukan titik terang. Pemerintah memastikan sekitar 4 kilometer ruas jalan yang masih berupa badan jalan atau base akan ditingkatkan menjadi jalan beraspal melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD).
Peningkatan tersebut berada pada ruas Simpang Bunut–Teluk Meranti, tepatnya di wilayah Desa Petodaan. Program ini mendapatkan alokasi melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Riau dan saat ini masih memasuki proses lelang.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pelalawan, Tengku Muhammad Syukran, S.Sos., M.E., mengatakan peningkatan jalan sepanjang 4 kilometer tersebut menjadi bagian penting dalam menuntaskan konektivitas ruas pertama Jalinbon.
“Posisi terputusnya jalan yang beraspal antara Simpang Bunut–Teluk Meranti berada di Desa Petodaan sepanjang 4 kilometer. Alhamdulillah tahun ini akan dikerjakan peningkatan jalan berupa aspal. Saat ini masih dalam proses lelang di BPJN Riau,” ujar Syukran, Rabu (27/10/2026).
4 Kilometer Jadi Titik Putus
Syukran menjelaskan, total panjang jalan dari Simpang Bunut hingga Teluk Meranti mencapai 84,38 kilometer. Dari panjang tersebut, masih terdapat sekitar 4 kilometer yang belum beraspal.
Dengan adanya peningkatan melalui program IJD, titik yang selama ini menjadi bagian jalan yang belum teraspal tersebut diharapkan segera terhubung dengan jaringan jalan beraspal.
Jika pekerjaan selesai, ruas Simpang Bunut–Teluk Meranti sepanjang 84,38 kilometer akan tuntas teraspal.
Bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada Jalinbon sebagai jalur transportasi, penyelesaian titik tersebut bukan sekadar soal permukaan jalan. Jalan yang tersambung dan lebih layak akan menentukan kelancaran mobilitas orang, barang, serta aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan pesisir Pelalawan.
Jalinbon 230 Km, Pelalawan Pegang Porsi Terbesar
Secara keseluruhan, Jalan Lintas Bono memiliki panjang sekitar 230 kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 189 kilometer berada di wilayah Kabupaten Pelalawan, sedangkan sisanya berada di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).
Untuk wilayah Pelalawan, Jalinbon yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Riau terbagi dalam tiga ruas utama.
Pertama, Simpang Bunut–Teluk Meranti.
Ruas ini memiliki panjang 84,38 kilometer. Dengan pengaspalan 4 kilometer di Desa Petodaan, ruas pertama tersebut ditargetkan seluruhnya dalam kondisi beraspal.
Kedua, Teluk Meranti–Sibekek.
Ruas ini memiliki panjang 50,74 kilometer. Namun pekerjaan rumahnya masih panjang. Saat ini baru sekitar 9 kilometer yang telah beraspal, sementara sekitar 41 kilometer lainnya belum.
Ketiga, Sibekek–Sokoi.
Ruas sepanjang 54 kilometer ini menjadi salah satu bagian Jalinbon yang kondisinya masih memprihatinkan. Sebagian besar masih berupa badan jalan dan penanganannya dilakukan secara bertahap, termasuk melalui penimbunan menggunakan pasir Bono.
Pemkab Pelalawan Dorong Penanganan Hingga Pusat
Syukran menegaskan Pemerintah Kabupaten Pelalawan tidak tinggal diam menghadapi persoalan Jalinbon. Pemkab terus mendorong percepatan penanganan melalui koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau hingga pemerintah pusat.
Menurutnya, upaya tersebut dilakukan bersama Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), serta instansi terkait.
“Pemerintah Kabupaten Pelalawan melalui Bupati, Wakil Bupati dan Sekda serta OPD dan instansi bersama Pemprov Riau terus berupaya dalam penanganan Jalan Lintas Bono hingga ke pusat maupun kolaborasi bersama pihak swasta. Karena Jalinbon adalah jalan provinsi,” tukasnya.
Persoalan Jalinbon memang tidak berhenti pada satu titik pengaspalan. Dari total 189 kilometer yang berada di Pelalawan, masih terdapat puluhan kilometer yang membutuhkan penanganan serius.
Karena itu, pengaspalan 4 kilometer di Desa Petodaan patut dilihat sebagai satu langkah penting, tetapi belum menjadi garis akhir. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan ruas Teluk Meranti–Sibekek dan Sibekek–Sokoi ikut mendapatkan perhatian dan pembiayaan berkelanjutan.
Sebab, bagi masyarakat di kawasan Bono, jalan bukan hanya urusan proyek infrastruktur. Jalan adalah urat nadi yang menentukan apakah potensi ekonomi kawasan pesisir benar-benar bisa bergerak atau kembali tersendat di tengah buruknya konektivitas.


Komentar Via Facebook :