Kak Hikmani Telah Pergi, Jejak Perjuangannya Tetap Tinggal

Kak Hikmani Telah Pergi, Jejak Perjuangannya Tetap Tinggal

Jabarullah, S.Sos, Ketua PDM Pekanbaru dan Tim Penyusun Proposal Pendirian STKIP Aisyiyah Riau

SELAMAT JALAN, KAK HIKMANI

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

RANAHRIAU.COM- Kak Hikmani yang saya kenal adalah sosok kader Muhammadiyah yang sangat baik dan militan. Beliau bukan hanya seorang aktivis gerakan Islam, tetapi juga pernah menjadi politisi. Bahkan, kami pernah sama-sama menjadi anggota legislatif/DPRD Riau; beliau dari Fraksi PAN, sedangkan saya dari Fraksi PPP.

Sejak muda, beliau tumbuh dan ditempa dalam gerakan IPM/IRM. Loyalitas, keteguhan, dan kecintaannya kepada Muhammadiyah tidak pernah diragukan. Beliau bukan sekadar menjalankan amanah, tetapi benar-benar memberikan hati dan pikirannya untuk kemajuan Persyarikatan.

Saya masih mengingat sebuah percakapan dengan beliau setelah Musyawarah Wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah di Teluk Kuantan pada 2023. Dalam perjalanan pulang ke Pekanbaru, saya bersama istri, sementara beliau bersama suaminya, Mas Sutarno, kebetulan sama-sama singgah di sebuah rumah makan.

Saat itu, Kak Hikmani baru saja dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Riau. Seusai makan bersama, beliau bercerita tentang cita-citanya agar STKIP yang dahulu dimotori pendiriannya oleh Ibu Enidarwaty, almarhumah Siti Aisyah Rais, dan sejumlah tokoh lainnya dapat berkembang menjadi universitas atau setidaknya menjadi institut.

Beliau bahkan meminta dukungan saya sebagai Ketua PDM untuk dapat memanfaatkan 11 unit ruko, lantai dua dan tiga, beserta lahan parkir di kompleks Panti Putra di Jalan Nangka. Saya menyambut baik gagasan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar memajukan AUM, meskipun tentu masih diperlukan proses dan persetujuan lebih lanjut.

Dalam perkembangan berikutnya, atas saran Pimpinan Pusat Aisyiyah, tim akhirnya memilih mengembangkan kampus dengan memanfaatkan dan merenovasi kantor PWA serta Kompleks Panti Putri. Rencana pemanfaatan ruko PDM pun tidak dilanjutkan.

Namun, bagi saya, percakapan tersebut tetap menjadi kenangan yang sangat berharga. Percakapan itu menggambarkan betapa kuatnya tekad Kak Hikmani untuk memajukan lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Perjuangan tersebut juga tidak dilakukan seorang diri. Almarhum Yusman Yusuf, yang ketika itu menjabat sebagai Sekretaris BPH STKIP, adalah sosok yang sangat gigih ikut memperjuangkan perubahan status STKIP. Saya mengingat hal ini karena sebagai Ketua PDM, saya sempat beberapa kali mengikuti pertemuan bersama almarhum dalam proses mempersiapkan perubahan STKIP menjadi IPTAR.

Alhamdulillah, perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. STKIP berhasil berubah menjadi IPTAR. Di balik capaian tersebut terdapat kerja keras Kak Hikmani, almarhum Yusman Yusuf, dukungan Pimpinan Aisyiyah Wilayah dan Pusat, serta banyak tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah yang turut memberikan dukungan.

Kini, Kak Hikmani telah berpulang.

Saya tidak pernah menyangka bahwa percakapan sederhana di sebuah rumah makan itu kelak menjadi salah satu kenangan yang begitu berharga. Ada cita-cita yang pernah beliau ceritakan, ada perjuangan yang telah beliau tunaikan, dan ada jejak yang akan terus dikenang oleh generasi setelahnya.

Selamat jalan, Kak Hikmani.

Terima kasih telah menjadi kader yang setia, pejuang yang gigih, dan bagian penting dari perjalanan panjang Muhammadiyah.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan perjuangan beliau, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.

Terima kasih telah berjuang untuk Muhammadiyah. Engkau boleh pergi, tetapi jejak perjuanganmu akan tetap tinggal. Kami akan terus mengenangnya.

 

 

Penulis : Jabarullah, S.Sos, Ketua PDM Pekanbaru
dan Tim Penyusun Proposal Pendirian STKIP Aisyiyah Riau

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :