Catatan Redaksi: Ketika Bahasa Kekuasaan Menggeser Substansi
Foto: Ist, Sumber : Net
RANAHRIAU.COM- Ucapan Presiden Prabowo yang merespons kritik dengan kalimat "emang gue pikirin" mungkin dimaksudkan sebagai ekspresi ketegasan dan ketahanan menghadapi serangan politik. Pesan yang ingin dibangun tampaknya sederhana: pemerintah tidak akan goyah hanya karena kritik. Namun, dalam komunikasi politik, yang diterima publik sering kali lebih kuat daripada yang dimaksudkan. Alih-alih menunjukkan keteguhan, kalimat tersebut justru memicu kesan bahwa kritik tidak layak didengar.
Seorang presiden bukan hanya pembuat kebijakan, tetapi juga penentu standar komunikasi publik. Setiap kata yang keluar dari mulut kepala negara membawa bobot simbolik yang jauh lebih besar dibandingkan pernyataan pejabat biasa. Karena itu, pilihan diksi yang bernada mengejek atau meremehkan berisiko menggeser fokus dari substansi persoalan menuju polemik mengenai gaya komunikasi.
Dalam demokrasi yang sehat, kritik merupakan bagian dari mekanisme kontrol terhadap kekuasaan. Tidak semua kritik benar, tidak semuanya pula disampaikan dengan niat baik. Namun, jawaban terbaik terhadap kritik tetaplah data, argumentasi, dan capaian yang dapat diuji publik. Ketika kritik dibalas dengan retorika yang terkesan mengabaikan lawan bicara, ruang dialog menyempit dan polarisasi berpotensi semakin menguat.
Ada dampak lain yang sering luput dari perhatian. Bahasa seorang pemimpin cenderung menjadi referensi bagi para pembantunya, kepala daerah, aparatur negara, hingga para pendukung di media sosial. Jika gaya komunikasi yang kasar atau sarkastik menjadi sesuatu yang dianggap lumrah di level tertinggi, standar etika dalam perdebatan publik dapat ikut bergeser. Akibatnya, ruang demokrasi dipenuhi saling ejek, bukan saling menguji gagasan.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya diukur dari keberanian mengambil keputusan, tetapi juga dari kemampuan merawat kualitas percakapan publik. Presiden tentu berhak bersikap tegas terhadap kritik yang dinilai tidak berdasar. Namun, ketegasan akan lebih bernilai ketika disampaikan dengan bahasa yang mencerminkan kedewasaan seorang negarawan. Sebab, kata-kata pemimpin tidak sekadar menjawab lawan, tetapi juga membentuk budaya politik sebuah bangsa.


Komentar Via Facebook :