Bunga Busuk di Halaman Redaksi: Ketika Kritik dibalas Tekanan

Bunga Busuk di Halaman Redaksi: Ketika Kritik dibalas Tekanan

RANAHRIAU.COM- Ada sesuatu yang ganjil, bahkan menggelisahkan, ketika bunga busuk beterbangan di halaman kantor media. Bukan sekadar soal bau yang menyengat, tapi pesan yang dikandungnya: kritik tak lagi dijawab dengan argumen, melainkan dengan tekanan.

Aksi ratusan kader Partai NasDem di kantor Tempo di Palmerah bukan peristiwa biasa. Ia adalah sinyal. Sinyal bahwa relasi antara kekuatan politik dan pers kembali menegang, bahkan cenderung bergeser ke arah yang berbahaya. Ketika sebuah karya jurnalistik dibalas dengan mobilisasi massa, kita patut bertanya: apa yang sebenarnya sedang dipertaruhkan?

Di satu sisi, keberatan adalah hak. Tak ada yang kebal kritik, termasuk media. Jika ada pemberitaan yang dianggap keliru, mekanismenya jelas: hak jawab, hak koreksi, hingga jalur Dewan Pers. Itu jalur konstitusional yang dirancang agar sengketa tidak berubah menjadi intimidasi.

Namun ketika protes berubah menjadi aksi massa, apalagi disertai simbol-simbol penghinaan seperti lemparan bunga busuk, pesan yang muncul bukan lagi klarifikasi, melainkan tekanan. Dan tekanan, dalam dunia pers, adalah alarm.

Pers tidak selalu benar. Tapi pers yang takut, jauh lebih berbahaya.

Di titik ini, publik seharusnya tidak terjebak pada siapa yang paling tersinggung. Fokusnya adalah menjaga ruang kritik tetap hidup. Sebab demokrasi tidak runtuh dalam satu malam; ia perlahan melemah ketika kritik mulai dianggap ancaman.

Tempo boleh saja salah. NasDem boleh saja tersinggung. Tapi jika setiap keberatan dibalas dengan pengerahan massa, maka yang terancam bukan hanya satu media, melainkan ekosistem kebebasan itu sendiri.

Bunga busuk itu mungkin akan layu dalam hitungan hari. Tapi jika pola ini dibiarkan, yang membusuk bisa jadi jauh lebih besar: keberanian untuk berbicara.

 

Penulis : Abdul Hafidz AR, Pimred ranahriau.com, Humas PWI Riau

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :