Apindo Ingatkan Perlambatan Manufaktur di balik Pertumbuhan Ekonomi 5,39 Persen
Foto: Ist, Sumber : Net
JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Perekonomian Indonesia pada kuartal IV-2025 tumbuh 5,39 persen secara tahunan (year on year/yoy), tertinggi sejak kuartal III-2022. Namun, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil dunia usaha.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 memang selaras dengan meningkatnya aktivitas ekonomi pada akhir tahun. Meski demikian, ia menegaskan angka pertumbuhan tidak boleh menjadi satu-satunya indikator yang dilihat.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya angka pertumbuhan, tetapi kondisi riil di lapangan,” ujar Shinta.
Menurut Shinta, sektor manufaktur justru menunjukkan sinyal perlambatan. Dari 16 subsektor manufaktur, sebanyak sembilan subsektor mencatat pertumbuhan di bawah rata-rata nasional.
Beberapa subsektor padat karya bahkan tumbuh terbatas. Industri tekstil hanya mencatat pertumbuhan 3,5 persen, industri alas kaki 3,3 persen, sementara industri furnitur hanya tumbuh 1,6 persen.
Shinta juga menyoroti tingginya beban biaya yang harus ditanggung pelaku usaha, baik biaya yang terukur maupun tidak terukur. Ia menilai, tantangan utama yang perlu dibenahi pemerintah adalah menekan biaya tinggi (high cost economy).
Biaya logistik di Indonesia disebut masih termasuk yang tertinggi dibandingkan negara-negara tetangga. Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi biaya energi yang mahal serta suku bunga pinjaman yang berada di kisaran 8–12 persen, jauh di atas negara tetangga yang hanya berkisar 4–6 persen.
Di luar itu, Shinta menambahkan, biaya-biaya yang tidak terukur seperti perizinan dan berbagai hambatan administratif turut memperberat beban dunia usaha.
Apindo mendorong pemerintah untuk melakukan reformasi struktural guna menurunkan biaya produksi dan meningkatkan daya saing industri nasional, terutama sektor manufaktur dan padat karya.


Komentar Via Facebook :