Menyongsong 2026: Merawat Persaudaraan, Menjaga Marwah, Jemput Hikmah dalam Kesederhanaan
Pandangan FKPMR pada Dialog Menyongsong Tahun Baru bersama Ketua DPH LAM Riau dan Ketua FKUB Riau di RRI Pekanbaru, 31 Desember 2025
RANAHRIAU.COM- Pergantian tahun bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah jeda sunyi, ruang tafakur, tempat manusia khususnya orang Melayu bercermin pada diri, adat, dan iman. Tahun Baru Masehi 1 Januari 2026 hadir di hadapan kita bukan sebagai pesta gegap gempita, melainkan sebagai cermin besar: sejauh mana kita menjaga akidah, merawat adat, dan memelihara kebersamaan di tengah zaman yang kian bising.
Islam: Menahan Diri, Menguatkan Hati
Dalam pandangan Islam, Tahun Baru Masehi tidak ditempatkan sebagai hari raya keagamaan. Sebagian ulama mengingatkan bahaya tasyabbuh menyerupai tradisi kaum lain terutama jika pergantian tahun diisi dengan hura-hura, maksiat, dan lupa diri. Namun Islam juga agama yang realistis. Kalender Masehi dipakai sebagai alat muamalah, kebutuhan administrasi, dan tata kelola kehidupan modern.
Di titik inilah Islam menawarkan jalan yang jernih: muhasabah. Bukan pesta, melainkan perenungan. Bukan kembang api, melainkan doa. Bukan hingar-bingar, tetapi zikir yang menenangkan. Tahun berganti, dosa dan pahala kita ikut dihitung.
Melayu: Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah
Bagi orang Melayu, soal tahun baru tak bisa dilepaskan dari marwah. Adat Melayu berdiri tegak di atas syariat. Maka budaya mabuk-mabukan, pesta pora, dan pergaulan bebas bukan sekadar salah secara agama, tetapi juga mencederai kehormatan Melayu.
Namun Melayu bukan masyarakat yang menutup diri. Harmoni sosial tetap dijaga. 1 Januari dihormati sebagai hari libur nasional, waktu berkumpul bersama keluarga, dan ruang mempererat silaturahmi. Di banyak kampung, malam pergantian tahun diisi dengan Yasinan, doa selamat, dan munajat cara Melayu “mengislamkan waktu” tanpa kehilangan jati diri.
Ucapan Tahun Baru: Antara Akidah dan Adab
Perdebatan tentang ucapan “Selamat Tahun Baru” sejatinya adalah pertemuan antara hukum dan etika. Ada yang membolehkan sebagai adat sosial, ada yang melarang karena kehati-hatian akidah, dan ada pula yang memilih jalan tengah: tidak memulai, tetapi membalas dengan doa jika disapa.
Bagi orang Melayu, adab menjadi penuntun. Menjawab sapaan dengan doa adalah bentuk kesantunan. Menjaga lisan adalah menjaga marwah. Maka ucapan pun diikat dengan harapan yang baik, bukan sekadar formalitas kosong.
Tahun Baru, Jiwa Lama yang Diperbarui
Orang Melayu lebih memuliakan Tahun Baru Hijriah, karena di sanalah ruh spiritual Islam bersemi. Namun pergantian tahun Masehi tetap dijadikan momentum memperbaiki diri, menguatkan persaudaraan lintas iman, dan merawat kebersamaan dalam bingkai kesederhanaan.
Apa tanda batang mengkudu,
Dahannya rimbun daunnya biru.
Apa tanda orang Melayu,
Tetap sederhana menyambut tahun baru.
Kesederhanaan bukan kemiskinan, melainkan kebijaksanaan. Menahan diri bukan kelemahan, tetapi kekuatan iman. Merawat kebersamaan bukan basa-basi, melainkan tanggung jawab sejarah.
Tahun boleh berganti. Zaman boleh berubah. Namun orang Melayu akan tetap tegak jika adat dijaga, iman dipelihara, dan persaudaraan dirawat dengan hati yang bersih.
Pekanbaru, 31 Desember 2025
Ahmad Hijazi
Sekretaris Jenderal FKPMR


Komentar Via Facebook :