Tekanan di Waduk PLTA Koto Panjang Meningkat, Akademisi Soroti Kerusakan DAS Kampar

Tekanan di Waduk PLTA Koto Panjang Meningkat, Akademisi Soroti Kerusakan DAS Kampar

Dosen Fakultas Kehutanan dan Sains Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau, Dodi Sukma

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Pembukaan pintu air PLTA Koto Panjang, Kampar, Riau kembali menjadi sorotan publik setelah memunculkan kekhawatiran meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir Sungai Kampar. Kondisi ini dinilai bukan sekadar persoalan teknis operasional, melainkan berkaitan erat dengan masalah struktural dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) Kampar, khususnya di kawasan hulu.

Baca juga: Dua Pintu Spillway PLTA Koto Panjang Dibuka Setinggi 50 Cm

Dosen Fakultas Kehutanan dan Sains Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau, Dodi Sukma, mengatakan bahwa pembukaan pintu air yang terjadi dalam beberapa hari terakhir harus dibaca sebagai sinyal serius menurunnya daya dukung lingkungan di DAS Kampar. Menurutnya, tekanan ekologis di hulu telah berdampak langsung pada kondisi hidrologi di hilir.

“Kondisi ini tidak dapat lagi dipandang sebagai peristiwa teknis semata, melainkan sinyal kuat adanya persoalan struktural dalam pengelolaan DAS Kampar,” kata Dodi di Pekanbaru, Selasa (30/12/2025).

Ia menilai, lemahnya perlindungan kawasan hulu menjadi faktor utama meningkatnya potensi bencana banjir. Dodi menjelaskan, PLTA Koto Panjang merupakan infrastruktur strategis nasional yang memiliki peran penting dalam penyediaan energi listrik bagi Provinsi Riau dan Sumatera bagian tengah. Stabilitas operasional PLTA ini sangat menentukan ketahanan energi regional.

Baca juga: Pintu PLTA Koto Panjang Dibuka, Akademisi Tekankan Penyelamatan Hutan Secara Serius

Namun demikian, keberlanjutan fungsi PLTA Koto Panjang sangat bergantung pada stabilitas ekosistem hutan di daerah tangkapan air. Karena menurutnya, hutan berfungsi sebagai pengatur alami tata air yang mampu menahan, menyimpan, dan melepaskan air secara seimbang.

"Kerusakan hutan hulu akibat alih fungsi lahan, pembalakan, dan degradasi kawasan lindung telah secara signifikan menurunkan kemampuan DAS Kampar dalam mengatur tata air secara alami. Akibatnya, fluktuasi debit air menjadi semakin ekstrem. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau," jelasnya.

Diungkapkan, kondisi tersebut memicu dua ancaman sekaligus, yakni banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Situasi ini menunjukkan bahwa keseimbangan hidrologi DAS Kampar semakin rapuh akibat menurunnya tutupan hutan.

"Penelitian analisis spasial kuantitatif citra Landsat dari tahun 1990 hingga 2020 berdasarkan model Spectral Mixture Analysis (SMA). Hasil penelitian menunjukkan, selama lebih dari 30 tahun, hutan alami di Semenanjung Kampar mengalami penurunan signifikan dari 723.895,30 hektar pada tahun 1990 menjadi 433.395,20 hektar pada tahun 2020," ungkapnya.

Diterangkan, berdasarkan penelitian tersebut menggambarkan perubahan signifikan tutupan hutan di kawasan Semenanjung Kampar. Penurunan tutupan hutan ini dinilai menjadi penyebab utama meningkatnya tekanan hidrologis di Waduk PLTA Koto Panjang. Pembukaan pintu air yang berulang menunjukkan bahwa volume air di waduk semakin sulit dikendalikan.

"Pembukaan pintu air PLTA Koto Panjang yang berulang menunjukkan bahwa tekanan hidrologis di waduk semakin tinggi dan sulit dikendalikan. Dalam perspektif ekologi, kondisi ini merupakan konsekuensi langsung dari berkurangnya tutupan hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap, penyimpan, dan pengatur aliran air," terangnya.

Dodi menegaskan, pemulihan ekosistem DAS Kampar harus menjadi prioritas bersama melalui perlindungan hutan, rehabilitasi kawasan rusak, serta penguatan tata kelola lingkungan. Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko banjir, menjaga keberlanjutan PLTA Koto Panjang, dan melindungi keselamatan masyarakat di sepanjang Sungai Kampar.

"Tanpa hutan yang sehat di hulu, PLTA dipaksa bekerja dalam kondisi tidak ideal dan masyarakat di hilir menanggung risiko paling besar," pungkasnya.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :