Kuliah Umum UNRI–BPS
Bedah Data atau Sekadar Seremoni? Mahasiswa Dipaksa Naik Level di Era Banjir Angka!
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Universitas Riau (UNRI) kembali mengguncang ruang akademik dengan sebuah kuliah umum bertema “Dari Angka Menjadi Makna, Dari Makna Menjadi Dampak”. Namun di balik judul yang tampak manis, acara ini justru membuka satu kenyataan keras: di era banjir data, mahasiswa dan akademisi tak punya lagi ruang untuk sekadar paham—mereka harus melek data atau tertinggal jauh.
Rektor UNRI, Prof Dr Sri Indarti, SE, MSi yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Dr Ir Sofyan Husein Siregar, MPhil, menyentil langsung kebutuhan mendesak itu.“Ini kesempatan terbaik untuk memahami statistik lebih dalam lagi,” tegasnya, seolah memberi peringatan bahwa dunia akademik tak lagi bisa hidup dari asumsi dan opini belaka.
Dr Sofyan tak berhenti di sana. Ia menegaskan bahwa tema kuliah umum ini bukan sekadar permainan kata yang menjual, tetapi sinyal kuat bahwa UNRI dan BPS tengah mendorong generasi akademik untuk naik kelas.“Melalui kegiatan ini, mari kita perkuat peran akademisi dan mahasiswa dalam mengolah data menjadi informasi yang bermakna dan berdampak,” ujarnya—sebuah kalimat yang terdengar seperti ajakan sekaligus tantangan.
Kolaborasi UNRI–BPS yang selama ini berjalan, kini didorong agar tak lagi sekadar formalitas. Edukasi statistik disebut harus menjadi garda depan literasi publik, terutama di era ketika angka bisa menjadi senjata maupun jebakan.
Dan untuk menegaskan urgensinya, hadir Wakil Kepala BPS RI, Dr Sonny Harry Budiutomo Harmadi, SE ME, sosok yang dikenal vokal soal pentingnya literasi data di era digital. Materi yang ia sampaikan benar-benar menampar kesadaran bersama bahwa tanpa kemampuan membaca data, masyarakat mudah terseret arus misinformasi.
Acara ini diikuti sekitar 300 peserta—mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa lintas fakultas. Jumlah yang besar, tetapi jelas belum cukup untuk sebuah isu sepenting literasi statistik yang dapat menentukan arah kebijakan, riset, hingga persepsi publik.
Satu hal yang pasti: UNRI dan BPS sedang mengirimkan pesan keras. Setelah kuliah umum ini, tak ada lagi alasan bagi mahasiswa untuk alergi pada angka. Karena di dunia yang kian kompetitif, data bukan lagi pilihan—melainkan kelangsungan hidup akademik dan profesional.
Jika kuliah umum ini gagal menggerakkan perubahan, maka semua angka yang disampaikan hari itu akan kembali menjadi deretan statistik tak bermakna.


Komentar Via Facebook :