Ricuhnya Muktamar PPP, Cermin Krisis Identitas dan Kepemimpinan
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Kericuhan yang terjadi dalam Muktamar PPP di Ancol bukanlah sekadar insiden teknis akibat perbedaan pandangan sesaat.
Ia adalah gejala mendalam dari krisis identitas dan kepemimpinan yang menghantui partai ini sejak lama.
PPP lahir sebagai partai Islam hasil fusi, dengan misi menyatukan aspirasi umat dalam bingkai demokrasi.
Namun, sejarah panjang konflik internal, dualisme kepengurusan, dan tarik-menarik kepentingan membuat cita-cita besar itu sering tergerus oleh perebutan kursi dan kepentingan jangka pendek.
Ricuh di forum tertinggi partai seharusnya tidak perlu terjadi bila semua pihak menjunjung tinggi tradisi musyawarah.
Ketika kursi lebih sering dilempar daripada argumentasi, itu pertanda bahwa demokrasi internal sedang kehilangan arah.
Muktamar, yang seharusnya menjadi momentum memperkuat konsensus, justru menjelma menjadi ajang mempertontonkan perpecahan.
Fenomena ini juga memperlihatkan lemahnya kepemimpinan kolektif di PPP. Alih-alih hadir sebagai perekat, elite partai justru sering menjadi aktor utama yang memobilisasi kubu untuk melawan kubu lain.
Akibatnya, kader di akar rumput ikut terseret dalam konflik elite yang tidak ada habisnya. Padahal, publik—terutama umat Islam—menunggu PPP hadir dengan gagasan segar menghadapi tantangan bangsa, bukan sibuk dengan pertikaian internal.
Jika PPP ingin keluar dari bayang-bayang partai yang terus terpuruk di bawah ambang batas parlemen, maka perbaikan demokrasi internal harus dimulai dari muktamar.
Dialog, transparansi, dan penghormatan pada mekanisme organisasi jauh lebih penting daripada manuver politik sesaat.
Kericuhan hanya akan semakin memperburuk citra partai yang sudah lama kehilangan magnet elektoralnya.
Muktamar seharusnya menjadi tonggak konsolidasi, bukan arena gladiator. Jika para elite PPP tidak mampu belajar dari insiden ini, maka sejarah hanya akan mencatat PPP sebagai partai yang gagal mengelola perbedaan di dalam tubuhnya sendiri—dan pada akhirnya, gagal menjaga kepercayaan umat.
Penulis : Abdul Hafhiz AR, Pimred ranahriau.com


Komentar Via Facebook :