Rektor UIN Suska: Misi Diplomatik Sekjen Kemenag RI di BRICS Jadi Kebanggaan PTKIN
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Keterlibatan Indonesia dalam forum strategis global selalu menjadi momen kebanggaan nasional. Namun, ketika diplomasi dijalankan melalui jalur keagamaan oleh seorang tokoh akademisi, kebanggaan itu terasa lebih mendalam, khususnya bagi kalangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Hal inilah yang diungkapkan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau, Prof Dr Hj Lenny Nofianti, MS, SE, MSi, Ak., saat menyambut antusias peran Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof Kamaruddin Amin, sebagai representasi Indonesia dalam Pertemuan Pemimpin Agama Komunitas Muslim negara-negara BRICS di Rio de Janeiro, Brasil.
Menurut Prof Lenny, kehadiran Sekjen Kemenag RI dalam forum tersebut bukan sekadar menjalankan tugas birokratis, melainkan juga menegaskan posisi tawar intelektual Islam Indonesia di kancah dunia.
“Ini adalah momen yang sangat membanggakan bagi kami di PTKIN. Penunjukan Prof Kamaruddin Amin, seorang guru besar dengan integritas keilmuan yang diakui, membuktikan bahwa gagasan dan praktik Islam Wasathiyah atau Islam Moderat yang kita kaji dan kembangkan di kampus-kampus UIN memiliki relevansi sekaligus pengakuan global,” ujarnya.
Rektor menilai forum BRICS sebagai panggung yang tepat untuk menyuarakan narasi keindonesiaan, sekaligus menunjukkan sinergi antara dunia akademik dengan praktik pemerintahan.
“Apa yang disampaikan Prof. Kamaruddin di Brasil sesungguhnya merupakan refleksi dari riset dan pemikiran para akademisi kita selama bertahun-tahun. Beliau tidak hanya berbicara sebagai pejabat negara, tetapi juga sebagai intelektual yang mampu mengartikulasikan pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman dengan dasar filosofis dan sosiologis yang kuat,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Prof Lenny menegaskan bahwa pengalaman Indonesia dalam mengelola harmoni di tengah kemajemukan adalah “produk unggulan” yang layak ditawarkan kepada dunia.
Nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat menjadi solusi di tengah maraknya konflik identitas global. Kehadiran Sekjen Kemenag di forum BRICS, menurutnya, adalah wujud kontribusi Indonesia dalam memberikan inspirasi bagi peradaban dunia.
Ia juga menilai misi diplomatik ini membawa dampak langsung bagi dunia akademik, khususnya bagi dosen dan mahasiswa UIN Suska Riau.
“Bagi civitas akademika, ini adalah bukti bahwa studi keislaman bukan menara gading. Ilmu yang kita tekuni di ruang kuliah memiliki aplikasi nyata dalam membangun jembatan perdamaian dan dialog antarbangsa. Hal ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat kajian tentang toleransi, moderasi, dan dialog antaragama, karena dunia membutuhkannya,” tegas Prof. Lenny.
Sambutan positif dari pimpinan UIN Suska Riau ini mencerminkan optimisme besar dunia pendidikan tinggi Islam. Peran Prof. Kamaruddin Amin di forum BRICS dinilai sebagai validasi bahwa kader-kader PTKIN mampu bersaing dan berkontribusi signifikan di level internasional.
"Misi ini bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang mengangkat martabat keilmuan Islam Indonesia sekaligus menampilkan wajah Islam yang ramah, toleran, dan menjadi rahmat bagi semesta,"tutupnya.


Komentar Via Facebook :