Melihat Model Ekonomi Tiongkok: Perpaduan Unik antara Komunisme dan Kapitalisme
RANAHRIAU.COM - Bagaimana sebuah negara yang secara ideologi berlandaskan komunisme bisa tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia? Pertanyaan ini sering muncul saat kita melihat keberhasilan Tiongkok.
Jawabannya tidak sesederhana menyebut Tiongkok sebagai negara komunis atau kapitalis. Faktanya, mereka telah berhasil menciptakan perpaduan unik yang sering disebut "sosialisme dengan karakteristik Tiongkok".
Keberhasilan ini terletak pada peranan pemerintah yang tidak hanya mengendalikan, tetapi secara aktif mendukung dan berinvestasi pada sektor swasta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi.
Model ekonomi Tiongkok dibangun di atas fondasi yang berbeda dari sistem kapitalis Barat pada umumnya. Pemerintah Tiongkok berperan sebagai investor strategis alih-alih hanya regulator. Melalui berbagai entitas, termasuk BUMN dan dana investasi pemerintah, mereka secara masif berinvestasi pada perusahaan-perusahaan swasta, terutama di sektor teknologi tinggi dan industri strategis.
Konsep "Semi-State Company" adalah kunci dari model ini. Perusahaan swasta besar seperti Alibaba, Tencent, dan Huawei, meskipun dimiliki oleh swasta, memiliki hubungan erat dengan negara. Hubungan ini bisa berupa kepemilikan saham oleh entitas pemerintah, perwakilan di dewan direksi, atau dukungan kebijakan yang sangat kuat.
Tujuan di balik investasi ini sangat jelas: memastikan perusahaan-perusahaan nasional menjadi pemain global, meningkatkan daya saing, dan mempertahankan kontrol strategis terhadap sektor-sektor kunci. Dengan cara ini, negara dan swasta bekerja sama menuju tujuan yang sama, yaitu kemakmuran ekonomi Tiongkok.
Stigma "komunisme" sering kali dianggap sebagai penghambat ekonomi, namun realitas di Tiongkok justru sebaliknya. Mereka menggunakan ideologi komunis sebagai alat untuk menciptakan stabilitas politik dan sosial, yang pada akhirnya memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.
Ini sangat kontras dengan model kapitalis Barat yang lebih berfokus pada pasar bebas murni tanpa campur tangan pemerintah yang signifikan.
Lalu bagaimana dengan model ekonomi di Indonesia? Sektor swasta di Indonesia sering kali merasa terhambat oleh birokrasi yang rumit, beban pajak, dan perizinan yang berbelit-belit.
Selain itu, dominasi BUMN terkadang menciptakan persaingan yang tidak adil bagi pengusaha swasta. Berbeda dengan Tiongkok yang melihat pengusaha swasta sebagai mitra strategis, di Indonesia terkadang ada anggapan bahwa swasta adalah "pesaing" yang perlu diatur ketat.
Model Tiongkok memang memiliki keunggulan yang signifikan. Keberanian pemerintah untuk mengarahkan sumber daya besar ke proyek-proyek prioritas telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat. Bantuan pemerintah juga telah mempercepat inovasi teknologi di berbagai bidang, dari kecerdasan buatan hingga teknologi 5G.
Namun, model ini tidak luput dari tantangan. Hubungan yang terlalu erat antara pemerintah dan bisnis dapat membuka celah untuk korupsi dan nepotisme. Perusahaan swasta kecil yang tidak memiliki koneksi dengan pemerintah sering kali kesulitan bersaing.
Terakhir, kontrol politik yang ketat bisa menjadi pedang bermata dua, di mana kebebasan berinovasi dapat terhambat oleh kepentingan politik.
Keberhasilan Tiongkok dalam mencapai kemakmuran ekonomi bukan karena ideologi komunisnya yang murni, melainkan karena pendekatan pragmatis di mana pemerintah berperan sebagai fasilitator dan investor, bukan hanya regulator.
Mereka telah membuktikan bahwa pemerintah dapat menjadi mitra strategis bagi pengusaha, menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor swasta.
Model Tiongkok memberikan pelajaran penting bagi negara lain, termasuk Indonesia. Alih-alih melihat pengusaha sebagai pihak yang perlu dikendalikan, mungkin sudah saatnya pemerintah berperan lebih proaktif sebagai pendukung dan fasilitator.
Dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi sektor swasta untuk berkembang, kita bisa membuka jalan menuju kemakmuran bersama yang lebih besar.
Ditulis oleh : Hendri Chaniago


Komentar Via Facebook :