Merdeka ke Tanah Suci

Merdeka ke Tanah Suci

RANAHRIAU.COM- Apa kabar sahabat semua, para pecinta Tanah Suci?

Semoga senantiasa dalam lindungan Allah Ta‘ala, diberi kesehatan, keberkahan, dan semangat iman.

Hari ini, di momen peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80, mari kita jaga ukhuwah Islamiyah dan kobarkan kembali semangat kemerdekaan.

Jabal Tour pada hari yang bersejarah ini mengusung tema: “Merdeka ke Tanah Suci”

Apa maksudnya?
1. Pertama, bahwa setiap hamba berhak menjadi tamu Allah Ta'ala. Siapapun kita, punya hak yang sama.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Sebab Allah tidak memanggil hamba-Nya yang mampu, tetapi Allah memanggil hamba-Nya yang mau.

Dan bila sudah ada kemauan, Allah-lah yang akan memampukan.

2. Kedua, merdeka ke Tanah Suci bermakna tunduk pada syariat Islam. Kita tidak boleh memaksakan kehendak di luar batas kemampuan.

Jangan sampai niat ke Tanah Suci justru menjerumuskan diri dalam riba dengan dalih syariat. Allah Ta'ala telah menetapkan haji dan umrah bagi mereka yang memiliki kemampuan jasmani dan finansial.

Bagaimana mungkin kita ingin membersihkan dosa, tapi justru memulai perjalanan dengan noda riba? Na‘uzubillah min dzalik.

3. Ketiga, merdeka ke Tanah Suci berarti masing-masing pihak memahami posisinya:

* Bagi penyelenggara travel umrah, amanah terbesar adalah pelayanan.

Jamaah adalah prioritas utama. Jangan hanya menebar janji dan mengejar keuntungan, tapi abdikan diri pada pelayanan terbaik.

Bukan sekadar perjalanan, tapi juga memastikan ibadah jamaah sesuai tuntunan Nabi Muhammad ﷺ.

Jika jamaah puas, insyaAllah mereka akan bersyukur dan ingin kembali.

Tapi bila jamaah kecewa, boleh jadi keberangkatannya menjadi yang terakhir.

* Bagi jamaah, jadilah bijak dan selektif. Jangan hanya berorientasi pada harga murah yang berujung penipuan.

Jangan pula menjadi “penjelajah travel” yang memberi harapan pada banyak pihak, hingga melukai hati saudara sendiri.

Jangan pula menghalalkan segala cara demi berangkat, hingga terjerumus pada dana talangan berbasis riba.

Padahal targetnya adalah haji mabrur, umrah mabrurah. Tapi bila sudah bersentuhan dengan riba, mungkinkah predikat itu tercapai?

Maka wajar bila kita punya banyak alumni haji dan umrah setiap tahun, namun belum sepenuhnya melahirkan negeri yang digambarkan Al-Qur’an: "Baldatun Thoyyibatun WA Rabbun Ghafur". Negeri yang baik lagi penuh ampunan.

Bisa jadi, karena kita belum sepenuhnya merdeka dalam cara menuju Tanah Suci.

* Bagi pemerintah, yang diberi amanah mengurus kebijakan, jalankanlah amanah dengan adil.

Jangan salahgunakan jabatan untuk keuntungan pribadi. Jangan jadikan kuota haji sebagai komoditas yang diperjualbelikan secara haram, sehingga banyak jamaah yang seharusnya sudah berangkat justru tertunda.

Jangan pula membiarkan sistem dana talangan yang akhirnya menzalimi jamaah, hingga menimbulkan penumpukan antrean 20–30 tahun.

Belum lagi soal aturan vaksin: dari miningitis, polio, dan lainnya. Jika benar untuk melindungi jamaah, seharusnya pemerintah hadir memberi solusi, bahkan menggratiskan, bukan malah menjadikannya beban tambahan.

Karena yang berangkat ke Tanah Suci bukan hanya orang kaya. Banyak yang harus menabung puluhan tahun, menjual tanah, kebun, bahkan ternak.

Maka pemerintah mestinya memberi kemerdekaan, bukan menambah beban.

Sahabatku, Merdeka ke Tanah Suci berarti membebaskan langkah menuju Allah dari segala penghalang.

Baik itu penghalang finansial, penghalang hati, atau penghalang berupa kezhaliman manusia.

Semoga tulisan ini menjadi pelajaran bagi saya pribadi sebagai penyelenggara umrah di Jabal Tour International, dan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Selamat HUT RI ke-80

Semoga Indonesia semakin maju, rakyatnya sejahtera, dan kita semua dimampukan Allah Ta'ala untuk benar-benar Merdeka ke Tanah Suci. 

Pekanbaru, 17 Agustus 2025.
Hormat saya,
Muhammad Gohan Matondang
“Motto: Umroh Penuh Cinta”

Syukran, wa Barakallahu fikum.

Penulis: Muhammad Gohan Matondang, Owner Jabal Tour International

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :