Pekanbaru Butuh Orang-Orang Jagok

Pekanbaru Butuh Orang-Orang Jagok

Ridho Ikhsan

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM - Kondisi Kota Pekanbaru secara  keseluruhan selama satu dasawarsa terakhir dinilai stagnan dan belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Padahal di era Kepala Daerah terpilih terakhir yang sudah habis masa jabatannya, Ibu Kota Provinsi Riau ini memiliki slogan "Smart City Madani". Tentu masyarakat bisa menilai sejauh mana gagasan tersebut bisa diwujudkan dengan menyaksikan kenyataan saat ini.

Sejatinya Smart City Madani ketika dicanangkan adalah  bentuk kepedulian pemerintah untuk berikhtiar melayani warga dan membangunkan  kota dari stagnasi. Bagaimana menata kelola pemerintahan secara efektif dan efisien  melalui pemanfaatan teknologi digital. Juga mendidik warganya agar menjadi warga yang pintar dengan gaya hidup pintar. Hal itu ditunjang oleh atmosfir ekonomi, lingkungan, serta mobilitas yang pintar. 

Jika saja dipilah satu persatu   pilar dari 'Smart City' tersebut tentu masih jauh panggang dari api. Contohnya saja, dari sisi gaya hidup. Warga kota Pekanbaru saat ini cenderung lebih bergaya hidup konsumtif ketimbang gaya hidup produktif. Di sisi lain warga Pekanbaru lebih suka meniru ketimbang menciptakan kreatifitas yang baru.

Begitu penuturan pegiat sosial muda Kota Pekanbaru, Ridho Ikhsan, di sela-sela kegiatannya bersama pemuda jalan Sakuntala, Bukit Raya (29/09). Selanjutnya ia mengatakan jika saja suatu kota mampu menciptakan 1% SDM kreatif maka wajah kota pastinya akan berubah. Kota Pekanbaru bukan saja menjadi kota yang maju tapi juga kota yang berkarakter dan berdaya saing. Untuk itu,  pengembangan ekonomi kreatif mutlak mendapat perhatian utama. 

"Kita ini termasuk kota yang konsumtif. Banyak produk-produk luar laku keras disini. Lebih bangga membeli barang-barang dari Jakarta, Bandung, Batam, atau Malaysia daripada produk dari Kota sendiri. Bahkan banyak pejabat dan keluarganya disini gemar flexing dengan produk luar. Produk lokal kota Pekanbaru sendiri justru mulai jarang dikenal anak muda di sini. Sepertinya warga kota Pekanbaru lebih pintar menghabiskan uang daripada menghasilkan uang," ujarnya.

Terkait keberpihakan atas  produk lokal,  'Bang Jagok' sapaan akrab Ridho Ikhsan, menunjukkan bagaimana kini  produk-produk UMKM lokal sudah muncul di toko-toko modern maupun toko-toko online. Harga-harganya pun sangat bersaing, ujarnya.

Kemudian berbicara mengenai tata kelola kota, hingga saat ini persoalan banjir masih jadi hantu di siang bolong. Beberapa jam saja hujan mengguyur, lebih dari 350 titik di kota ini tergenang air tinggi.  Ini terjadi akibat belum tuntasnya infrastruktur Kota, drainase yang tidak berfungsi, problem sampah, serta proyek normalisasi sungai dan penataan parit pemukiman yang belum ditangani serius.

"Selain itu, yang jadi polemik terkait parkir. Kita sama-sama tahu, di banyak lokasi semestinya tidak dipungut parkir namun masyarakat tetap membayar. Belum lagi juru parkir ilegal yang kian menjamur dimana-mana. Keluhan ini banyak disuarakan warga Pekanbaru," ucap Bang Jagok.

Memang, kata dia, Dinas terkait sudah berupaya untuk menghimbau masyarakat agar tidak membayar parkir di area tertentu. Namun masalah muncul ketika terjadi konflik antara warga dengan juru parkir.

Persoalan lain yang kerap ditemui di lapangan adalah terkait bantuan sosial pemerintah. Yang masih menjadi kendala yakni soal ketepatan sasaran dan  pemerataan penerimanya. 

"Mestinya dengan slogan  'smart city' soal data bukan masalah. Pemerintah bisa jemput bola untuk memverifikasi pendataan warga kurang mampu. Dengan datang langsung ke pemukiman data bisa terkonfirmasi. Pemkot tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah di bawahnya, buktinya sampai hari ini data yang ada tidak sepenuhnya akurat. Perlu misalnya  sediakan mobil pelayanan keliling di tiap kelurahan, agendakan di tiap RT dan RW agar masyarakat kurang mampu bisa melapor sendiri, itu salah satu contoh," terangnya.

Jika masalah serupa terus berulang tanpa solusi, masih soal itu-itu saja maka bukan tidak mungkin Kota kita ini  justru mendapat julukan 'dumb city', sindirnya.

Terkait momentum Pemilu dan Pilkada serentak 2024 mendatang, Ridho Ikhsan yang kini menjabat Bendahara  Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) Riau itu menegaskan, "Kelak Pekanbaru harus memiliki para Pemangku Daerah yang betul-betul paham masalah, paham kerja, tahu kondisi wilayah dan mengerti kebutuhan warganya."

"Pekanbaru saat ini butuh orang-orang Jagok. 'Jagok' artinya mereka mampu mengelola kota dengan cara yang profesional, aparatnya cakap dan terampil, menangani masalah dengan kompeten dan ahli, serta membuka ruang partisipasi dan kreatifitas agar warganya menjadi warga-warga yang hebat" tutup Bang Jagok Ridho Ikhsan. (Rls)

Editor : Ahnof
Komentar Via Facebook :