Sekian Kali, KPK dan Aparat Hukum di Minta Pertajam Pantauan di Bengkalis

Sekian Kali, KPK dan Aparat Hukum di Minta Pertajam Pantauan di Bengkalis

Foto: M.Fachrorozi, Seorang Masyarakat Kabupaten Bengkalis

BENGKALIS, RANAHRIAU.COM - Masih intens tak hentinya menyuarakan sikap sebagai bentuk mengingatkan kepada Aparat Penegak Hukum (APH) baik nasional maupun aparat yang di Riau, agar lebih mempertajam perhatian dengan meningkatkan pemantauan terhadap upaya-upaya penyalahgunaan wewenang yang mengarah pada tindakan korupsi, terutama di Kabupaten Bengkalis.

"Tak hentinya, sikap aktif itu di suarakan oleh masyarakat Bengkalis M.Fachrorozi buat yang kesekian kalinya.Tujuan ini layak terus di sebut sebagai pengingat," ungkap pria yang akrap disapa Agam. 

Ia mengatakan, institusi hukum yang di miliki negara ini mesti selalu mendapatkan dukungan dari publik, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya.

"Hal itu agar bentuk indikasi prilaku semena-mena tidak dengan gampangnya menguasai hasrat berbagai simpul yang ada," tegasnya.

Lebih lanjut, Agam menuturkan, bahwa prilaku menyimpang dalam tanda kutip perbuatan menggerogoti uang rakyat itu contohnya sudah terlalu banyak dengan bermacam modus, aparat hukum sendiri juga tidak kekurangan referensi dengan hal itu.

"Maka atas pemahaman yang di sebut tidak ada salahnya kita dari masyarakat  yang masih memiliki pikiran positif ambil peran fungsi kontrol termasuk juga menginspirasi aparat pemegang wewenang hukum dalam penindakan seperti, KPK, Kejaksaan dan Kepolisian agar lebih produktif," sebut Agam, Selasa (30/5/2023) kehadapan ranahriau.com, di salah satu caffe di Bengkalis. 

Memang tidak mudah meletakkan harapan itu sesuai dengan ekspektasi. 

Katanya meneruskan, tambah lagi dalam perjalanan stigma negatif masih belum terpatahkan, yang pada kenyataannya fakta lapangan dari setiap indikator pemufakatan yang bersifat abnormal masih saja mengalir tanpa ada rasa takut sedikitpun, ungkapan ini sangat perlu kiranya kita utarakan, mengingat khususnya Bengkalis negeri yang dengan perjalanan kepemimpinan cukup kontroversi.

Kenapa Bengkalis, ya itu tadi sensitifnya beda dan lagi bukan rahasia umum penguasa yang sekarang dari penguasa sebelumnya yang pernah tersandung hukum, karena terjadinya keberlangsungan posisi politik maka selayang dugaan ada kekuatan yang merasa hebat sendiri seolah mampu meredam semua kapasitas penegakan hukum.

"Sebetulnya bagi kaum terdidik memahami hal itu sebagai sebuah proses waktu saja, berbeda bila merujuk pada kaum suka-suka yang keliru memandang kekuasaan, dalam hikmat mereka sekali berkuasa kekal selamanya, jelas impossible itu," singgungnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 

Bagaimana tidak, ungkap Agam lagi, berbagai asumsi dan pertimbangan harus selalu terbangun di Bengkalis sebutnya masih menyampaikan pemikiran, bila melihat dari aspek kekuasaan saat ini rasanya khalayak ramai dapat menilai sendiri, bagaimana pengendali menunjuk kan powernya dengan identitas kekuasaan.

"Dimana garis keluarga dan kolega menguasai hampir di semua sektor mitra kekuasaan, komponen strategis sebahagian besar dibayangi oleh mereka-mereka, bila mengikut penilaian sedehana, skema ini terbangun sebagai wujud monopoli dari kekuasaan.

Tak cuma itu, walau bukan merupakan gaya politik baru dan sudah menjadi menu kuno. 

"Namun, dikatakan Agam menurut mereka masih asik untuk diadopsi, dugaan sesungguhnya situasi itu pertanda secara tidak lansung mereka tunjukkan bentuk keinginan pengendalian otoriter yang nantinya dapat menguasai semua sektor, termasuk penguasaan kebijakan, APBD dan sektor lainnya yang masih dalam wilayah kekuasaan administrasi Kabupaten Bengkalis, penjabarannya bisa subjektif," beber Agam.

Dapat dinilai kuat dugaan barisan kekuasaan saat ini terkesan congkak seolah tak dapat tersentuh hukum, bahkan bila dibanding pencitraan yang dibangun hari ini pun sama sekali tak mencerminkan kesinambungan dalam terapan yang layak. 

"Justru, terindikasi mengelabui dengan dominan mengisi program-program lebih pada mengentertainkan moment seremonial sebagai serial berlindung. Lalu juga mengunakan narasi-narasi politik yang klise sebagai bentuk seakan kewarasan," dugaannya berkata sambil membuka pintu mobil. 

Terakhir, ia menambahkan, disadarinya pandangan ini tentu tidak sepenuhnya bikin puas hati banyak pihak, paling tidaknya sudah membangun perspektif positif. Secara pribadi ia juga tidak terlalu menghiraukan pandangan miring dari golongan orang-orang yang tak cerdas, apalagi dari kaum pencari muka dan oportunisme. 

"Masa bodohlah kita, yang penting itu bagaimana hal ini teratensikan oleh para aparat hukum negara sebagai landasan bergerak cepat," tuturnya mengakhiri.

Editor : Eriz
Komentar Via Facebook :