Apakah Polisi boleh bertato?, Ini Penjelasan Resminya, seluruh Polri wajib Tahu

Apakah Polisi boleh bertato?, Ini Penjelasan Resminya, seluruh Polri wajib Tahu

JAKARTA, RANAHRIAU.COM- BOLEHKAH polisi memiliki tato ?. Pertanyaan itu muncul dalam benak masyarakat setelah melihat sosok polisi yang merupakan ajudan atau pengawal Ferdy Sambo kala diperiksa di Mabes Polri pekan lalu. Dalam pemeriksaan keempatnya, Sambo didampingi seorang polisi yang memiliki tato.

Menurut informasi yang beredar polisi itu bernama Matius Marey, pria asal Papua yang berpangkat Brigadir Polisi Kepala atau Bripka. Matius merupakan satu dari beberapa ajudan Sambo, termasuk mendiang Brigadir J dan Bharada E.

Penampilan Matius mencolok ketika membelah kerumunan wartawan. Saat tangan kirinya diangkat, terlihat sebagian tangan dan telapak tangan Matius banyak tato. Matius cukup lama mendampingi Sambo. Bahkan ketika istri Sambo, Putri Chandrawathi menjenguk Sambo di Mako Brimob, Matius nampak menjaga istri Sambo.

Soal tato memang sejak awal sudah menjadi larangan bagi orang yang hendak mencalonkan diri sebagai polisi. Dalam sekian banyak aturan, ada pernyataan bahwa “tidak bertato dan tidak ditindik atau anggota badan lainnya, kecuali yang disebabkan oleh ketantuan agama/adat”.

Jadi sudah jelas jika memang sebenarnya tidak disarankan polisi memiliki tato. Lantas kenapa ada polisi boleh bertato?. Memang sejumlah polisi dikenal memiliki penampilan yang nyentrik dan tidak biasa. Namun penampilan itu biasanya terlihat dari gaya berpakaian dan model rambut yang panjang.

Salah satu polisi yang nyentrik dan dikenal masyarakat adalah Aiptu Jakaria alias Jacklyn Choppers atau Bang Jack dengan penampilan yang nyentrik. Selain berambut panjang, Jacklyn juga kerap menggunakan dandanan pakaian yang berbeda dan menarik perhatian. Ia pernah menangkap tetangganya yang menjadi bandar narkoba. Dia sempat mengemban tugas di Subdit IV Jatanras Ditreskrimsus Polda Metro Jaya selama beberapa tahun.

Jika sekarang ada polisi bertato dan masyarakat membuat tato, di zaman orde baru di kepemimpinan Soeharto sudah ada larangan untuk memiliki tato.

Tato identik dengan kejahatan.

Makanya banyak orang bertato yang seorang preman atau penjahat terpaksa hilang misterius diduga dibunuh dan ditembak agar tidak meresahkan masyarakat. Sampai sekarang pun sebagian orang masih menilai negatif orang yang memasang tato dalam tubuhnya. Padahal seiring perkembangan zaman, tato dianggap sebagai bentuk ekspresi karya seni dari seseorang dan tidak ada hubungan antara tato dengan kepribadian seseorang.

Editor : Abdul
Sumber : nkripost
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :