Presiden Jokowi sampaikan kabar buruk terkait pandemi covid 19

Presiden Jokowi sampaikan kabar buruk terkait pandemi covid 19

JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Hal tersebut menyusul pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memperkirakan munculnya varian baru lagi dari covid-19. Varian baru disebut bisa menyebabkan pandemi berlangsung lebih lama.

“WHO menyampaikan diperkirakan akan muncul lagi varian baru. Varian baru lagi dan ini akan menyebabkan pandemi bisa lebih panjang dari yang kita perkirakan,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (20/7/2021).

Oleh sebab itu, pembatasan kegiatan masyarakat belum bisa diakhiri. “Bayangkan kalau pembatasan ini dilonggarkan, kemudian kasusnya naik lagi, dan kemudian rumah sakit tidak mampu menampung pasien-pasien yang ada,” tuturnya.

Jokowi menegaskan bahwa penerapan protokol kesehatan harus disiplin dan percepatan vaksinasi menjadi kunci utama pengendalian kasus. Jokowi meminta kepada seluruh kepala yang didukung oleh jajaran Forkopimda agar fokus dan bertanggung jawab terhadap seluruh upaya penanganan dan pengendalian covid-19, termasuk pemulihan ekonomi.

WHO Desak Pemerintah Indonesia Lockdown Total

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikabarkan mendesak pemerintah Indonesia untuk menerapkan lockdown yang lebih ketat dan lebih luas. Pengetatan mobilitas masyarakat itu dilakukan karena lonjakan infeksi dan kematian Covid-19 di Indonesia sangat tinggi. Indonesia telah menjadi salah satu episentrum pandemi global dengan kasus positif Covid-19.

Angka penderita melonjak lima kali lipat dalam lima minggu terakhir

Minggu ini, kematian harian mencapai rekor tertinggi lebih dari 1.400, di antara jumlah korban tertinggi di dunia.

Seperti dilansir Reuters, dalam laporan terbarunya WHO mengatakan penerapan ketat kesehatan masyarakat dan pembatasan sosial sangat penting.

Organisasi kesehatan dunia itu pun menyerukan tindakan mendesak tambahan untuk mengatasi peningkatan tajam dalam infeksi di 13 dari 34 provinsi di Indonesia. “Indonesia saat ini menghadapi tingkat penularan yang sangat tinggi, dan ini menunjukkan pentingnya penerapan kesehatan masyarakat dan langkah-langkah sosial yang ketat, terutama pembatasan pergerakan, di seluruh negeri,” ujarnya seperti yang dilansir dari Ayobandung.com.

Di bawah penguncian sebagian di Indonesia, pembatasan sosial seperti bekerja dari rumah dan mal ditutup terbatas terjadi di pulau Jawa dan Bali serta kantong kecil di bagian lain negara ini.

Sektor ekonomi besar yang dianggap kritis atau esensial dibebaskan dari sebagian besar, atau sebagian, dari tindakan penguncian.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menandai pelonggaran pembatasan mulai pekan depan.

Ini dia katakan dengan mengutip data resmi yang menunjukkan penurunan infeksi dalam beberapa hari terakhir, yang menurut para ahli epidemiologi kenyataan itu karena telah didorong adanya penurunan pengujian dari tingkat yang selama ini sudah rendah. “Jika tren kasus terus menurun, maka pada 26 Juli 2021, pemerintah akan mencabut pembatasan secara bertahap,” kata Jokowi.

Tingkat positif harian Indonesia, yakni antara proporsi orang yang dites dan yang terinfeksi, rata-rata hanya 30% selama seminggu terakhir, bahkan ketika jumlah kasus telah turun. Padahal menurut WHO, tingkat di atas 20% berarti penularannya sangat tinggi.

Selain itu, menurut daa WHO, semua wilayah di Indonesia tingkat penularannya tinggi atau di atas 20 persen, kecuali satu provinsi yakni Aceh yang hanya mencapai sebesar 19%.

Menteri senior yang menangani penguncian sebagian wilayah itu, Luhut Pandjaitan, mengatakan pelonggaran pembatasan dapat terjadi di daerah-daerah di mana tingkat penularan turun, kapasitas rumah sakit meningkat dan kondisi sosiologis penduduk yang menuntutnya.

Kelompok pengusaha pun telah memperingatkan PHK massal kecuali pembatasan dilonggarkan minggu depan. Di antara langkah-langkah lain, mereka ingin semua staf operasional diizinkan bekerja di kantor dan pabrik di industri penting dan penting yang mencakup semua bisnis, hotel, dan perusahaan Teknologi Informasi yang berorientasi ekspor.

 

Editor : Abdul
Sumber : Warta Ekonomi
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :