Dosen Pengampu: Agustiawan, SE., M.Sc., Ak

Dampak Pandemi, Etika Ekonomi Indonesia merosot

Dampak Pandemi, Etika Ekonomi Indonesia merosot

RANAHRIAU.COM- Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) berdampak signifikan pada banyak aspek kehidupan, tidak hanya kesehatan dan kemanusiaan, tetapi juga perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Kondisi ini kemudian tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan dan kemanusiaan, tetapi juga mengakibatkan krisis ekonomi dan meningkatkan kemiskinan di berbagai negara. Perkembangan kurang menguntungkan kepada perekonomian global ini tidak dapat dihindari sebagai akibat penerapan kebijakan pembatasan mobilitas untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

Di Indonesia sendiri dampak Covid-19 menekan cukup berat perekonomian Indonesia di semester I 2021. Perekonomian  Indonesia  berdasarkan  besaran  Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan I-2021 mencapai Rp3.969,1 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.683,1 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan I-2021 terhadap triwulan I-2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,74% (y-on-y). Serta ekonomi Indonesia triwulan I-2021 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,96% (q-to-q) (www.bps.go.id). Membatasi kegiatan masyarakat dapat mengganggu proses pemulihan ekonomi, sementara melonggarkan kegiatan ekonomi dapat memicu risiko lonjakan pasien. Hal ini membuat pemerintah menjadi dilema, ditengah pandemi ini pemerintah harus bijak memilih antara menyelesaikan masalah kesehatan atau masalah perekonomian Indonesia. Namun, dilema semakin menajam seiring munculnya polemik dikalangan masyarakat terkait efektivitas Program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Mikro (PPKM) mikro. Dengan tingkatan berbeda-beda, maka masyarakat ekonomi golongan menengah ke bawah khususnya mikro dan pekerja informal berpendapatan harian, tentu menjadi kelompok yang paling terkena dampaknya.

Di satu sisi, kebijakan itu bertujuan menghentikan penyebaran virus corona agar masyarakat tidak tertular. Namun, di lain pihak, hal itu dapat melumpuhkan roda perekonomian sehingga dapat berdampak pada peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan. Kalau PSBB tidak diberlakukan dan roda perekonomian berlangsung normal, angka penularan virus corona diperkirakan akan meningkat tajam. Korban meninggal pun tentu akan semakin bertambah.

Dalam kondisi ini, UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian. UMKM juga memiliki ketahanan yang tinggi dalam menghadapi berbagai krisis sebelumnya, meskipun krisis Covid-19 saat ini memberikan tekanan yang luar biasa besar. Ketahanan UMKM yang tinggi tersebut selama ini berperan sebagai bantalan perekonomian karena kemampuannya untuk bertahan pada periode tekanan dan dapat tumbuh kembali lebih cepat dan tinggi pascatekanan.

Sementara itu, bisnis tidak bisa dilepaskan dari aturan-aturan main yang selalu harus diterima dalam pergaulan sosial, termasuk juga aturan-aturan moral. Namun, kadang kehadiran etika dalam bidang bisnis masih diragukan. Dalam masyarakat sering kali beredar anggapan bahwa bisnis tidak mempunyai hubungan dengan etika atau moralitas, sehingga merugikan orang lain. Contohnya, kerap kali banyak terjadi penipuan onlineshop, monopoli dagang, dll.

Maka dari itu etika ekonomi sangat penting untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan bisnis di masa pandemi. Serta, pelaku bisnis harus menerapkan prinsip-prinsip yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan sehari-hari, yaitu: prinsip otonomi, kejujuran, keadilan, saling menguntungkan, dan integritas moral.

Penulis : Kharisma Rama Windari, Mahasiswi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Riau, Aktivis Cipayung Kota Pekanbaru sekaligus Sekretaris bidang hikmah Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Pekanbaru.


 

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :