Webinar Literasi Digital Kota Pekanbaru Beri Pencerahan tentang Cerdas Bermedsos Generasi Milenial

Webinar Literasi Digital Kota Pekanbaru Beri Pencerahan tentang Cerdas Bermedsos Generasi Milenial

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM - Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kota Pekanbaru Mulai bergulir. Pada Jumat (18/06/21) pukul Dua Siang, telah dilangsungkan Webinar bertajuk Cerdas Bermedsos Generasi Milenial.

Kegiatan massif yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan  kognitif-nya untuk  mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet. 

Pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 202,6 juta jiwa. Total jumlah penduduk Indonesia sendiri saat ini adalah 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. 

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah terkait literasi digital. "Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama siberkreasi dan katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik," katanya lewat diskusi virtual. Dalam konteks inilah webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI ini menjadi agenda yang amat strategis dan krusial, dalam membekali seluruh masyarakat Indonesia beraktifitas di ranah digital.

Pada webinar yang menyasar target segmen Pelajar dan sukses dihadiri 525 peserta daring ini, hadir dan memberikan materinya secara virtual, para Narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, yakni Inna Dinovita, S.TP, Owner Saesha Cantika Indonesia; Ari Maya Lestari, S.Si, Master Mentor SIGAP UMKM; Nugroho Noto Susanto, SIP, Komisioner KPU Prov. Riau; dan Yusri Rasoel, Dr.Eng.MT, Sekretaris Dinas Pendidikan Prov. Riau. Penggiat media sosial yang juga, Pembawa berita TvOne, Dosen, dan Moderator, Chacha Annissa bertindak sebagai Key Opinion Leader (KOL) dan memberikan pengalamannya. Hadir pula selaku Keynote Speaker, Samuel A. Pangerapan Dirjen Aptika Kementerian Kominfo.

Pada Sesi pertama, Inna Dinovita, S.TP. menyampaikan, media sosial ini sudah menjadi kebutuhan, terutama WhatsApp sebagai pengganti SMS sebagai alat komunikasi harian. Dengan adanya media sosial ini kita diberikan kemudahan bahkan untuk komunikasi jarak jauh. 
“Media sosial memiliki fitur-fitur yang dapat memudahkan kita dalam menjalankan aktivitas harian seperti WhatsApp untuk berkomunikasi serta ada WhatsApp Business, Youtube untuk mencari informasi dan hiburan, kemudian Instagram untuk membagikan foto dan video serta promosi produk, jasa atau layanan. Lalu, TikTok yang bisa digunakan seperti fitur Instagram. Kemudian, Facebook yang bisa digunakan untuk menyebarkan informasi, marketplace dan memiliki fitur posting terjadwal. Maka, untuk memanfaatkan media sosial dengan baik pilihlah media sosial yang tepat dengan fungsi yang diharapkan”, tuturnya.

Giliran pembicara kedua, Arie Maya Lestari, S.Si yang memberikan pemaparan tentang bermedia sosial yang sehat dan aman. Kita harus memahami fitur kemana di berbagai aplikasi media sosial. Dalam menggunakan media sosial kita harus berhati-hati dalam memilih teman di media sosial. Kemudian, hindari klik link atau tautan yang tidak jelas. Gunakan sandi yang berbeda serta unik pada setiap akun media sosial, serta buat konten yang bijak dan bermanfaat. Hal yang tidak boleh dilupakan juga mengaktifkan fitur privasi untuk mencegah orang asing untuk mengakses profil media sosial kita. 
“Dalam kejahatan media sosial tentunya kita pernah mendengar hacker dan cracker. Hacker adalah seorang peretas yang menerobos masuk ke dalam komputer atau jaringan komputer kita. Sedangkan, untuk cracker adalah perusak yang bersifat legal dan merugikan. Untuk menghindari hal itu kita harus mengganti password dengan kata yang unik dan memilih website yang aman, gunakan fitur verifikasi dua langkah, serta menggunakan perangkat yang terpercaya”, jelasnya.

Tampil sebagai pembicara ketiga Nugroho Noto Susanto, SIP. yang menyampaikan materi tentang urgensi etika digital bagi pengguna media sosial. Tantangannya, kita harus memanfaatkan ruang digital yang semakin meningkat. Namun, beriringan dengan meningkatnya “disrupsi sosial” di ruang digital. Dalam ruang digital ada yang namanya netiket. 
“Sepuluh Langkah netiket dalam berinteraksi di dunia maya, yaitu: ingatlah keberadaan orang lain, taat kepada standar perilaku online yang sama kia jalani dengan kehidupan nyata, berpikir lebih dulu sebelum berkomentar, hormati waktu dan bandwith orang lain, gunakan bahasa yang sopan dan santun, bagilah ilmu dan keahlian, menjadi pembawa damai dalam setiap diskusi yang sehat, hormati privasi orang lain, jangan menyalahgunakan kekuasaan, maafkan jika orang lain membuat kesalahan”, ungkap Nugroho.

Pembicara keempat Yusri Rasoel, Dr.Eng.MT, menjelaskan bahwa kita harus membudayakan sistem digital ini secara positif dan secara massif. Kita harus merangkul budaya digital yang berguna untuk memecah hierarki dan mempercepat pekerjaan. Kemudian, juga bisa mendorong inovasi serta menarik bakat usia baru dan mempertahankan tenaga kerja. Kaitannya budaya digital dalam pendidikan dan revolusi 4.0 adalah dunia pendidikan kita memang sangat dinamis karena satu sisi kita harus mengikuti perkembangan yang ada namun satu sisi juga bertentangan dengan tingkat perekonomian kita saat ini. Keterampilan yang dibutuhkan di era digital ini adalah kreativitas dan critical thinking. Tantangan untuk Indonesia saat ini adalah Sumber Daya Manusia dan IPTEK. Harus ada peningkatkan produktivitas menuju keunggulan kompetitif. Melalui pendidikan formal dan non-formal harus dilakukan literasi digital. Masyarakat umum dengan mudah dapat menemukan informasi melalui internet untuk memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan berbagai permasalahan. 
“Budaya digital mesti ditumbuhkan dan dimiliki oleh setiap masyarakat terutama bagi siswa atau mahasiswa sesuai tuntutan zaman”, harap Yusri.

Chacha Annissa Sebagai key opinion leader dalam webinar kali ini menuturkan,  “Etika bermedia sosial itu sangat penting. Pergunakanlah media sosial untuk hal yang baik-baik saja. Interaksi sosial juga sangat penting dan jangan selalu bergantung pada gadget. Media sosial digunakan untuk hal yang positif dan untuk hiburan, jika media sosial jika tidak digunakan dengan baik akan menjadi bumerang bagi kita”, kata Chacha.

Para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber. Dian Oka Putra memberikan pertanyaan kepada Narasumber Nugroho Noto Susanto, SIP., bagaimana KPU untuk memerangi black campaign dan buzzer yang membuat opini? Narasumber menjelaskan benar bahwa KPU melegalkan metode kampanye dengan media sosial. Karena betapa pentingnya media sosial bagi kehidupan kita terutama juga dalam ruang politik, spesifik pemilu atau pilkada. Menurut beliau, banyak sekali laporan dalam konteks negatif seperti black campaign, ujaran kebencian dan hoaks tadi. Demokrasi yang kita bangun adalah demokrasi pancasila dimana kebebasan dalam ruang kampanye dengan aspek-aspek etika. Untuk praktek buzzer, cebong atau kadrun adalah contoh ketidakbijaksanaan penggunaan media sosial yang bisa memecah belah masyarakat. Yang perlu kita lakukan adalah penyadaran bagi masyarakat yan literasinya rendah. Apa yang kita baca adalah diri kita, kita harus bangun pendidikan literasi tiada henti.

Webinar ini merupakan satu dari rangkaian 60 kali webinar yang diselenggarakan di Kota Pekanbaru Masyarakat diharapkan dapat hadir pada webinar-webinar yang akan datang

Editor : Muhammad Saleh
Komentar Via Facebook :