Webinar Literasi Digital Kemkominfo, Menjadi Mahasiswa Produktif Di Media Sosial

Webinar Literasi Digital Kemkominfo, Menjadi Mahasiswa Produktif Di Media Sosial

JAKARTA, RANAHRIAU.COM - Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) gelar kegiatan webinar literasi digital pada hari Jumat (11/06/2021) dengan tema “Menjadi Mahasiswa Produktif di Media Sosial”. Kegiatan yg di mulai dari pukul 14.00 ini dibuka oleh moderator Astrid Anggraeni. 

 

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementrian Komunikasi dan Informasi (Dirjen Aptika) Samuel Abrijani Pangarepan, B.Sc memberikan sambutan dan langsung membuka acara tersebut. 

 

Kegiatan ini terbagi dalam beberapa sesi, yang pertama Key Opinion Leader oleh Novia Puti Pama seorang owner dari @junecloth_ serta presenter dan host pada program Topik Terkini di ANTV. 

 

Sesi yang kedua adalah pemaparan dari narasumber. Ada empat narasumber yang dihadirkan pada webinar kali ini. Yang pertama adalah Dr. Dian Purwanti, M.AP yang merupakan seorang praktisi pada dunia pendidikan. Dia menampilkan materi tentang meningkatkan produktivitas dengan kemampuan digital. Media sosial yang gemar digunakan oleh masyarkat Indonesia seperti Instagram, Youtube, Twitter, WhatsApp dan lainnya. 

 

"Karakteristik media sosial adalah partisipasi pengguna, adanya keterbukaan, perbincangan, dan keterhubungan. Dan Fungsi media adalah untuk interaksi sosial, selain itu bisa digunakan sebagai personal branding dan sebagai media komunikasi", ungkap Dian

 

"Mahasiswa produktif, harus berpikir realistis untuk menjadi produktif dengan menghitung dan memanfaatkan waktu yang dimiliki, mengatur tujuan serta melakukan penataan pada tujuan ke depan adalah cara orang produktif dalam berpikir", tambahnya lagi. 

 

Kemudian narasumber kedua bapak Drs. Goffridus Goris Seran, M.Si memaparkan tentang literasi digital sebagai digital culture. Menurut Goffridus, penyebaran literasi digital masih perlu diikuti oleh pengertian dan kemampuan atas literasi digital tersebut. 

 

"Masyarakat saat ini sudah menjadi masyarakat online dan media sosial dapat berperan sebagai agen sosial dan perubahan politik", jelas Goffridus.

 

"Digital culture merupakan kemampuan individu dalam membaca, memeriksa, menguraikan membiasakan dan membangun nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Nilai atau value kita yaitu harus melihat tata pikir, tata laku, tata benda. Nilai atau value ke-Indonesiaan dalam digital culture seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika", terangnya. 

 

Narasumber yang ketiga bapak Dr. Nurdin, MA menyampaikan materi tentang digital ethics dimana Undang Undang ITE adalah kunci dalam menjaga etika digital ketika kita menggunakan dunia digital. Nurdin memberikan beberapa tips untuk menyaring hoax di media sosial yaitu, siapa yang membagikannya, baca judulnya, baca narasi postingannya, lihat alamat URL-nya, lihat nama penulis dan susunan redaksinya, isi artikel dalam portal yang dibagikan tidak sejalan dengan narasi postingan dengan judulnya, sumber tulisan tidak jelas. 

 

"Harusnya media sosial dapat menjadi wahana untuk mendudukkan proses dialog yang sehat dalam berkomunikasi agar terwujud harmonisasi", tukas Nurdin. 

 

Yang terakhir sebagai pembicara pada webinar ini adalah bapak Mustafa Ssos, M.I.Kom yang menyampaikan dalam satu menit saja kita dapat melihat ribuan bahkan jutaan konten yang diupload di bebagai media sosial dan bahkan jutaan jumlah pembelian transaksi online. Menurut dia, kita hidup di era pertentangan, banyak hoax atau berita yang menimbulkan konflik sosial dan pertentangan. Kemudian era share-bait, sekitar 59 persen link di media sosial tidak benar-benar diklik. Serta kita juga hidup di era skimming atau scanning.

 

"Saat ini kita pasti memiliki rasa ingin tahu dan memberi tahu. Dengan fenomena itu kita harus bisa positif dan produktif, dan dengan alasan yang jelas apakah untuk eksistensi, berteman, gerakan sosial, politik atau untuk karir dan bisnis", paparnya dengan tegas. 

 

Setelah sesi pemaparan materi selesai, terakhir dari kegiatan ini adalah sesi tanya jawab. Antusiasme dari peserta sangat terlihat. Terbukti dengan banyaknya peserta yang bertanya, tapi berhubung kegiatan webinar ini hanya sampai pukul 17.00, hanya empat penanya yang dipilih untuk menyampaikan pertanyaannya. Dan panitia memberikan apresiasi kepada penanya dengan memberikan gift berupa e-money. 

 

Terakhir Novia Puti Pama diberikan kesempatan untuk berkomentar. "Kita jangan melihat hanya dari satu sisi terhadap segala sesuatu yang kita terima. Harus mencari tahu kebenarannya dan harus memilih mana yang pantas dan tidak pantas diucapkan di media sosial. Bagi mahasiswa, produktivitas itu tidak harus sesuai dengan jurusan kita tetapi segala bakat yang kita punya harus disalurkan", tuturnya.

Salam Literasi Indonesia Cakap Digital! 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Muhammad Saleh
Sumber : Realese
Komentar Via Facebook :