Tambak Udang

Ulah Pengusaha, Hutan Lindung Mangrove di Babat Menjadi Tambak Udang

Ulah Pengusaha, Hutan Lindung Mangrove di Babat Menjadi Tambak Udang

Ratusan Hektar Kawasan Hutan Mangrove sebagai benteng alam Pulau Bengkalis setiap waktu terus dirambah secara ilegal.

Bahkan banyak yang berubah fungsi menjadi tambak udang oleh ulah pengusaha tanpa tersentuh hukum oleh Penegak Hukum. 

Padahal dampak dari perusakan hutan mangrove sebelah utara, timur, selatan Pulau Bengkalis membuat proses kehancuran Pulau Bengkalis makin dipercepat.

BENGKALIS, RANAHRIAU.COM - Amamoto Ahli Enviromental Engineering dan Sediment Transport melihat selama ini pulau yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka pembatas antara Indonesia dengan Negara Malaysia, sudah sejak lama dihantam abrasi Pantai.

“Bahkan pulau yang dulunya dijuluki kota terubuk, menurut Profesor Koichi Yamamoto, peneliti dari Universitas Yamaguchi, Jepang, mengatakan Pulau Bengkalis terancam tenggelam,” ujarnya.

Hal itu akibat tingkat abrasi yang cukup parah hingga mencapai 40 meter pertahun. 

Lebih lanjut Yamamoto itu dalam diskusi ilmiah tentang ancaman Erosi dan Abrasi Lahan Pesisir Pulau Gambut yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Riau beberapa waktu lalu.

Ia mengaku telah melakukan penelitian selama enam tahun terakhir di Pulau Bengkalis, salah satu pulau yang berada di Pesisir Riau.

“Begitu parahnya kondisi abrasi yang menghantam pulau Bengkalis, namun sangat disayangkan sekali masih tersisa sedikit benteng alami berupa hutan mangrove untuk dapat menahan lajunya proses kehancuran Pulau Bengkalis. Itu terus dirambah oleh pengusaha tambak udang,” paparnya.

Bahkan secara terang-terangan Kepala Dinas Perikanan Bengkalis, Herliawan mengatakan kepada wartawan, belum lama ini, dilihat dari tambak yang ada hanya satu atau dua yang memiliki izin.

“Setahu saya baru satu atau dua tambak udang yang memiliki izin saat ini. Sementara tambak lainnya belum memiliki izin karena terkendala status lahan pemilik usaha tambak ini masuk dalam hutan produksi terbatas (HPT),” jelasnya.

Sesuai data sementara diperolehi media ini, jumlah keseluruhan lokasi tambak udang sebanyak 60 lokasi.

Diperkirakan mencapai ratusan hektar Kawasan Hutan Mangrove menjadi korban yang dibabat secara ilegal berubah fungsi menjadi kolam udang yang tersebar di beberapa Kecamatan, terbanyak di lokasi Kecamatan Bengkalis dan Kecamatan Bantan Pulau Bengkalis.

Hasil pantauan langsung awak media ini ke lapangan dengan berpedoman dengan Peta sebagaimana tertuang pada lampiran Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.903 /MENLHK/SETJEN/PLA.2/12/2016 Tentang Kawasan Hutan Provinsi Riau.

“Terdeteksi lokasi-lokasi tambak udang yang diduga termasuk dalam kawasan hutan Mangrove dan Kawasan Lindung Sepadan pantai yaitu lokasi tambak udang yang terletak di areal Desa Penampi dan Kelebuk, Desa Damai, DesaTameran, Desa Penebal, Desa Pematang Duku, Desa Ketam Putih, Desa Sebauk, Desa Kelapapati Kecamatan Bengkalis,” tambahnya.

Kemudian untuk Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, lokasi-lokasi yang diduga masuk dalam Kawasan Hutan terletak di areal Desa Selat Baru, Desa Berancah, Desa Teluk Papal, Desa Suka Maju, Desa Pambang Baru, Desa Pambang, Desa Kembung Baru Desa Kembung Luar dan sejumlah areal Desa lainnya.

Kepada media ini Kordinator investigasi LSM-Ikatan Pemuda Melayu Peduli Lingkungan (IPMPL) Yanto mengatakan, Sabtu,(14/3/20), terhadap sejumlah lokasi yang terduga melakukan perambahan kawasan hutan Mangrove di jadikan Tambak Udang telah pernah dilaporkan kepada Kepala Dinas LHK Propinsi Riau, dan tembusannya juga dikirim ke Menteri LHK.

“Namun sayangnya sampai saat ini para pelaku sedikitpun tak tersentuh hukum,” sebutnya. 

Editor : Eriz
Sumber : rilis
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT :