Merintis Juang Bersama IMM

Merintis Juang Bersama IMM

RANAHRIAU.COM- 2015 merupakan tahun pertama saya menginjakkan kaki di dunia kampus, kampus yang terbayang dalam pikiran ku “sebagai siswa yang baru lulus” mencerminkan masa depan begitu dekat dengan tingkat keseriusan lebih medalami dunia pengetahuan bersama matakuliah yang disajikan kampus melalui Jurusan / Program studi. Tidak ada yang sama, semua yang kulihat dan kurasakan tidak pernah aku temukan di kehidupan sebelumnya. 

2016 awal saya mengikuti berbagai organisasi “Komunitas lebih tepatnya” di luar kampus, beberapa organisasi tersebut menggambarkan celah pintu masa depan yang berbeda dengan tawaran kampus yang kudapatkan sebelumnya, berbagai sudut pandang dan persfektif mulai saya temukan dari tradisi-tradisi diskusi bersama kawan-kawan organisatoris. Banyak kisah bahkan tragedi yang saya lalui semasa berselancar di dalam dunia dialektika pengetahuan.

Akhir tahun 2016 saya memutuskan untuk ikut bergabung dalam organisasi di lingkungan kampus, kenapa? Karena oragnisasi ini cenderung unik karena posisi nya menjadi internal di dalam kampus Perguruan Muhammadiyah apabila selain itu menjadi Eksternal. Organisasi itu “Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”.

Bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mulai berproses di pondok (Pimpinan Komisariat) yang sudah lama ditiinggal penghuni sebelumnya, begitu lalainya “pikirku” tentang amanah dan ikrar yang diucapkan, terhadap nilai-nilai etos yang di tumpah taburkan dalam kelas Arqam yang saya ikuti, tidak ada angin yang menyela, tidak ada malam yang berbisik tetiba dengan waktu begitu singkat di tetapkan beban di pundak seorang Bung_rahap “panggilan akrab saya” menjadi pemandu (Ketua Umum) di pondok yang tak berpeghuni tersebut.

Beriringan dengan proses yang saya lalui, saya tidak begitu menemukan spirit perjuangan yang nyata berdasarkan kesesuaian dengan konsep dasar dan tujuan organisasi tersebut diawal “ketika mengikuti aktivitas organisasi tersebut”, Karena banyak kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang saya temukan di awal perjalanan membersamai Ikatan “Nama Umumnya”, banyak kisah yang di ceritakan tentang kegemilangan organisasi di masa silam, serta intervensi yang muncul dalam hirearki senioritas, namun hal tersebut semakin menimbulkan banyak pertanyaan yang hadir dalam pikiran saya. Mengapa terjadi demikian? Kenapa setiap masalah yang muncul selalu di titikberatkan kepada mereka yang baru bersama?  Apakah ada perang di masa lalu, sehingga mengakibatkan runtuhnya kegemilangan organisasi di masa sekarang? Dan seterusnya hadir pertanyaan silih berganti.

Memasuki tahun ke-3 berjalan bersama organisasi, saya perlahan mulai mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di awal  secara mandiri melalui pendekatan partisipatif juga dengan pendekatan membaca (Iqra). Berbagai agenda-agenda organisasi yang di laksanakan juga sedemikian membantu sedikit menjawab hal diatas. Tapi jawaban itu biarlah untuk saya renungi secara individu sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pertanyaan berdasar asumsi yang muncul di awal ketika itu.

Konsep ber  IMM adalah memanfaatkan akal, pikiran (Ide) dan mewujudkan Ide, sebab dengan bekerjanya akal kemudian kita berproses dari manusia (Al-Basyar) manjadi  manusia yang kreatif/Aplikatif (Al-Insan). Makna tersebut membangun nalar humanisme dalam ber organisasi dibanding dengan organisasi internal kampus lainnnya. Kaderiasi di tubuh Ikatan sering saya Analogikan sebagai wadah produksi (mesin manufaktur) beras, dan setelah itu kemudian di konsumsi hingga memberikan manfaat bagi warga bumi umunya.

Nilai yang terkandung dalam makna ayat Al-quran surah An-nisa: 9 “Hendaklah kamu takut / khawatir meninggalkan generasi yang lemah sesudah kamu”. IMM Memandang dengan pendekatan rasional-kontekstual seusia dengan peradaban hari ini bahwa, Makna kata lemah diatas bukanlah lemah dalam aspek materi (Ekonomi) apalagi kebudayaan, akan tetapi lemah dari segi Intelektual, lemah dari segi Humanitas, dan lemah dari segi Spritual” dan nilai tersebut manjadi tumpuan dasar (Ideology) Ikatan mahasiswa muhammadiyah dalam menghadirkan akademisi Islam yang cakap spritual dan kokoh dalam intelektual (Kuntowijoyo meyebut Cendekiawann Muslim), di sebutkan dalam IMM “Tri Kompetensi Dasar”. Konsep yang melatarbelakangi ideologi IMM bukan hanya berhenti pada tataran discourse akan tetapi lebih kepada teologi Liberatif ((pembebasan), yakni teologi pembebasan, bahwa Tauhid sebagai konsep teologi pembebasan (Ali Syari’ati), yakni mengeluarkan manusia dari ketertindasan, kemiskinan dan bercita membebaskan manusia dari objek eksploitasi pasar (Kapitalisme). Bukanlah sebuah kebetulan dalam sejarah (an historical accident) konsep gagasan tersebut muncul. Melainkan sebuah proses tumbuh serta bertumpu terhadap perwujudan sikap kesadaran  akan makna dan tanggung jawab memikul amanah Khalifatulllah fil ardh sebagai pengganti tuhan di muka Bumi. Jawaban tersebut begitu kompatibel dengan kondisi warga dunia saat ini yang sedang di dominasi oleh kekuatan neo liberalisme, Indonesia khusunya. Oleh nya lahir konsep ”Trilogi” sebagai medan perjuangan IMM dalam manjalankan peran sebagai organisasi reformis-Progresif guna membantu mengenyahkan problem kehidupan manusia. Kendati Daniel Bell manyatakan The End Of Ideology, bahwa zaman modren (Industrialisasi) ditandai dengan kepunahan Ideologi, namun pada kenyataan hidup di dalam kehidupan saat ini masih sangat sesuai dengan kehidupan manusia, karena manusia tidak terlepas dari cara pandang ideologi di dasarkan pada realitas kehidupan saat ini. Apalagi menerjemahkan secara radikal tentang value yang syarat makna dalam Ideologi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam pendidikan nya (Darul Arqam) menekankan pada aspek kesadaran (Andragogi) sebagai manusia yang memiliki peran pengganti tuhan di muka bumi di setiap agenda dan program yang dinyatalaksanakan. Memahami bahwa pendekatan edukasi, penyadaran, pengalaman merupakan kunci utama dalam membangun  manusia yang unggul dan mumpuni dibanding dengan metode instruktif apalagi intervensi. Sebab menghadirkan kebahagiaan dan harmonisasi dalam lingkungan organisasi akan menciptakan amalan yang berkemajuan.

Amal adalah Ilmiah dan Ilmu adalah amaliah merupakan nilai-nilai yang harus tertanam dalam setiap individu masing-masing. Hal tersebut juga lahir salah satunya sebagai kritikan terhadap para intelektual yang jauh dari kenyataan penderitaan hidup masyarakat (Antonio Gramsci menyebut Intelektual Menara gading). Ilmu yang tidak di sertai dengan amal (perbuatan) akan sia-sia sedangkan beramal tanpa ilmu akan melahirkan sifat fanatisme, bahkan konservatif dalam beragama. Gagasan tersebut kelihatan begitu segar menjawab persoalan devisit moralitas yang terjadi di tengah perkembangan kehidupan peradaban masa kini. Gejala pengetahuan tanpa karakter, beragama tanpa pengorbanan, politk tanpa moralitas hilang makna di telan arus globalisasi. 

Di umur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menuju satu abad (56 tahun) telah memberikan kontribusi serta karya nyata terhadap peradaban bangsa hingga kini. Sebagai sebuah refleksi di umur yang makin dewasa ini mengharuskan IMM mengambil andil lebih dalam mendorong terciptanya masyarakat yang jauh dari busung lapar apalagi lapar pengetahuan. Dominasi teknologi (globalisasi) menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memihak kepada ketertinggalan masyarakat guna membawa keadilan,kemakmuran, kesejahteraan dan kemerdekaan menyelimuti hidup di kehidupan masyrakat Indonesia umumnya. Perlu menemukan formulasi gerakan yang lebih unggul untuk membawa konsep yang lebih berkemajuan sebagai gaya kolaborasi memajukan bangsa.

Akhirnya saya ucapkan selamat Milad untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang ke-56, semoga umur yang kian matang semakin melahirkan gagasan yang cakap dalam memberikan sumbangsih pemikiran terhadap kemajuan organisasi khusunya dan terlebih untuk bangsa Indonesia.


Penulis : Alpin Jarkasi Husein Harahap, Ketua Pimpinan Cabang IMM Kota Pekanbaru

 

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :