Menulis dan Membaca, Elemen Dasar Literasi yang Harus Bersinergi
Hendri Burhan, S.Pd
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM - Perlahan tapi pasti, gerakan literasi mulai menampakkan hasil dan berkembang secara luas. Dalam kurun waktu relatif singkat, telah lahir ribuan buku hasil gerakan guru dan siswa menulis dari berbagai seantero negeri. Tiba-tiba para guru mulai gemar menulis, dan tak segan-segan mengeluarkan biaya pribadi untuk menerbitkan hasil menulisnya menjadi sebuah buku. Pencapaian ini seharusnya menggembirakan, jika memang pertumbuhan pesat itu dibarengi dengan kegemaran membaca yang sayangnya tidak berkembang pesat. UNESCO mengumumkan Indonesia berada di urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. UNESCO mencatat minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari seribu orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!
Mari kita sedikit membandingkan dengan minat baca di Jepang. Survei menyebutkan rata-rata anak-anak SD membaca lebih dari 16 buku per bulan, anak SMP membaca 10-15 buku per bulan, dan anaka SMA lebih dari 16 buku per bulan. Luar biasa, bukan? Jumlah yang sangat mencengangkan bagi kita yang dalam setahun saja belum tentu menamatkan dua atau tiga buku. Bagaimana mereka bisa sedangkan kita tidak? Dalam uraian sederhana, kita juga bisa seperti mereka. Semua hanya dimulai dari satu langkah kecil, membiasakan membaca sejak dini. Ini sebenarnya mudah, namun jadi sulit karena dalam polemik ekonomi masyarakat kita, orang tua sendiri tak juga membaca karena paradigma mencari makan untuk hidup adalah suatu keharusan hingga membaca dianggap tak penting lagi. Untuk itu sekolah harus mengambil peran dengan membudayakan membaca dan mengunjungi perpustakaan.
Namun syukurlah, di negara besar ini langkah awal sebagai embrio literasi sudah bergulir dengan gerakan menulis buku di kalangan guru dan siswa. Hasilnya sudah kelihatan, buku-buku baru tak lagi didominasi pengarang-pengarang ternama dan itu-itu saja, namun merambah ke nama-nama baru dari kalangan pendidik dari berbagai sudut negeri.
Selesai? Belum. Menulis sudah, maka selanjutnya adalah membaca. Masalahnya di sini, masyarakat kita malas membaca. Bahkan guru-guru yang sudah menulis pun seperti tak ambil pusing bukunya tidak dibaca. Di kalangan PNS, tujuan menulis hanya sebagai pendongkrak angka kredit, mengejar target, dan pembuktian diri. Padahal sayang sebenarnya buku yang susah-payah ditulis tidak dibaca. Paradigma itu sudah tertanam di pelatihan menulis yang mereka ikuti telanjur lekat dalam diri. Jika sudah demikian, bagaimana kita bisa menjadi bagian dari peradaban jika buku-buku yang kita ciptakan hanya terpendam di perpustakaan pribadi dan tak dikenal orang? Bagaimana kita mengaku telah menciptakan sejarah jika hasil tulisan kita tidak tahu ke mana arah?
Para penulis baru di kalangan pendidik perlu memikirkan jalan bagaimana bukunya dibeli dan dibaca orang banyak. Mungkin di rak-rak buku toko ternama masih mustahil dijajaki, menjual ke relasi terdekat bisa jadi cuma upaya mengembalikan modal yang terpakai. Harus ada jalan yang beraroma dedikasi dan pengorbanan, salah satunya dengan menyumbangkan karya kita ke tangan yang tepat, dengan tujuan agar karya kita benar-benar dibaca dan menginspirasi banyak orang, sehingga lama-kelamaan kita baru bisa mengklaim telah menjadi bagian dari peradaban.
Salah satu upaya yang cukup baik dilakukan adalah melirik mitra bertujuan sama yaitu memajukan literasi. Berbarengan dengan lahirnya wadah atau komunitas menulis, bermunculan juga komunitas membaca. Komunitas ini berorientasi untuk menumbuhkan kegemaran dan cinta membaca di lapis bawah melalui lapak baca dan sejenisnya. Mereka menyediakan buku-buku bagus dan edukatif yang bisa dibaca secara gratis. Di Indonesia, salah satu komunitas membaca yang kian diperhitungkan keberadaannya adalah Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) yang sudah memiliki berbagai cabang dan ranting di seantero Nusantara.
Keberadaan komunitas membaca seharusnya dipandang sebagai akses penting untuk memaksimalkan perjuangan literasi yang dirintis lewat gerakan menulis. Mereka profesional dan tanpa pamrih menggugah kesadaran membaca masyarakat. Artinya marilah kita bersinergi, dalam arti kata saling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai hasil lebih besar. Sinergi adalah hubungan kerjasama yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas.
Melalui sinergi, kerjasama dari paradigma yang berbeda akan mewujudkan hasil lebih besar dan efektif. Dengan bersinergi, kita juga belajar untuk saling menghargai perbedaan gagasan dan pendapat, serta bersedia saling berbagi. Bersinergi tidak mementingkan diri sendiri, namun berpikir ‘win-win solution’, tidak ada pihak yang dirugikan atau merasa dirugikan, dan tidak ada yang merasa lebih besar atau membesarkan diri.
Konsep sinergi adalah proses yang harus dilalui masing-masing pihak, butuh waktu dan konsistensi. Rasa saling percaya adalah keharusan sehingga terbangun sebagai kerjasama kreatif. Hendaknya dalam konsep ini hindari merasa eksklusif, menilai buruk pihak lain, dan bertugaslah sesuai tupoksi masing-masing. Bukankah salah satu definisi penting sinergi adalah bagaimana menjadikan perbedaan sebagai suatu kekuatan bersama untuk mencapai hasil yang terbaik.
Kelompok kerja atau teamwork terbaik hanya bisa diwujudkan apabila setiap anggota kelompok memahami bahwa mereka semua melangkah menuju tujuan yang sama, dan dalam upaya untuk mencapai sasaran bersama. Mudah-mudahan momentum Hari Guru Nasional 2019 ini dapat kita jadikan sebagai titik awal bersinerginya komunitas menulis dan membaca demi tujuan yang sama, yaitu meningkatkan gairah literasi di Indonesia.
Salam literasi!
Penulis adalah seorang guru, anggota Ikatan Guru Indonesia, dan pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Riau
(Diolah dari berbagai sumber)


Komentar Via Facebook :