Tawaran solusi tepat untuk Riau Merdeka asap
RANAHRIAU.COM- 17 September 2019 lalu telah terjadi demonstrasi oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Kota Pekanbaru. Mereka menuntut agar pemerintah mengusut tuntas kasus asap yang terjadi hampir setiap tahun di Provinsi Riau sejak 1997. Namun repitisi aksi dengan harapan mendatangkan simpatik pemerintah pusat dan daerah ini ternyata tak berjalan sesuai rencana. Demonstrasi tersebut berakhir ricuh.
Hal ini tentu saja dipicu oleh banyak hal, salah satunya karena komunikasi yang tidak lancar. Saya kemudian menyimpukan bahwa ada kesamaan antar dua pihak yang terlibat dalam kericuhan pada saat demonsrasi. Kesamaannya adalah sama-sama kurang dalam hal memberikan umpan balik terhadap masing-masing keinginan. Barangkali mereka lupa bahwa aturan pertama dalam berkomunikasi adalah mendengarkan, bukankah rumus komunikasi efektif adalah menunjukkan dengan sungguh-sungguh bahwa anda tertarik dengan apa yang sedang dikatakan oleh lawan bicara, sehingga lawan bicarapun akan berbuat demikian terhadap anda.
Namun, tak ada manusia yang komprehesif, sehingga maklum saja jika tidak semua orang yang pada saat itu berada di lapangan memiliki kecerdasan humaniora mendalam yang dimiliki oleh rata-rata komunikator handal yang mampu bicara dengan siapa saja, dimana saja dan dalam kondisi apa saja secara efektif, sehingga tidak akan muncul kericuhan. Proses komunikasi dilapangan saat demonstrasi sering terhambat, yang ingin ditemui dan yang justru ditemui oleh demonstran dilapangan bukanlah key man atau representasinya dan tak pula ada yang menyampaikan bahwa selain key man maka tidak satupun yang memiliki otoritas untuk memutuskan apapun terkait tuntutan demonstran. Disisi lawan bicara ketidakpastian tentang siapa pembuat keputusan akan memakan lebih banyak akal sehat yang menyebabkan proses komunikasi menjadi tidak mudah sehingga besar kemungkinan mereka akan melakukan upaya desakan terhadap keinginannya.
Terkait bencana asap di Provinsi Riau, betul jika ini menjadi tanggung jawab kita bersama, sifatnya konkuren. kita dapat berkontribusi sesuai porsi diri. Mengutip statement salah satu dosen Hubungan Internasional Universitas Abdurrab yang konsern terhadap masalah asap, Alfajri, S.Ip., MIA bahwa dibutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk membuat Riau merdeka Asap.
Pihak-pihak tersebut disingkat menjadi A B C G I M (Akademisi yang harusnya terus memberikan analisis dan kritiknya terhadap kasus asap, Business (Big Corporations) mengedepankan 3P - people planet profit bukan profit profit profit, Civil Society, Goverment- merangkul semua pihak dan sebagai pembuat kebijakan, Individual/influencer dan yang terakhir Media - memiliki content antisipasi bencana asap sejak sebelum asap muncul, sehingga sifatnya tidak melulu reaktif.
Pasca demonstrasi akan Selalu ada saja orang yang menciptakan ketegangan dengan gaya konfrontasi tanpa mau peduli pada transformasi yang dialami oleh demonstran yang menuntut usut tuntas kasus asap di lapangan.
Pandangan masyarakat bahwa tindakkan yang paling benar terkait dengan bencana asap ini adalah dengan ikut turun memadamkan api di lahan yang terbakar atau turun kejalan untuk bagi-bagi masker perlu juga dicermati. Mengingat aktivitas yang berkutat "di hilir" semacam ini sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat Riau. Toh, api dan asap kembali datang dan pasca itu terus bermunculan perkebunan baru. 22 september 2019 jam 20.00 wib konsentrasi PM10 di Pekanbaru mencapai level ambang batas bahaya. Yang menurut air visual bahkan telah mencapai angka 800. Untuk itu perlu dibangun mindset baru agar ada upaya pencegahan, memaksimalkan langkah-langkah "di hulu", membangun budaya peduli lingkungan sejak dini agar generasi yang kelak menjadi pemimpin daerah dan bangsa ini memiliki dasar kemanusiaan dalam kaitannya dengan konsesi lahan.
Penulis : Suci Shinta Lestari,S.Sos.,M.I.K - Ka.Bag Humas Univ. Abdurrab


Komentar Via Facebook :