DR. Elviriadi : Berat-lah Pak Jokowi Merubah Asap Riau
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Asap yang tak kunjung berkurang di Sumatera khususnya Riau membuat Presiden Jokowi berencana kembali kunjungi Riau. Menyikapi informasi kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu, Pakar Lingkungan Nasional DR. Elviriadi tampak berkomentar santai.
Kepada wartawan RanahRiau.com, Ahad (15/9/19) ia menyatakan kebakaran hutan dan lahan di Riau dan Sumatera pada umumnya terkait sistem kebijakan tata kelola hutan masa lalu yang sudah "terkunci" sehingga sulit ditangani Presiden Jokowi.
Ketika wartawan menanyakan seperti apa tantangan berat dimaksud, Ketua Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah itu menyebut soal penguasaan rawa gambut dan hutan yang tak logis, "Ah berat berat, saya kira Pak Jokowi mungkin sulit menangani asap kami orang Melayu Riau. Karhutla ini terkait politik lingkungan masa lalu yang sudah terkunci rapat", ujarnya.
Aktivis 98 itu juga mengungkapkan lebih lanjut, "Ya, masyarakat awam apalagi aktivis kan dah tau, asap mengepul inikan karena penjarahan gambut Riau, nah ini kan berat. Pak Jokowi juga waktu ke kampung saye Sungai Tohor sampai bilang Karhutla ini karena monokultur yang massif dilahan gambut", ungkapnya.
Tapi apa yang terjadi, tambah Elv, evaluasi dan pengetatan eksploitasi gambut kandas ditengah jalan. "Hasilnya, gambut mengering dan Karhutla memakan korban ISPA belasan tahun lamanya," protes Pengurus LAM Riau itu.
Kepala Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu menyarankan agar Pemerintah Pusat khususnya Presiden Jokowi merestrukturisasi penguasaan aset rawa gambut yang sekarang melawan fitrah alam.
"Kalau mau asap ini tuntas, Pak Jokowi harus rombaklah struktur kepemilikan rawa gambut Riau, tapi resiko politik sangat riskan. Beratlah, kalau Ahmadinejad atau Hugo Chaves mungkin mau, tapi tipikal politisi indonesia tak ade-lah yang gitu," pungkas tokoh muda Meranti yang istiqamah gundul kepala demi nasib hutan Riau.


Komentar Via Facebook :