Feminisme, Nusantara, dan Islam
RanahRiau.com- Tulisan
ini berawal dari kegiatan Ekspedisi Feminis Nusantara, yang diinisiasi oleh komunitas
feminis yang lahir dari kesadaran masyarakat muda perempuan (Jakarta Feminist Discussion). Para peserta
yang hadir membuat saya begitu gembira, mereka ada yang menamakan dirinya kelompok
Ulama Perempuan, kelompok feminis Indramayu, dan bahkan yang hadir dari berbagai
wilayah seperti Tegal, Jogjakarta, Solo, bahkan ada yang dari Sumatra Barat.
Mereka semua bukan perempuan-perempuan yang dilabeli “aktivis” gerakan
perempuan sejak tahun 1998, mereka adalah perempuan-perempuan yang mencari
pengetahuan baru tentang feminisme. Saya langsung melihat bagaimana mereka
memiliki visi yang baru, gelombang gerakan perempuan di Indonesia yang lahir
setelah era yang saya alami. Saya sangat terinspirasi dengan gagasan mereka
yang menamakan judul kegiatan sebagai eksplorasi Feminis Nusantara,
membangkitkan keinginan saya sejak lama tentang penemuan Feminis Nusantara
dalam bentuk studi literatur dan lapangan.
***
Feminisme
selama ini hanya dilihat sebagai sebuah ideologi gerakan yang memperjuangkan
keadilan, kesetaraan gender dan hak-hak perempuan. Padahal, feminisme juga
sebuah bangunan pengetahuan yang menjadi antitesa teori-teori filsafat, politik
dan sosial, yang selama ini tidak mewakili kehadiran dan kehidupan perempuan
yang tentunya sangat berbeda dengan laki-laki. Pengetahuan filsafat-politik-budaya-
hukum-sosial bagi feminis ditemukan terlalu bias laki-laki, semua diukur
berdasarkan laki-laki bahkan dalam hal yang sifatnya esensialis (ketubuhan),
pemikiran maupun eksistensialis (kesadaran), termasuk dalam hal sejarah, moralitas
dan nilai-nilai budaya. Pengetahuan yang minus perempuan membuat perempuan
kesulitan untuk mengurai dirinya sendiri dan kehidupannya, sulit untuk melacak
siapa dirinya dalam kehidupan, baik dalam masalah-masalah pribadi maupun publik.
Atas pengetahuan tersebut, feminisme membangun pengetahuan yang disebut sebagai
Feminist/Gender Studies atau Woman’s Studies, atau Studi Feminis yang
menggunakan teori-teori feminis sebagai alat analisis filsafat-sosial-politik-hukum-budaya
untuk menemukan kehidupan manusia perempuan pada jalan yang lebih adil.
Pengetahuan
atau studi feminis ini kemudian terbagi menjadi berbagai aliran (bukan seperti
aliran kepercayaan/agama, sebutan aliran untuk menunjukkan paradigma berpikir).
Aliran atau paradigma feminis ini lahir dari berbagai macam gelombang zaman.
Sebutan gelombang adalah untuk menjelaskan konteks kondisi situasi dunia dimana
paradigma feminis itu lahir, semisal feminis liberal, feminis radikal, feminis sosialis-marxist
lahir pada gelombang pertama paska perang dunia II, kemudian feminis
psikoanalis, feminis eksistensialis, lahir karena manusia mulai memikirkan
tentang perkembangan dirinya, kemudian feminis postmodern dimana Bahasa dan Media
serta Budaya Pop berkembang pesat di televisi, majalah populer, koran, dll.
Sementara eco-feminist, feminis global/kultural/multicultural, dan post-feminis
lahir dimana globalisasi mengubah tata nilai dunia, termasuk tentang kehancuran
alam/lingkungan, krisis sumber-sumber energi yang berdampak pada perempuan.
Sementara feminis global/kultural dan multikultural mengingatkan bahwa terdapat
tatanan dunia yang tidak adil paska perang dingin seperti sebutan Negara Dunia
Ketiga, Negara Berkembang versus Negara Maju, yang membuat tatanan dunia
berkelas-kelas yang satu superior dan yang lain menjadi inferior. Situasi
tatanan dunia ini berdampak pada nasib perempuan yang hidup di negara-negara
tertentu dimana pemerataan ekonomi dan sumber energi dalam tatanan dunia
membuat sebagian wilayah dunia mengalami kemiskinan dan kelaparan, sebagian
lagi kaya raya. Yang kaya raya memiliki nilai mata uang yang tinggi disebut “Negara
Maju” mengeksploitasi “Negara Berkembang” melalui perjanjian-perjanjian moneter
internasional dan hutang piutang yang menimbulkan ketimpangan.
Kita
perlu mengakui bahwa bangunan ilmu pengetahuan baik sosial, politik, budaya, dll.
yang kita pelajari selama ini memang berangkat dari teori-teori Barat, maka
feminis –justru-- memberikan kontribusi dan kritik tajam yang sangat penting terhadap
pengetahuan Barat. Pengetahuan feminis ini lahir dari para pemikir dan ilmuwan perempuan,
baik dalam bidang filsafat, sosial, politik, hukum dan budaya. Mereka melakukan
antitesa berangkat dari paradigma kritis. Feminis membangun kritik, yang serta
merta menciptakan epistemologi baru. Banyak juga para saintis perempuan yang memberikan
kontribusi meskipun nama mereka kemudian ditenggelamkan oleh para bapak-bapak dalam
kanon-kanon saintifik. Penemu-penemu teknologi minus perempuan. Para perempuan
bahkan harus menyamarkan namanya untuk menulis jurnal ilmiah.
Pada
perkembangannya, pemikiran atau teori-teori feminis tidak semata-mata lahir
dari Barat, tetapi lahir dari negara-negara Asia, seperti tema-tema tentang
lingkungan hidup, multikulturalisme, kritik terhadap kapitalisme dan
globalisasi serta nilai-nilai agama dalam hal kemanusiaan perempuan, terutama
pada paradigma feminis gelombang ketiga. Feminis menjadi sebuah pengetahuan
yang mengglobal, tidak lagi berangkat dari wilayah atau negara/bangsa tertentu.
Tatanan dunia terutama dalam hal teknologi informasi dan komunikasi dengna
sendirinya menggugurkan soal Barat dan Timur. Gerakan-gerakan Eco-Feminist
berjamuran di berbagai negara berkembang, yang menyadari bahwa sumber daya
alamnya telah direbut dan dirusak untuk kepentingan negara-negara industri, dan
mengakibatkan hilangnya keseimbangan bumi. Para perempuan ada yang melakukan
gerakan memeluk pohon, atau berdzikir memblokade para pengusaha tambang agar
tidak dapat naik dan mengebor gunung, serta gerakan-gerakan lingkungan lainnya.
Bagiamana dengan Indonesia?
Di
Indonesia, sangat sulit sekali menemukan tradisi berpikir. Tradisi membaca dan
menulis sangat langka. Melalui menulis dan membaca, maka cara berpikir manusia
menjadi terstruktur dan sistematis, mudah dipelajari, disusun dan disebarkan.
Tradisi atau pemikiran dan intelektualisme apapun yang berkembang di Indonesia tetap
saja lahir dari Barat. Sebagian memang lahir dari pemikir-pemikir atau
intelektual Islam, tetapi hanya dalam bidang-bidang keilmuan tertentu.
Di
luar semua itu, bukan berarti Indonesia tidak memiliki apa-apa. Bukan berarti
Indonesia itu bodoh. Di Indonesia, ukuran intelektualitas dan pemikiran bukan
menjadi hal yang unggul/utama. Indonesia memiliki sejarah Nusantara (dahulu
bernama Nusantara) yang sudah tenggelam dalam cerita-cerita kejayaan dan
kesaktiannya, dan dianggap semata-mata cerita mistik dan dongeng. Indonesia
dalam wujud Nusantara memiliki keilmuan yang berbeda. Dia tidak seperti yang
kita ketahui saat ini. Kita semua, para keturunan leluhur Nusantara memang
kehilangan jejak tentang hal-hal tersebut dan susah payah untuk menemukannya
kecuali mendengar dari tradisi lisan (cerita dari mulut ke mulut), dan sampai
hari ini sudah mulai punah.
Pada
saat Indonesia masih disebut sebagai Nusantara, atau bahkan lebih dahulu lagi
disebut “Sunda Besar” (Sunda Land), jauh
sebelum Jawa berkuasa, memiliki banyak catatan penting. Namun sayang sekali
catatan tersebut berserak dan tersembunyi dalam lipatan dan tumpukan sejarah
lain yang lebih modern yaitu sejarah kolonialisme. Teks-teks sejarah Nusantara
hanya tersimpan di museum-museum, atau di negara lain (Belanda, Prancis,
Spanyol, Portugis, Inggris), atau bahkan teks-teks berupa surat, serat, babad,
tambo, ataupun arca, dijual sebagai barang antik, atau dianggap hanya menyebar
paham mistik. Museum-museum sejarah masa lampau Nusantara begitu lusuh, jorok
dan berbau tengik, tidak terawat, diabaikan, hanya dikunjungi untuk kepentingan-kepentingan
mistik. Padahal pengetahuan Nusantara sangat kaya raya dan kita tidak punya
perhatian sama sekali terhadapnya, misal soal kemaritiman, tata kelola
pemerintahan di masa kerajaan, bahkan arsitektur, cara mengelola sumberdaya
energi dan alam, bahkan bagaimana tokoh-tokoh perempuan di masa itu banyak
berpengaruh. Kita para keturunan leluhur Nusantara sudah dilupakan oleh sejarahnya
sendiri. Seperti anak-anak yang kehilangan orangtua, kehilangan nenek moyang. Terdapat
sejarah yang terputus dan ditenggelamkan, untuk kepentingan-kepentingan
penguasa pada saat penjajahan.
Kekayaan
sejarah catatan Nusantara dalam bentuk prasasti, serat, babad, kitab, tidak
menjadi perhatian khusus bagi nilai-nilai yang dianut oleh Bangsa Indonesia.
Padahal, dalam catatan-catatan tersebut banyak sekali yang dapat kita temukan, dibalik
metafor-metafor dalam sastra tinggi, budi pekerti. Istilah “Suwung”, “Kasunyatan”,
“Sunya Ragi”, seluruhnya adalah pelajaran tentang keheningan/kekosongan, olah
rasa, yang menunjukkan teknologi berbeda dari olah fikir. Orang sering
menjuluki olah rasa ini sebagai ilmu kesaktian, dan (lagi-lagi disebut mistik),
padahal mengajarkan manusia Nusantara untuk berkoneksi dengan alam semesta
(air, tanah, udara dan api) serta pada Tuhan dan Semesta. Teknologi olah rasa
ini dimusnahkan dan hilang begitu saja, kalaupun dibicarakan dia akan dianggap remeh
dan tidak rasional/tidak modern.
Bahasa
lokal yang luhur (tinggi) contoh Bahasa Saksekerta, Palawa, dll. Diciptakan melampaui
hal-hal fisik (sebut saja dangkal). Penuh dengan kode-dekode, yang rahasia dan
tidak dapat begitu saja diakses oleh orang-orang biasa. Di dalam teks-teks
babad, serat, kitab, bahkan dapat ditemukan Raja-Raja Perempuan dan
ksatria-ksatria perempuan. Teks-teks yang tersembunyi dalam lipatan sejarah
yang mengubur cerita-cerita perempuan tersebut perlu dibangkitkan kembali untuk
menjadi pengetahuan dasar perempuan Nusantara. Hal ini bukanlah tidak mungkin
untuk diteliti bahkan dapat dengan menggunakan teori-teori feminis atau bahkan
membangun teori feminis yang baru. Dalam sebuah pidato 20 tahun reformasi
bahkan Karlina Supelli mengatakan “bahkan sebuah Babad Sunda itu belum tentu
bisa kita katakana dongeng, sampai kita mampu membuktikannya bahwa itu dongeng.”
Adalah perkataan yang keluar dari seorang feminis saintis, filosofis.
Saya
akan memberikan beberapa contoh saja cerita-cerita tertentu tentang Raja dan
Ksatria Perempuan masa Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Cerita-cerita ini sekedar
memantik keingintahuan kita pada sejarah masa lalu yang sama sekali hilang, dan
menggunakan analisis feminis. Mengenai kebenaran sejarah tersebut tentu perlu
dilakukan penelitian yang sangat serius. Tetapi bahwa teks-teks sejarah adalah
menjadi bukti awal dari pengetahuan itu sendiri.
Tribhuwana Tunggadewi-Majapahit
Di
masa kajayaan Majapahit, kita tahu bagaimana Gayatri, istri dari Raden Wijaya,
Raja Majapahit pertama, bekerja keras dan gigih mempersiapkan Tribhuwana
Tunggadewi, putri pertamanya untuk menjadi seorang kepala pemerintahan/Raja
Majapahit.
Tribhuwana
Wijayatunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun
1328-1351. Dari prasasti Singasari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri
Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. Nama asli Tribhuwana
Wijayatunggadewi (atau disingkat Tribhuwana) adalah Dyah Gitarja. Ia merupakan
putri dari Raden Wijaya dan Gayatri. Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik
takhta atas perintah ibunya (Gayatri) tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang
meninggal tahun 1328. Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan
wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343
Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian
seluruh Bali. Pada waktu itu
sang Ibu, Gayatri menjadi pendeta Buddha.
Menurut
Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada
tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton
terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi
panglima penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai
panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.
Ratu Kalinyamat-Jepara
Kanjeng
Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono, lahir rabu pahing, bulan Ramadhan 1514.
Putri dari Kanjeng Sultan Trenggono, Sultan Demak (1504-1546) dengan Roro
Purbayan. Retno Kencono diberi kekuasaan memimpin Jepara pada Tanggal 10 April
1527 dan bergelar TrusKaryo Tataning Bumi karena diberi amanat oleh Fatahilah
yang akan pergi menyerang Portugis di Sunda Kelapa yang akhirnya menjadi Sultan
disana 22 Juni 1527. Retno Kencono juga resmi disahkan oleh Kanjeng Sultan
Trenggono, ayahnya. Sehingga pada 1 Juni 1527 dimulai pembuatan Keraton di
Kalinyamatan, Jepara. Pada 12 Agustus 1527 Retno Kencono melantik Pejabat
Keratonnya. Tahun 1528 Kanjeng Ratu Kalinyamat pergi ke Cirebon. Disana ia
bertemu dengan perempuan yang sangat sakti dengan aliran Tauhid Hakikat
‘’Manunggaling Kawulo Gusti’’. Perempuan asal Aceh keturunan Mesir, yang
bernama Nur Hasnah, berjuluk Syekh Siti Jenar, dengan rambut bersanggul di atas
kepala dan berkerudung warna kuning Emas banyak disangka sebagai rambut jenggot
seorang laki-laki (ini masih dalam berbagai versi).
Di
bagian belakang istana Kalinyamat digunakan sebagai tempat berdakwah Kanjeng
Syekh Siti Jenar dalam menyebarkan Tauhid Hakikat. Dan Kanjeng Ratu Kalinyamat
adalah murid kesayangan Syekh Siti Jenar. Kanjeng Ratu Kalinyamat sangat
menyukai kerudung warna merah.
Sebagai
seorang yang beraliran Tauhid Hakikat. Kanjeng Ratu Kalinyamat mejadikan
Istananya hanya dihuni perempuan. Patih yang bernama Sri Rahayu Anjani.
Panglima Perang, Sri Rekso Arum. Juru masak, Sri Anjani Kerto Rahayu. Algojo,
Sri Endang Lesmono. Telik Sandi, Rinjani. Dayang Retno Dumilah, Roro Sumangkin.
Guru spiritual, Syekh Siti Jenar. Cuma telik Sandi Panji Lanang, satu-satunya
pria. Namun kerjanya di luar Gerbang Keraton. Hewan-hewan peliharaan keraton
hampir semuanya jantan. Ada harimau tunggangan bernama Penggolo. Burung Garuda
Emas, Kera Surya kencono, Tikus Piti, Kidang Kencana, Naga Kencana, Kerang
Cangkang Wojo, Keong Buntet, dan ditambah lagi Bunga Kenanga Putih kesukaan
Kanjeng Ratu Kalinyamat. Kedelapan hewan dan ditambah satu Bunga Kenanga Putih,
dilambangkan dengan adanya Tundan Songo. Tundan Songo saat ini adalah tangga
masuk menuju Astana Mantingan.
Keraton Mantingan, di Mantingan
Sultan
Trenggono memberikan tanah dan biaya untuk mendirikan Keraton Islam di
Mantingan kepada Sunan Hadlirin dan Wali Songo. Sunan Hadlirin juga ditunjuk
Sebagai Sultannya. Dan diberi gelar “Sultan Hadlirin”. Persaingan penyebaran
Agama sangat ketat antara Wali Songo yang berpadepokan di Kasultanan Mantingan
dengan Tauhid Hakikat yang bermarkas di Keraton Kalinyamat. Selama tiga tahun
para Wali mendirikan Keraton. Di depan keraton ada pagar yang dihuni 10 ekor
Kerbau. Dikandang kerbau juga terdapat genangan air yang disebut Belik yang
tidak pernah kering. Sehingga pada masa itu, Keraton Mantingan disebut Keraton
Kandang Kerbau. Kanjeng Ratu Kalinyamat penasaran dengan Sultan Hadlirin yang
diberi kekuasaan baru oleh ayahnya. Kanjeng Ratu Kalinyamat sering berpura-pura
menyerang Kesultanan Mantingan dengan alasan urusan perbedaan agama, agar bisa
bertemu dengan Raden Toyib. Setelah bertemu, Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Sultan
Hadlirin sama-sama jatuh hati. Setelah Sunan Hadirin menikah dengan Ratu
Kalinyamat maka Kesultanan Mantingan dan Kerajaan Kalinyamat melebur menjadi
Kesultanan Kalinyamat dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Keraton Astana
Mantingan. Abdul Jalil, Kerabat Kanjeng Sunan Hadlirin, dijadikan Telik sandi
Keraton Jepara bagian utara. Telik sandi bagian selatan dipercayakan pada
seorang permpuan bernama Sanjang yang saat ini Makamnya di desa Petekeyan,
Tahunan, Jepara.
Ratu
Kalinyamat terkenal tegas tetapi Ratu Kalinyamat memiliki hati yang lembut,
karena Ratu Kalinyamat memiliki beberapa hewan peliharaannya. Hewan-hewan
peliaraan Keraton Kalinyamat hampir semuanya jantan, yaitu:
Harimau
Penggolo (Harimau Tunggangan Ratu Kalinyamat, juga tunggangan Sultan Hadlirin)
Macan
Klawuk
Burung
Garuda Emas
Kera
Surya Kencono
Tikus
Piti
Kidang
Kencana
Naga
Kencana
Kerang
Cangkang Wojo
Keong
Buntet
Kuda
Kencono Putih
Kuda
Kencono Wangi
Masa
Keemasan
Kebesaran
Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai
(Rainha de Japara, senhora paderosa e rica) yang berarti Ratu Jepara, seorang perempuan
kaya dan sangat berkuasa. Selama 30 tahun kekuasaannya (1549-1579), ia berhasil
membawa Jepara ke puncak kejayaannya. Meski pada hakikatnya Jepara merupakan
bagian dari Kesultanan Demak, tetapi secara de facto Jepara memiliki kekuasaan
dan kewibawaan paling tinggi. Pada waktu itu Kesultanan Demak dipimpin oleh
Pangeran Pangiri, putra bungsu Sultan Trenggana. Tapi pengaruh Demak tidaklah
sehebat pengaruh Jepara. Hal ini disebabkan karena Jepara sangat kuat dalam
bidang ekonomi dan militer.
Ratu
Kalinyamat berhasil menghidupkan kembali perekonomian Jepara yang telah porak
poranda akibat perang saudara yang berkepanjangan. Ia menjadikan pelabuhan
Jepara sebagai pelabuhan transit bagi perdagangan nusantara. Saat itu Pelabuhan
Jepara sangat ramai oleh pedagang-pedagang dari Ambon yang membawa
rempah-rempah. Jepara, Banten, Semarang mernjual beras bagi para pedagang
Ambon. Sedangkan Ambon menjadi produsen rempah-rempah bagi seluruh kerajaan di
Jawa. Tercatat pedagang-pedagang Aceh, Malaka, Banten, Demak, Semarang, Tegal,
Bali, Makassar, Banjarmasin, Tuban dan Gresik turut meramaikan pelabuhan Jepara.
Dapat dikatakan Pelabuhan Jepara menjadi tempat transaksi perdagangan berskala
internasional. Ratu Kalinyamat pun memungut cukai bagi setiap kapal yang
bertransaksi di Pelabuhan Jepara. Hasil perdagangan beras dan cukai tersebut
menjadikan Jepara sebagai Kerajaan yang makmur, kaya raya.
Dengan
kekayaannya, Ratu Kalinyamat membangun armada Laut yang sangat kuat untuk
melindungi kerajaannya yang bercorak maritim. Sebagai Kerajaan Maritim yang
bercorak Islam, Kerajaan Jepara sangat dihormati dan disegani oleh
kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Kekuatan armada laut Kerajaan Jepara sudah
tersohor di seluruh nusantara. Banyak kerajaan-kerajaan lain yang meminta
bantuan armada laut Jepara untuk melindungi negerinya. Saat itu Ratu Kalinyamat
sangat berpengaruh di Pulau Jawa. Ia adalah Ratu yang memiliki posisi politik
yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya raya. Ia menjalin hubungan diplomatik
yang sangat baik dengan Kerajaan-kerajaan Maritim Islam lainnya. Jepara
menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Johor, Kesultanan Aceh, Kesultanan
Banten, Kesultanan Cirebon, Ambon dan Kesultanan Demak.
Ratu
Kalinyamat tidak mempunyai anak oleh karena itu kemenakannya, yang dijadikan
anak angkat, bernama Pangeran Jepara (anak Sultan Maulana Hasanudin dari
Kesultanan Banten), menggantikannya sebagai penguasa Jepara. Pangeran, yang
diberitakan pernah berusaha menduduki tahta Banten dan berhasil menduduki
Bawean ini, berkuasa sampai tahun 1599. Kekuasaannya berakhir karena pasukan
Panembahan Senopati dari Mataram datang menyerbu. Jepara diduduki dan kota
Kalinyamat dihancurkan. Tidak ada kabar mengenai nasib keluarga penguasa dan
orang-orang penting Jepara waktu itu. Sejak saat itu pula Jepara dipimpin oleh
pejabat setingkat bupati yang ditunjuk oleh Kesultanan Mataram.
(Sumber
dari variasi Wikipedia yang saya pilih adalah yang telah mencantumkan
referensi/sumber utama misalnya teks dari serat atau babad dan arca tertentu).
Nyi Mas Panguragan Alias Ratna
Gandasari Alias Nyi Ratu Mas Gandasari
Nyi
Ratu Mas Gandasari adalah salah seorang perempuan sakti asal Aceh yang
menyebarkan ajaran agama Islam di Cirebon. Nyimas
Gandasari dalam sejarah Cirebon dikenal sebagai murid sunan Gunung Jati yang
dikisahkan mewarisi Ilmu Agama dan kedigjayaan dari gurunya, akan tetapi beliau
selama hidupnya memilih menjadi prawan sunti, pernah memang suatu ketika Nyimas
Gandasari mengadakan sayembara dalam bentuk duel adu kesaktian untuk mencarai
Suami, tapi tak ada satupun yang mampu menandinginya.
Kesaktian
Nyimas Gandasari sebenarnya bukan tanpa tanding, terbukti dari dikalahkannya
Nyimas Gandasari oleh seorang pemuda Gondrong dari Mesir, namun pemuda gondrong
tersebut rupanya bukan tipe pria idamannya.
Selain
dikenal dengan nama Gandasari, beliau juga dikenal dengan nama Nyimas Panguragan,
Panguragan sendiri merupakan nama Desa/padukuhan dimana beliau tinggal. Panguragan
juga merupakan wilayah kekuasaannya yang dihadiahkan oleh Sultan Cirebon atas
jasa-jasanya. Sementara dalam sejarah Indramayu, Nyimas Gandasari dipercayai
juga sebagai Nyi Endang Darma, Salah satu pendiri Indramayu.
Nyimas
Gandasari selama hidupnya pernah menjadi Panglima Perang Kerajaan Cirebon, ia
merupakan satu-satunya panglima perang perempuan dalam sejarah berdirinya
Kerajaan Cirebon, jasanya yang paling menonjol bagi kedigjayaan Cirebon adalah
keberhasilannya membobol benteng pertahanan Kerajaan Sunda Galuh. Sehingga
berkat jasanya itu Cirebon kemudian dapat menaklukan Galuh.
Kuat
dugaan, Nyimas Gandari dihadiahi wilayah kekuasaan yang sekarang dikenal dengan
desa Panguragan itu setelah keberhasilannya menaklukan Galuh. Hari ini makam
atau kuburan Nyimas Gandasari dapat ditemui di desa Panguragan Kab Cirebon.
Makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di wilayah
Cirebon.
Hingga
akhir hayatnya, Nyimas Gandaswari dikisahkan tidak memiliki suami, oleh karena
itu hingga hari ini beliau tidak mempunyai keturunan. Begitulah memang pilihan
hidup Nyimas Gandasari lebih nyaman menjadi seorang Prawan Sunti.
Prawan
Sunti ini istilah yang ada di Gua Meditasi Sunan Gunung Jati Cirebon (Gua
Sunyaragi), yang mitosnya melarang anak perawan menyentuh gua tersebut karena takut
tidak laku. Padahal, justru Prawan Sunti adalah wujud kesaktian seorang Ksatria
Perempuan Nyimas Gandaswari.
Dalam
Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon yang disusun oleh Sulendraningrat tahun
1984, Sunan Gunung Jati berkata kepada Nyi Mas Gandasari, “Walaupun engkau
adalah perempuan, tetapi engkau adalah menjadi Prajurit Awilya (hal. 60). Nyi
Mas alias Ratna Gandasari tidak mau bersuami kecuali pada yang lebih sakti,
tetapi itupun Nyi Mas Gandasari akhirnya memilih untuk tidak menikah.
Penutup
Kisah-kisah
perempuan-perempuan berpengaruh di Nusantara di atas sering tidak terlihat
karena tidak terangkat, padahal dalam teks-teks babad, serat, ataupu prasasti
seringkali dikisahkan. Melalui kisah-kisah tersebut, kita dapat melakukan
analisis sosial/budaya/politik melalui teori-teori feminis, sehingga kita dapat
melahirkan catatan baru tentang feminis Indonesia yang berangkat dari sejarah
masa lalu. Sebab teori-teori feminis bukan semata-mata ideologi melainkan juga
perangkat analisis yang dapat menemukan hal yang baru dalam narasi-narasi
pengetahuan perempuan. Dalam sejarah-sejarah Nusantara, pengaruh berbagai
penyebaran agama menjadi sangat kontekstual diantaranya Hindu-Budha, Penghayat,
dan juga Islam, sangat kental dengan kehadiran tokoh-tokoh perempuan.
Kisah
Gayatri, Tribhuwana Tunggadewi, Ratu Kalinyamat, Nyi Mas Panguragan, adalah
tiga tokoh yang bisa ditemukan yang saya yakin masih banyak teks-teks lain yang
bisa kita ungkapkan disini. Ketiga tokoh yang saya angkat tersebut, menunjukkan
bahwa: kepahlawanan perempuan sangat mungkin diantara kesulitan mereka diantara
Raja-Raja pria, bahkan dari para Wali dan Sunan, yang diantaranya saya beri
contoh yang paling ringan: mempertanyakan status perkawinan, tetapi pada
akhirnya hal itu menjadi tidak masalah. Ratu Kalinyamat sendiri telah
menentukan pilihannya kepada Sultan Hadlirin tanpa ada yang memerintahnya.
Sementara Tribhuwana Tunggadewi memimpin dengan didampingi suami, juga menjadi
hal yang tidak masalah atau hal yang menjadi mungkin. Teks-teks inilah yang
menjadi kepentingan analisis feminis untuk memberikan segala jawaban
kesulitan/keterkungkungan perempuan dari budaya patriarkhi, yang memungkinkan
mereka mendapatkan daya juang dan keluar dari kesulitan hidupnya melalui
sejarah leluhurnya.
Ketiga
tokoh tersebut juga menunjukkan bagaimana pengaruh masuknya Hindu-Budha dan
Islam dalam perkembangan sejarah Nusantara, yang sangat berbeda dengan
ajaran-ajaran agama di negara lain, dalam hal ini saya katakan, tidak dapat
lepas dari akulturasi budaya Nusantara sebelum ajaran-ajaran tersebut datang.
Penulis : Mariana Amiruddin: Seorang penulis, lulusan Magister Humaniora Kajian Gender Universitas Indonesia


Komentar Via Facebook :