Lonjakan Relawan Militer Thailand: Nasionalisme Menguat, Ekonomi Melemah?

Lonjakan Relawan Militer Thailand: Nasionalisme Menguat, Ekonomi Melemah?

Foto: ist

BANGKOK, RANAHRIAU.COM- Angka yang tak bisa diabaikan datang dari Thailand. Hampir 30.000 pria dilaporkan mendaftar sebagai relawan militer sepanjang 2026.

Lonjakan ini bukan sekadar statistik biasa, melainkan sinyal keras yang memantul dari dua dinding sekaligus: patriotisme yang mengeras dan ekonomi yang mengendur.

Data yang dilansir media setempat menunjukkan peningkatan hampir 50 persen dibandingkan tahun 2024. Kenaikan tajam ini memicu pertanyaan: apakah ini murni panggilan negara, atau justru pelarian dari sempitnya peluang hidup?

Sejumlah pengamat membaca fenomena ini sebagai efek domino dari memanasnya sentimen nasionalisme, terutama pasca bentrokan dengan Kamboja tahun lalu. Ketegangan itu seolah menyisakan bara yang belum sepenuhnya padam, lalu disiram angin retorika kebangsaan.

Namun, narasi patriotik bukan satu-satunya bahan bakar. Di balik seragam yang tampak gagah, terselip realitas ekonomi yang tak ramah. Lapangan kerja yang menyusut membuat militer tampil sebagai “pelabuhan aman”, stabil, pasti, dan menjanjikan kepastian di tengah kabut ketidakpastian.

“Nasionalisme memang berperan, tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa karier militer kini dipandang sebagai pilihan rasional di tengah tekanan ekonomi,” ujar analis politik Yuttaporn Issarachai.

Fenomena ini membuka ruang tafsir yang lebih luas: ketika negara memanggil, apakah rakyat datang karena cinta tanah air, atau karena tak ada lagi pintu lain yang terbuka?

Di titik ini, garis antara idealisme dan kebutuhan menjadi samar. Dan Thailand, mungkin, sedang berjalan di atas garis tipis itu.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :